Budaya Basiara Cermin Kedamaian di Bumi Cengkeh

Titah Kades Bajugan  Menjaga Kearifan Lokal Membendung Hoax dan Disrupsi Informasi

- Periklanan -

Foto Suryanto saat di Pelaminan

Ide brilian Suryanto, Kepala Desa Bajugan—salah satu desa keren di kawasan pesisir di Kecamatan Galang, Kabupaten Tolitoli, Provinsi Sulawesi Tengah boleh di-copy paste. Ringan tapi ampuh menangkal berita bohong, hoax dan Disrupsi informasi. Kesehariannya selalu  bawa toa (pengeras suara) serta mic masjid. Seperti apa idenya.

Rustam  Hamdani, Tolitoli.

WAJAH Suryanto membuncah begitu disapa kades muda energik nan gesit. Belum lama Anto-begitu akrab dipanggil–menikahi gadis pilihannya, kulitnya putih langsat, agak gempal rambut ikal, sarjana ekonomi, pertengahan September lalu. Tapi, tak banyak orang yang tahu, di balik wajah riangnya pernah ada luapan amarah, sakit hati, tapi cepat plong dan lega karena suka memaafkan sesama. Sedikit orang seperti dia, di Bajugan, desa yang dipimpinnya itu.

Marahnya dia ini, sebenarnya sudah lama, 3 tahun lalu, tahun 2016. Baru saja dilantik dan menjabat beberapa bulan sebagai kepala desa di Kabupaten yang dikenal dengan sebutan bumi Cengkeh. Sejumlah pemuda datang kepadanya, minta dukungan, suport dana. Klub bola kampung rencananya akan berlaga di desa tetangga, kurang modal.

“Saya beri dukungan penuh, bantu dana. Saya bilang pakai aja dulu ini uang, kalau kurang nanti disampaikan lagi ke saya. Beberapa hari kemudian, ada kabar di tengah lapangan desa ditanam pohon pisang, tanda protes warga,” cemasnya.

Kemudian, usut punya usut ternyata sejumlah pemuda desa mengajukan aksi protes. Yel-yelnya “Kades Bajugan tidak mendukung perkembangan olahraga desa”, seperti itu.

- Periklanan -

“Dan ternyata semua kejadian ini karena ada berita bohong, saya kena fitnah. Sakitnya tuh di sini, tapi udahlah saya maafkan. Tetap saya dukung, semua warga sama, ada kegiatan positif pemerintah desa mendukung, asalkan bukan kegiatan yang tidak baik,” timpalnya.

 

Pasca tragedi pohon pisang, Suryanto mengaku gelisah. Tidak tenang jika tidak diluruskan. Ia pun mengundang beberapa tokoh pemuda, masyarakat untuk rembug, silaturahmi. Yang tidak mau datang, kades inisiatif mendatangi rumah mereka. Singkatnya, pembicaraan mengalir, benang kusut terurai,  terdeteksi bahwa berita dusta itu telah menyebar, biang keroknya hoax, masalah pun terpecahkan. Modal bahasa santun berbicara, toa dan mikropon, Suryanto dkk mampu menangkal hoax yang sudah membuat kacau balau, dan jadi buah bibir di tengah masyarakat. Tidak hanya itu, di Kecamatan Galang, ihwalnya Bajugan menempati urutan pertama sebagai desa dengan kasus-kasus kriminalitas, peredaran narkoba, pencurian, hingga perkelahian antar kampung.

Namun untuk kasus perkelahian, sebut Anto, menurun drastis, pencegahan dioptimalkan dengan bantuan tokoh adat, masyarakat dan aparat desa, didukung petugas keamanan, Babinkhamtibmas, Babinsa dan aparat terkait lainnya.

“Ohhh, sebenarnya banyak kasus hoax di desa kami ini, pemerintah desa juga jadi sasaran, kadesnya dibombe (tidak ditegur sapa, Red.), tapi saya dan aparat desa bersatu, kita lawan pelaku hoax, fitnah. Caranya, saya datangi warga saat momen ibadah di masjid, sholat Jumat, saya ambil mikropon dan sampaikan dengan jelas ke warga, berita ini dan itu hanyalah hoax, jangan percaya. Saya juga menyusup ke pesta pernikahan, syukuran atau selamatan-tradisi warga setempat, tahlillan, demi meluruskan satu perkara pelik. Jadi, kita optimalkan pesan-pesan kebaikan kepada warga, lewat sarana ukuwah dan silaturahmi, ada apa-apa ya dimusyawarahkan, jangan dengar informasi sepotong-sepotong,” tegas Suryanto menceritakan pengalamannya ancaman hoax.

Bicara soal kebersamaan dalam bingkai persatuan dan silaturahmi, di Desa Bajugan dan beberapa desa lainnya di Kecamatan Galang Kabupaten Toltoli, masih mempertahankan budaya Basiara atau silaturahmi pada momen Hari Raya Idulfitri dan hari-hari perayaan hari besar Islam lainnya. Tradisi ini diatur pemerintah desa dan tokoh masyarakat, ada jadwal menerima tamu dan berkunjung. Yang datang, jika dihitung bisa puluhan orang per hari. Yang didatangi pun ready dengan sajian makanan, modal sedikit menu ala kadarnya.

 

“Basiara ini penting, bisa mengokohkan kebersamaan, silaturahmi, kita bisa tahu seperti apa kondisi saudara kita, tetangga kita. Yang sakit dibantu, yang meninggal didoakan, bahu membahu. Tradisi seperti yang terus kami pelihara hingga kini. Basiara yang dilakukan turun temurun juga efektif menangkal pengaruh hoax dan simpangsirunya informasi. Apalagi di tengah isu radikalisme, marak aksi terorisme, Basiara bisa jadi solusi terbaik melawan kebohongan, fitnah. Kampung kita bisa lebih berkah, banyak doa mengalir,” yakinnya.

Dengan menjaga silaturahmi, radikalisasi akan sulit masuk ke desa yang penduduknya bakucocok (akrab, Red.), saling kenal mengenal, tenggang rasa, solidaritas, dan tidak bakubombe atau saling cuek, individualisme. Sebaliknya, yang berkubu-kubu, tidak mau bersatu dan silaturahmi, akan lebih mudah terhasut isu perpecahan yang didasari berita hoax, radikalisme dan dampak buruk lainnya. Basiara juga efektif mendeteksi jika ada hal-hal aneh, aktivitas mencurigakan yang dilakukan salah satu anggota masyarakat.

“Yah inilah kami, punya aturan dan tekad sendiri, kebijakan pemerintah desa. Jika ada masalah di tengah masyarakat, cepat-cepat buat silaturahmi, bikin acara kecil-kecilan walau cuman segelas air mineral ditambah gorengan. Yang penting ngumpulnya itu, silaturahminya itu. Amanlah, desa kalau sudah seperti itu. Itulah kearifan lokal yang kami junjung dan pertahankan, menjaga penduduk, menjaga desa agar senantiasa kondusif, nyaman dan sejahtera. Semua kita bersaudara,” ungkapnya bersemangat. (**)

 

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.