Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Calon Guru Penggerak di Kota Palu Pamerkan Hasil Panen Belajar

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

PALU – Sebanyak 63 Calon Guru Penggerak (CGP) yang berasal dari berbagai sekolah di Kota Palu memamerkan sejumlah program maupun ide yang telah dan akan diterapkan di sekolah masing-masing. Berbagai program dan ide terkait peningkatan mutu siswa didik, ditampilkan dalam kegiatan Lokakarya Ketujuh Festival Panen Hasil Belajar.

Kegiatan yang digelar di salah satu hotel di Jalan Zebra, Palu Selatan tersebut, dihadiri Tim Monitoring Evaluasi (Monev), Roni Sahroni. Roni yang juga hadir sebagai Perwakilan Kemendikbud Ristek, menjelaskan apa yang didapatkan para guru dalam kegiatan Pendidikan Guru Penggerak (PGP) selama tujuh bulan terakhir, dipamerkan berbentuk Festival Panen Hasil Belajar.

“Hasil yang mereka dapatkan itu, diperlihatkan kepada Tim Kemendikbud para pengawas dan undangan lainnya di Festival Panen Hasil Belajar,” terang pria yang berdinas di Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Pendidikan Jasmani dan Bimbingan Konseling (P4TK Penjas-BK) Kemendikbud Ristek ini.

Kegiatan Festival Panen Hasil Belajar, kata dia, merupakan salah satu tahapan dalam Pendidikan Guru Penggerak. Lebih lanjut disampaikan, bahwa para CGP ini masih harus mengikuti pendidikan dua bulan lagi. “Nanti di lokakarya kesembilan, baru mereka ditentukan apakah layak dikatakan guru penggerak atau tidak. Tapi dari Festival Hasil Belajar ini sudah bisa kita lihat antusias CGP di Palu. Kami berharap semuanya yang ikut program ini bisa jadi guru penggerak,” terangnya.

Sebelum mengikuti pendidikan guru penggerak, para CGP sudah terseleksi dengan ketat. Mereka harus membuat esay, wawancara, simulasi belajar dan mengikuti sejumlah sesi pelatihan yang sudah memasuki bulan ketujuh. Sehingga, Roni optimis para peserta pendidikan guru penggerak ini, bisa jadi guru penggerak seluruhnya. “Kalau pun tidak jadi (guru penggerak), mungkin ada force majeure, kalau ikut pelatihan ini dengan sungguh-sungguh pasti bisa jadi guru penggerak,” kata Roni.

Lebih jauh dia menyampaikan, tujuan akhir dari lahirnya guru penggerak ini, bisa menjadi katalis atau mempercepat proses pendidikan di Indonesia ke arah yang lebih baik lagi. Sebagaimana program dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaaan, Nadiem Makarim atau yang akrab disapa Mas Menteri. Para guru penggerak diharapkan mencetak siswa-siswa yang hebat, namun tetap berkarakter yang baik dan merepresentasikan Pancasila. “Yakni beriman kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, berkebinekaan global, mandiri, gotong royong, bernalar kritis dan juga kreatif,” ungkapnya.

Sementara itu, Koordinator Kegiatan Festival Panen Hasil Belajar, Erik Ruben menyampaikan, kegiatan ini merupakan rangkaian lokakarya ketujuh. Yang memamerkan hasil karya nyata selama mengikuti pendidikan guru penggerak. Hasil nyata itu diimplementasikan di sekolah masing-masing. “Yang ditampilkan ini ada sharing program dan ide program, yang baru digagas, dan evaluasi program serta dampak positif bagi siswa, Kepsek dan guru-guru lainnya,” sebut Erik.

Masih menurut Erik, ada sekitar 63 Calon Guru Penggerak yang dibimbing oleh 11 orang pembimbing. Guru-guru ini berasal dari sejumlah sekolah di Kota Palu. Mulai dari tingkat PAUD hingga SMA. Khusus Kota Palu sendiri, merupakan Angkatan Kedua Pendidikan Guru Penggerak.

Terpisah, Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Palu, Abdul Hafid mengatakan, pendidikan di Kota Palu tampak selangkah lebih maju, dengan ditandainya beberapa guru yang ikut dalam pendidikan guru penggerak ini. Hal itu kata dia, menjadi kebanggaan Pemerintah Kota Palu. “Saya lihat sendiri, bagaimana ide-ide para guru yang mereka tuangkan setelah ikut pendidikan guru penggerak ini, bisa dicontoh sekolah-sekolah lain yang belum memiliki guru penggerak,” jelasnya.

Dia pun berharap, kedepan Pemerintah Pusat melalui Kemendikbud Riset bisa membuka kembali program pendidikan guru penggerak ini, agar semakin banyak guru-guru di Kota Palu menjadi guru penggerak. “Saya lihat sendiri tadi, guru-guru sudah berubah paradigmanya, di mana kalau dulu sering mencari kesalahan siswa, tapi berbeda kini. 10 menit sebelum belajar ada waktu mereka (guru) menggali kemampuan dan potensi peserta didik. Serta masih banyak ide-ide yang bisa diterapkan sekolah-sekolah yang ada di Palu,” tandasnya. (agg)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.