Buktikan IKM Olahan Kopi dan Coklat Tetap Eksis

Disperindag Sulteng Gelar Chocolate and Coffe Expo 2020

- Periklanan -

PALU – Produk-produk olahan kopi dan coklat yang dihasilkan para pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) Sulawesi Tengah tidak kalah bersaing dengan produk yang sudah lebih dahulu terkenal.

Sebagai upaya mendorong kembali pemulihan ekonomi pelaku IKM olahan kopi dan coklat, yang terdampak pandemi Covid-19, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Sulawesi Tengah, menggelar Chocolate and Coffe Expo 2020.

Ajang pameran produk olahan kopi dan coklat Sulawesi Tengah ini, bakal dimulai Jumat (11/9) hari ini, hingga Minggu (13/9) mendatang. Gubernur Sulawesi Tengah, dijadwalkan hadir membuka pameran yang digelar di Palu Grand Mall (PGM) ini, Jumat sore.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sulteng, Richard Arnaldo Djanggola SE MSa mengungkapkan, pihaknya kembali memilih pameran di PGM, sebab melihat animo masyarakat saat pameran kerajinan tangan di bulan lalu cukup tinggi bila digelar di Mal.

“Kalau di tempat lain, mungkin kurang peminat yang hadir. Karena masyakat juga sudah mulai banyak berkunjung ke mal, pameran ini pun jadi pusat perhatian. Di pameran kerajinan lalu, transaksi cukup besar sampai Rp30 jutaan,” jelas Richard kepada Radar Sulteng, Kamis kemarin.

Selain itu kata Kepala Dinas, dipilihnya mal, juga untuk memudahkan penerapan protokol kesehatan. Di mana pengunjung yang datang terlebih dahulu diperiksa suhu badan dan mencuci tangan serta jaga jarak atau pshysical distancing.

Demikian pula dengan Chocolate and Coffe Expo 2020 kali, panitia juga tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat. “Yang berbeda di pameran kopi dan coklat ini, nantinya akan disediakan tempat duduk untuk bersantai para pengunjung sambil menikmati kopi dan coklat. Ada juga panggung utama yang menggelar berbagai acara seperti talk show, serta lomba foto,” ungkapnya.

Panitia sendiri menyiapkan 30 stand pameran, yang bakal diisi 15 pelaku IKM kopi dan 15 pelaku IKM olahan coklat. Selama pandemi ini, kata Richard, para pelaku IKM olahan kopi dan coklat pun terdampak.

- Periklanan -

Penjualan banyak yang menurun drastis. “Tapi yang paling berdampak itu IKM olahan coklat. Karena mereka hanya berharap penjualan kepada para tamu dari luar kota yang datang ke daerah kita. Selama pandemi ini kan, kunjungan pun terbatas,” terang Richard.

Target pasar dari pelaku IKM olahan kopi adalah para tamu yang datang. Selama pandemi ini, otomatis pembeli hanya warga lokal saja. Khusus Rumah Coklat yang merupakan, industri di bawah Disperindag Sulteng, tetap beroperasi, meski yang paling banyak membeli hanya para pembuat kue.

Sementara IKM olahan coklat yang kerap membeli di Rumah Coklat, terbilang menurun. “Untuk rumah coklat tetap berproduksi membantu para pelaku IKM. Tapi itu belum cukup membantu, maka kami buat lah pameran coklat dan kopi ini, yang sudah masuk tahun kedua kita gelar,” tuturnya.

Selain itu, pameran ini juga dalam rangka mengangkat rasa kebanggaan masyarakat Sulawesi Tengah atas produk-produk asli buatan daerah sendiri.

Dia mencontohkan, seperti biji kopi kulawi dan kopi napu, bila disandingkan, rasanya tidak kalah dengan kopi toraja. Namun di luar daerah, yang masih dikenal adalah kopi toraja. “Kita juga punya biji kopi yang semacam kopi luwak. Tapi ini lebih terhormat, karenan kopinya hanya dimakan buah kopinya oleh sejenis hewan tangali sejenis tarsius, namun bijinya dibuang lewat mulutnya langsung. Rasanya juga hampir sama,” ungkap Kepala Dinas.

Para pelaku IKM olahan kopi pun, sudah mulai melirik biji-biji kopi lokal ini untuk dipasarkan. Bahkan, salah satu IKM, sudah mengirim produk olahan kopi ini hingga ke Malaysia, namun dengan jumlah terbatas.

Richard berharap, dengan semakin banyaknya masyarakat Sulteng mengetahui kualitas kopi daerah ini, akan menjadi kebanggaan tersendiri dan dikenalkan kepada orang luar daerah. “Potensinya bukan hanya nasional, tapi kualitas potensi internasional juga sebenarnya,” katanya.

Coklat pun demikian kata dia. Saat ini Disperindag Sulteng bersama Dinas Perkebunan tengah mengembangkan biji coklat organik. Coklat organik, apalagi yang ditanam di daerah penyangga hutan lindung, atau cagar biosfer, maka nilai jualnya di pasar internasional pun meningkat.

Dia pun berharap, saat pameran nanti, bisa menarik minat pengunjung untuk lebih mengetahui produk-produk IKM lokal. “Pameran ini juga untuk menunjukkan bahwa para pelaku IKM olahan coklat dan kopi masih tetap eksis dan siap menerima pesanan konsumen dari dalam daerah maupun luar daerah,” harapnya. (agg)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.