Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Bulan Lalu, Ribuan Pil PPC Disita dari Apotek di Palu

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Seorang korban PCC terpaksa diikat karena mengamuk di RSJ Kendari. (Foto: Lm Syuhada/Kendari Pos)

PALU – Sebelum terungkap beredarnya jenis obat Paracetamol, Carisoprodol dan Cafein (PCC) yang memakan korban jiwa di Kendari Sulawesi Tenggara, di Kota Palu ternyata ada dua apotek dicabut izinnya karena kedapatan menjual jenis obat mengandung PCC.

Kepala BPOM Daerah Sulteng, Drs Safriansyah Apt M.Kes, kemarin (16/9) mengungkapkan, untuk di Kota Palu sendiri, ada dua apotek yang sudah dicabut izinnya dan sedang dalam proses hukum. Dua apotek tersebut terbukti melanggar aturan kefarmasian, yakni menjual obat yang telah dilarang produksi, jenis obat yang memiliki kandungan PCC yaitu jenis Somadril dan Tramadol.

Sebagai barang bukti di pengadilan, BPOM menyita 1.900 lebih tablet Somadril dan 12.000 lebih tablet Tramadol.

Kasus yang sedang diproses itu sebelumnya telah dilakukan intensifikasi pengawasan dan melakukan proses investigasi oleh BPOM. “Penemuan obat terlarang di dua apotek tepatnya satu bulan lalu,” katanya.

Untuk kasus dua apotek tersebut kata Safriansyah, karena terbukti dan ditemukan barang bukti, saat ini kasusnya sedang proses BAP tersangka dan saksi-saksi. Termasuk meminta keterangan saksi ahli. “Mudah-mudahan dalam waktu dekat kami sudah menyelesaikan berkas di kejaksaan,” katanya.

Menurut Safriansyah, untuk Sulteng sendiri peredaran jenis obat terlarang masih jadi tempat distribusi bukan sebagai tempat produksi. Seperti temuan belasan juta tablet di Banjarmasin, produksinya bukan di daerah temuan itu melainkan di Pulau Jawa dan sekarang masih dalam penyelidikan dan incaran pihak berwajib.

Saat ini, kata Safriansyah lagi, pengawasan terhadap penjualan obat terlarang akan terus dilakukan, mengingat peristiwa yang terjadi di Kendari merupakan ancaman bagi masyarakat khususnya generasi muda. Dengan, dicabutnya izin dua apotek di Kota Palu yang menjual obat terlarang itu  memberikan dampak bagi apotek lainnya. “Sudah beberapa kali kami turun lapangan, baik di apotek ataupun di toko obat lainnya. Alhamdulillah kami belum menemukan adanya penjualan obat tersebut lagi. Meskipun begitu bukan berarti kami akan tutup mata, pengawasan akan terus dilakukan dan rutin,” pungkasnya.

Safriansyah menjelaskan, setelah melakukan pengawasan oleh BPOM Palu, belum bisa dipastikan bahwa peredaran obat berupa PCC kedepan tidak akan ada lagi. Bisa jadi oknum yang sama akan menciptakan obat dengan jenis lain, namun memiliki efek samping yang sama.

Efek dari penggunaan jenis obat berbahaya tersebut, umumnya orang yang mengonsumsi kecanduan akan berupaya untuk mendapatkan obat tersebut lagi.

Lebih jauh dijelaskan Safriansyah, obat jenis Somadril adalah obat yang mengandung zat Psikotropika yang resmi diproduksi dan diproduksi oleh pabrik Actavis.

Somadril mempunyai kandungan tiga zat aktif yakni Paracetamol, Carisoprodol dan Cafein. Atas dasar inilah maka tablet Somadril tersebut diberi logo PCC yang merupakan singkatan dari tiga zat aktif dalam kandungan Somadril dan jenis obat ini yang disalahgunakan oleh oknum untuk dijual bebas.

“Salah satu zat aktifnya setelah diteliti, saat dikonsumsi tubuh diubah dari metabolisme menjadi senyawa Meprobamat. Senyawa tersebut sejenis dengan Psikotropika. Ketika dikonsumsi obat itu berefek seperti psikotropik, antara lain menyebabkan orang depresi ketagihan,” terangnya.

Dikarenakan efek samping tersebut maka banyak konsumen yang mencari obat tersebut dan menyalahgunakannya. Setelah dianggap merugikan, maka diputuskan bahwa obat tersebut tidak lagi beredar sejak 2013. “Izin produksi obat itu pun telah dicabut dan sampai sekarang tetap dalam pengawasan ketat,” ujarnya.

Dikarenakan konsumen yang meningkat maka para pelaku usaha akhirnya berupaya memenuhi permintaan konsumen. Meskipun dilarang, karena keuntungan yang besar, maka pabrik-pabrik gelap kemudian berusaha menciptakan dan meniru dengan logo PCC. (jcc)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.