Buku Edukasi Kebencanaan Masih Kurang

- Periklanan -

PALU – Sekolah Dasar (SD) di Kota Palu masih kekurangan buku bacaan tentang kebencanaan. Khususnya buku yang mengedukasi tentang mitigasi bencana gempa dan tsunami. Ini terkuak saat kunjungan Prof Isamu Sakamoto, seorang ahli konservasi kertas dari Tokyo Restoration and Conservation Center di SDN Inpres 1 Lolu dan SD 1 Alkhairat Palu, pagi kemarin (29/4).
Peneliti yang baru saja membantu perawatan buku-buku penting dan bersejarah milik Balai Pustaka ini, memutuskan untuk melihat langsung kondisi dua perpustakaan sekolah tersebut. Pasalnya, di dua sekolah ini pernah mendapatkan bantuan 500 buku dari perusahaan penerbitan dan percetakan milik negara itu pascabencana.
Kepala SDN Inpres 1 Lolu, Mariko Abubakar menjelaskan pada Januari 2019 sekolahnya mendapatkan bantuan 500 buku beserta perangkat pendukung. Seperti rak buku, peta, satu set komputer beserta televisi dan sound system. Bantuan tersebut diberikan oleh Balai Pustaka bekerjasama dengan PLN. Namun, dari 500 buku hanya ada dua buah buku tentang tsunami.
“Hampir seluruhnya buku-buku bacaan umum dan agama. Harapannya, sekolah kami juga bisa mendapatkan buku bacaan tentang kebencanaan,” ujar Mariko.
Buku tsunami yang ada juga tidak memasukkan Sulawesi Tengah sebagai daerah yang pernah dilanda tsunami di wilayah Indonesia. Kekurangan informasi seperti itu, menurut Isamu akan berdampak terhadap kurangnya pemahaman generasi muda di Kota Palu secara khusus mengenai kebencanaan.
Kondisi yang sama juga ditemukan di SD 1 Alkhairat Palu. Di perpustakaan sekolah ini tidak ditemukan buku yang membahas bencana. Adapun kebencanaan temukan di dalam satu buku sains umum dan satu buku tentang mangrove.
Kurangnya informasi tentang mitigasi bencana, rupanya juga dirasakan oleh guru di sekolah itu. Olehnya, Kepala SD 1 Alkhairat Palu Suhban A. Lasawedi, meminta secara khusus Prof Isamu Sakamoto untuk bertukar pengalaman bagaimana Jepang menyikapi bencana. Dalam kesempatan itu dilakukan sesi diskusi singkat bersama dengan jajaran guru.
Kepada Radar Sulteng, Sakamoto mengungkapkan dari kujungannya tersebut dirinya akan mengajukan rekomendasi ke Direktur Utama Balai Pustaka Achmad Fachrodji untuk melanjutkan dukungannya terhadap perpustakaan sekolah. Harapannya, bantuan buku akan tetap ada dengan buku-buku yang dapat membantu siswa sekolah dasar memahami dengan baik bencana. Agar mereka dapat selamat di masa depan jika gempa dan tsunami kembali terjadi.
Berdasarkan pengalaman di Jepang, jelas Sakamoto, edukasi mitigasi bencana mengambil posisi pertama dan paling penting. Dia pun berharap pemerintah pusat maupun daerah memiliki kesadaran yang sama. Penyediaan buku-buku bacaan kebencanaan bagi siswa sekolah dasar, menurutnya adalah langkah awal dan sederhana, yang dapat dilakukan untuk menyelamatkan masa depan anak bangsa.
“Upaya untuk healing (pemulihan, red) pascabencana memang perlu, tetapi tidak boleh selamanya kita fokus di situ dan terus melihat ke masa lalu. Sudah saatnya memikirkan masa depan,” tandasnya.(uq)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.