Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Buol Klaster Percontohan Peningkatan Produksi Udang Nasional

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

BUOL-Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah bersama dengan empat kabupaten lainnya di Indonesia, ditetapkan oleh pemerintah pusat sebagai klaster percontohan peningkatan produksi udang nasional sebesar 250 persen di tahun 2024. Program ini telah termuat dalam RPJMN tahun 2020-2025 Pemerintahan Joko Widodo-Mar”uf Amin maupun RPJMD Provinsi dan Kabupaten Buol melalui fase perubahan.

Di tahun 2019 produksi udang nasional sekitar 500 ribu ton, dan di 2024 akan ditingkatkan menjadi 1,27 juta ton. Berdasarkan hasil prediksi ketua SCI, Shrimp Club Indonesia wilayah Sulawesi, Hasanuddin Atjo bahwa kontribusi Sulteng terhadap nasional di 2019 sekitar 12 ribu ton atau 2,4 persen. Pedahal provinsi ini memiliki empat kawasan yang ideal dan berpotensi besar untuk pengembangan udang dengan potensi areal sekitar 60 ribu hektare.

“ Keempat kawasan itu merupakan wilayah pengelolaan perikanan, WPP RI, meliputi WKPP RI 716 laut Sulawesi, terdiri dari Kabupaten Buol dan sebagian Tolitoli. WKPP RI 713 Selat Makasssar terdiri dari sebagian Tolitoli, Donggala dan Palu. WKPPRI 714 Teluk Tomini terdiri Parigi Moutong (Parimo), Poso, Tojo Unauna (Touna), dan sebagian Banggai. Dan WKPP RI 715, Teluk Tolo terdiri dari sebagian Banggai, Banggai Laut (Balut), Banggai Kepulauan (Bangkep), Morowali dan Morowali Utara (Morut), “ papar Hasanuddin Atjo yang juga Tenaga Ahli Komenko Maritim dan Investasi.

Dikatakannya, dipilihnya Buol sebagai salah satu cluster contoh , antara lain tidak lepas dari keseriusan pemerintah kab. Buol mengembangkan sektor pangan termasuk perikanan. Di tahun 2016 Bupati Buol Amiruddin Rauf bersama Hasanuddin Atjo, saat menjadi Kadis Kelautan-Perikanan Sulteng bermohon kepada Dirjen Budidaya KKP Slamet Subiakto kiranya Buol mendapat perhatian dalam upaya peningkatan produksi maupun kesejahteraan masyarakat dan lebih khusus ke pertambakan dan budidaya air tawar.

“ Hasilnya di 2017 kabupaten ini memperoleh bantuan satu unit eksavator untuk rekonstruksi maupun mencetak tambak baru dari potensi 6.000 hektare. Kunjungan kerja Dirjen Budidaya di Buol tahun 2019 lalu dan meninjau kinerja Bupati Buol, membuat Dirjen Slamet Subiakto merasa puas dan kembali menambah bantuan tiga alat berat dan menetapkan sebagai salah satu cluster contoh program peningkatan produksi udang secara nasional tahun 2020-2024, “ ulasnya.

Pada Rabu sampai Jumat di tanggal 23 hingga 25 September tahun 2020 dilaksanakan kunjungan lapangan dilanjutkan rapat koordinasi, Rakor 11 kementrian bersama Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulteng dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buol. Dari kementrian hadir Dirjen Perikanan budidaya KKP, Asisten Deputi SDA Komenko Maritim dan Investasi, Tenaga Ahli pada KSP, Kantor Staf Presiden, Dagri, PUPR, ESDM Koperasi dan lainnya yang terkait.

Dijelaskan Hasanuddin Atjo, hasil kunjungan lapangan dan Rakor yang dilaksanakan di Hotel Sri Utami Kabupaten Buol diperoleh kesimpulan antara lain, pertama, bahwa program ini harus memiliki manfaat bagi ekonomi masyarakat, daerah maupun Negara, mampu mengurai masalah sosial, dan tidak berdanpak terhadap lingkungan dan masalah lahan dikemudian hari.

Kedua, terjadi dan terbangun satu budaya transformasi inovasi dan teknologi budidaya udang kepada masyarakat melalui sebuah tambak contoh seluas 5 hektare yang dilengkapi dengan tandon treatmen air dan Instalasi Pengolagan Air Limbah (IPAL) agar ramah lingkungan. Dengan teknologi ini, produktifitas diprediksi mencapai 20 ton per hektare per tahun, atau 10 ton per hektare per musim tanam.

Ketiga, pengembangan masif dari teknologi contoh akan dikakukan di kawasan 1.000 hektare yang tersebar di kima kecamatan pesisir. Dan dari program ini setidaknya produksi udang dari kabupaten Buol yang selama ini kurang dari 1.000 ton bisa meningkat menjadi 20.000 ton di akhir tahun 2024.

Ketika diberi kesempatan berbicara sebagai tenaga ahli di Komenko Maritim dan Investasi, dijelaskan Hasanuddin paling tidak ada dua tantangan mendasar yang harus menjadi perhatian kita bersama. Pertama, bahwa klaster contoh seluas 5 hektare yang akan di terbari di akhir Desember 2020 harus sukses, karena kebenaran di masyarakat itu ada di matanya.

“Dan saya berkeyakinan dengan kemampuan dan reputasi KKP atas izin yang Maha Kuasa percontohan ini akan sukses, “ tegasnya.

Kedua, pengembangan sub klaster pada klaster atau kawasan 1.000 hektare diperlukan penyusunan sebuah grand desain pengembangan dan dilengkapi dengan rencana aksi. Grand desain ini harus fokus untuk mendetailkan lima variabel yaitu 1. Dukungan infrastruktur dasar. 2. Dukungan input produksi. 3. Penyiapan SDM, Inovasi-Teknologi. 4. Hilirisasi, serta 5. Regulasi terkait manajemen kawasan 1.000 hektare.

Pengembangan budidaya udang berbasis klaster di Buol tentunya bisa menjadi referensi dalam pengembangan komoditas pangan lainnya, serta menjadi referensi bagi kabupaten lainnya. Inisiatif dan kesiapan daerah akan menjadi faktor utama atas keterpilihannya untuk menjadi klaster percontohan.

“Bahwa dapat dibayangkan, bila potensi SDA bisa dan mampu dikelola sebagai salah satu lokomotif ekonomi daerah ini, melalui cara-cara terkini, maka dapat diyakini kapasitas fiskal yang masih rendah, kemiskinan serta ketimpangan pendapatan yang tinggi dapat diperbaiki. Ini akan bermuara kepada menggeser pertumbuhan ekonomi tinggi tetapi eksklusif, menjadi pertumbuhan ekonomi tinggi dan inklusif sesuai tuntutan kemajuan yang hakiki, “ tegasnya.

Setidaknya, tambah Hasanuddin Atjo, dari Sulteng dalam lima tahun kedepan dapat berkontribusi sekitar 100 ribu ton udang terhadap target nasional sebesar 1,27 juta ton. Peningkatan produksi ini memiliki efek domino yang besar bagi kemajuan dan kesejahteraan.(tam)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.