alexametrics Buku Cerita Rakyat Daerah Menambah Khasanah Literasi – RADAR SULTENG
Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Buku Cerita Rakyat Daerah Menambah Khasanah Literasi

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

PALU-Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) menggelar peluncuran buku hasil terjemahan, dengan meluncurkan 10 buah buku cerita rakyat berbahasa daerah yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, kemudian menggelar dialog dengan para pengarang buku cerita rakyat yang dilaksanakan di sebuah hotel di Kota Palu, Senin (13/12).

Gubernur Sulteng diwakili Plt Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Tengah Yudiawati Vidiana, membuka peluncuran buku cerita rakyat yang diterjemahkan dari berbagai daerah di Sulteng, disaksikan Kepala Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Tengah, Dr. Sandra Safitri Hanan, MA, perwakilan Kadis Pariwisata, perwakilan Kepala Perpustakaan Daerah Sulteng, Kadis Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Palu, para pegiat literasi, dan tokoh masyarakat.

Dalam kesempatan itu. Plt Kadis Dikbud Sulteng, Yudiawati Vidiana membacakan sambutan Gubernur Sulteng, menyatakan akan mendukung berbgaai program yang dilaksanakan oleh Balai Bahasa.

“ Kami sangat mengapresiasi dan mendukung kegiatan atau program kerja dari Balai Bahasa Sulawesi Tengah untuk mengembangkan tingkat literasi, satra dan budaya masyarakat Sulteng secara keseluruhan, “ tutur Yudiawati Vidiana.

Menurutnya, dengan hadirnya buku-buku ini akan melindungi kepunahan bahasa-bahasa daerah yang ada di Sulawesi Tengah. Apalagi buku ini disertai dengan terjemahan dalam bahasa Indonesia sehinga mudah dibaca dan dipahami. Sangat baik untuk mengembangkan literasi bahasa daerah.

“ Balai Bahasa bisa bersinergi dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah untuk mendukung bahasa daerah. Juga, meningkatkan kreativitas penulis untuk melahirkan buku-buku berkualitas dan buku terbarunya, “ paparnya.

Pada kesempatan peluncuran buku Senin, kemarin, Kepala Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Tengah Dr. Sandra Safitri Hanan menjelaskan, ada tiga tujuan melahirkan naskah terjemahan, yaitu pertama, kelestarian bahasa daerah. Kedua, pelestarian sastra daerah. Ketiga, meningkatkan gerakan literasi nasional.

Kepala Balai juga menyampaikan permohonan dukungannya kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulteng, untuk mendukung kegiatan dan program pengembangan literasi dari Balai Bahasa.

“ Mohon dukungannya Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah dan Pemerintah kabupaten dan kota se Sulawesi Tengah untuk menambah percetakan buku bacaan ini, karena manfaatnya sangat besar, “ ucap Kepala Balai Bahasa Sandra Safitri Husnan.

“ Misalnya buku berjudul Kesik dari Kabupaten Banggai, ini mestinya dibantu oleh Pemerintah Kabupaten Banggai guna mendukung bantuan danaya untuk mencetak atau memperbanyak buku ini untuk didistribusikan ke sekolah-sekolah yang ada di Kabupaten Banggai, “ terangnya.

Sementara itu, Ketua Panitia pelaksana peluncuran buku hasil terjemahan, Nursyamsi, dalam laporannya mengatakan kegiatan peluncuran dihadiri oleh 60 orang dari berbagai instansi dan beragam profesi. Ada guru, dosen, pegiat literasi, komunitas baca, wartawan, dan lain-lain. Balai bahasa telah banyak mencetak buku-buku terkait bahasa dan sastra.

“ Pada kesempatan ini, Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Tengah telah mencetak buku-buku karya sastra berupa cerita rakyat, pantun, dan puisi yang merupakan hasil terjemahan dari bahasa daerah ke dalam bahasa Indonesia. Buku-buku cerita tersebut diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan bacaan untuk mmeningkatkan minat literasi masyarakat Sulawesi Tengah khususnya, “ papar Nursyamsi.

Dijelaskannya, buku-buku cerita ini berawal dari pengambilan data di beberapa kabupaten dan kota di Sulawesi Tengah oleh staf Balai Bahasa Provinsi Sulteng. Cerita, pantun, dan puisi berbahasa daerah diperoleh dari para sastrawan, pecinta kebudayaan, dan para penulis buku. Cerita-cerita tersebut dibuat menjadi buku cerita dengan gambar agar menarik minat para pembacanya.

Adapun para penulis cerita yang telah berpartisipasi dalam kegiatan ini adalah pertama, Tjatjo T.S. Al Idrus dengan buku karangannya berjudul No Nggololio dan Tovau Loba dari Kabupaten Sigi. Kedua, Smiet, dengan judul buku Karama Go Bulava dan Santempa Ana Nabia dari Kota Palu.

Ketiga, Hj. Maryam G. Mailili dengan judul buku Ombukilan dari Kabupaten Buol. Keempat, Datra, judul buku Sarita I Bolrang Al Kalribombang dan Tumpega Ai Anak Gaukan. Kelima, Ekamasyitah dan Ibrahim Saudah dengan judul buku Bunggus dari Kabupaten Tolitoli. Keenam, Suparman Tampuyak dengan judul buku Kesik dari Kabupaten Banggai. Ketujuh, Pardi S. Salama dengan judul buku Puisi dan Pantun dari Kabupaten Parigi Moutong (Parimo).

“Dalam buku-buku tersebut, terdapat beberapa cerita rakyat yang sarat akan pesan-pesan moral dan petuah yang baik, “ ungkapnya.

Penulis buku-buku ini merupakan orang-orang yang mencintai budaya, seperti Hj. Maryam G. Mailili adalah penyusun kamus Bahasa Buol dan pelestari budaya Buol. Beliau penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) tahun 2020 untuk kategori pelestari dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI.

Sedangkan Tjatjo T.S Al Idrus adalah seorang pelestari bahasa Kaili dan telah banyak menghasilkan karya sastra, baik Indonesia maupun daerah. Demikian juga dengan sosok Ibrahim Saudah ketua adat dari Tolitoli yang juga sangat mencintai kebudayaan daerah. Masih banyak sastrawan yang produktif yang ada dihadapan kita semua, yang nantinya akan mengulas buku-buku karyanya masing-masing.(mch)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.