Buruh Kontainer Berkeras, Wali Kota Tak Ada Kompromi

- Periklanan -

Salah satu kontainer saat melintas di ruas Jalan Kota Palu, Jumat (25/8). (Foto: Mugni Supardi)

PALU – Buruh bongkar muat kontainer benar-benar kecewa terhadap sikap Wali Kota Palu yang tetap menjalankan aturan pelarangan angkutan container masuk kota pada jam-jam tertentu tanpa kompromi.

Koordinator Buruh Bongkar Muat Kontainer Kota Palu, Ilham pada aksi Rabu (25/10) menyatakan, sebagai pemilih wali kota saat pemilihan kepala daerah Desember 2015 lalu, dia mengaku pilihannya keliru. Karena apa yang diharapkannya tidak sesuai dengan yang dilakukan wali kota saat ini.

“Saya masih ingat betul jargonnya lalu itu. ‘Saya dengar, saya lihat, dan saya rasa’. Tapi sekarang sudah tiga kali kami rakyatnya ini melakukan demo untuk menuntut, agar mata pencaharian kami tetap ada. Tapi tidak pernah beliau pedulikan. Dilihat saja tidak, bagaimana mau didengar dan dirasakan apa yang kami rasa. Makanya sekarang, kami tantang Wali Kota untuk ketemu langsung dan adu argumen tentang aturan kontainer tidak boleh masuk kota,” kata Ilham tegas.

Terkait beredarnya isu tentang demo yang dilakukan para buruh yang ditunggangi dan dibiayai oknum, Ilham menegaskan, seluruh aksi yang dilakukan para buruh bongkar muat dan sopir, adalah murni karena masih berharap para buruh untuk diberikan sedikit kelonggaran, sehingga bisa mendapat penghasilan dari mata pencaharian tetapnya sebagai buruh.

“Tidak benar kami dibiayai untuk aksi. Lillahi ta’ala. Jangankan diberikan uang, satu tetes airpun tidak ada kami terima. Penghasilan kami dari situ, kalau itu dilarang pasti kami tidak punya penghasilan lagi. Itu yang kami tuntut, supaya kami tetap bisa memberi makan keluarga. Tapi apa, DPR (DPRD Kota Palu, red) sudah usahakan fasilitasi kami, tapi wali kota tetap tidak peduli,” jelasnya.

Yang mereka perjuangkan, lanjut Ilham, ialah upah yang mereka dapatkan dari bongkar muat. Uang itulah yang menjadi biaya makan dan kebutuhan sehari-hari para buruh dan keluarganya. Dulu, saat aturan ini belum ada, para buruh bisa melakukan bongkar muat hingga 3 ret kontainer per hari. Namun, sejak aturan wali kota diterapkan, 1 kontainer pun untung-untungan bisa didapatkan. Pasalnya, kata Ilham, sebagian besar gudang itu berada dalam kota.

“Tidak benar ada aturan ini dari dulu. Kalau memang ada, kenapa bisa ada IMB nya itu gudang-gudang dalam kota?, dan kalau memang mau diterapkan aturan ini, buat dulu imbauan ke pemilik gudang untuk pindahkan gudang ke pinggir kota, lalu buat terminal bongkar muat barang. Kalau sudah seperti itu persiapannya, biar tidak ada aturan dibuat, pasti kami tidak masuk dalam kota,” sebutnya berapi-api.

Yang harus dibicarakan bersama, kata dia, ialah terkait jalur yang diberi kebijakan dan jam operasional. Sebelumnya, kontainer diizinkan masuk kota di jam 00.00 hingga 06.00. Jam operasional itu sangat tidak manusiawi terhadap pekerja.

Sebab jam kerjanya di saat jam istirahat. Setelah jam operasional tidak dibatasi, namun jalur yang diberikan sama sekali tidak efektif, karena jalur yang dilintasi tidak melalui gudang-gudang tempat distribusi barang yang dimuat kontainer.

“Saya sudah sampaikan pada rapat dengar pendapat lalu. Waktu itu ada juga Kepala Dishub. Saya bilang kase kita masuk kota di jam-jam tidak padat. Dari jam 06.00 – 09.00 tidak usah izinkan kami karena itu padat sekali. Tapi dari jam 09.00 – 16.00 izinkanlah kami masuk. Jam 16.00 – 19.00 kami tidak beroperasi lagi karena jam itu padat sekali. Setelah itu, dari 19.00 seterusnya izinkan lagi kami. Tapi apa tetap tidak diterima karena wali kota tidak dengar langsung alasannya kami yang rakyatnya ini. Beliau tidak pernah temui kami. Beda sekali waktu masih kampanyenya lalu, selalu ba dekat dengan rakyat kecil,” tutupnya.

Sementara itu, Wali Kota Palu Hidayat mengatakan demo buruh kontainer di kantor DPRD adalah hak masyarakat menyampaikan aspirasinya, namun mereka juga harus toleran kepada masyarakat lain yang menolak kontainer masuk dalam kota.

- Periklanan -

“Kalau mereka demo itu haknya, tetapi mereka termasuk pemilik modal juga harus toleran dengan kepentingan orang banyak sebagai pengguna jalan umum yang menolak kontainer itu dalam kota,” kata Hidayat.

Menurut Hidayat, sebenarnya larangan angkutan kontainer masuk dalam kota untuk mendistribusikankan barang sudah berlaku cukup lama, namun belum dapat diwujudkan.

Bahkan kata Hidayat, larangan tersebut sudah ada sejak Wali Kota Palu dijabat Baso Lamakarate, disusul Suardin Suebo sampai dengan Rusdi Mastura selama dua periode.

Menurut Hidayat larangan tersebut karena pemerintah sudah menetapkan kawasan pergudangan di wilayah utara Kota Palu.

Hidayat mencontohkan, di Kelurahan Tondo saat ini banyak gudang karena memang di sanalah kawasannya.

Selain itu di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) juga bisa dibuka gudang karena salah satu fungsi KEK itu adalah logistik dan KEK ini sudah empat tahun sementara kebijakan pelarangan gudang dalam kota sudah berjalan selama 16 tahun lalu.

“Masa dalam waktu 16 tahun kita tidak bisa tertibkan, ini namanya `namadai` alias `natalanjoro` (bahasa Kaili; keterlaluan),” katanya.

Yang jelas kata Hidayat, angkutan kontainer hanya bisa mengangkut barang dari pelabuhan sampai di Kelurahan Tondo, kemudian mobil box atau mobil truk yang tonasenya sesuai ketentuan mendistribusikan barang ke toko-toko di dalam kota.

“Saya kira kebijakan ini sangat menguntungkan buruh, cuma memang mungkin keuntungan orang-orang kaya itu agak berkurang sedikit, kan kurangnya sedikit keuntungan untuk para buruh juga,” katanya.

Hidayat juga mengutarakan keberadaan kontainer masuk dalam kota juga bukan hanya mengakibatkan jalan rusak tetapi sebagian drainase juga hancur sebagai dampak dari bobot kontainer yang melebihi kemampuan beban jalan.

“Kok tidak ada perasaan kita dengan hal-hal seperti itu. Sudahlah, berhentilah untuk membuat kekacauan, mari kita bangun toleransi dan kekeluargaan dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat agar kita semua bisa hidup tentram dan damai,” katanya.

Dengan ketenangan itu dirinya berharap semua masyarakat kota bisa beraktivitas dengan mencari nafkah yang halal. (saf/*)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.