BTNLL Tak Berdaya Tertibkan PETI Dongi-Dongi

Butuh Dukungan Stakeholder untuk Kekuatan Maksimal

- Periklanan -

PALU – Balai Taman Nasional Lore Lindu (BTNLL) sebagai pengelola Kawasan Konservasi Taman Nasional Lore Lindu terkesan tak berdaya melakukan langkah penertiban aktivitas Pertambangan Tanpa Izin (PETI) di Dongi-Dongi Kecamatan Lore Utara Kabupaten Poso.

Kepala BTNLL Ir. Jusman kepada Radar Sulteng, Jumat (4/6) mengatakan, terkait penanganan PETI Dongi-Dongi tidak bisa hanya dilakukan sendiri oleh BTNLL, harus dikerjakan dengan seluruh stakeholder terkait. Diperlukan dan harus memiliki kekuatan yang maksimal. Sejauh ini, kata Jusman pihaknya masih melakukan konsultasi serta koordinasi dengan sejumlah pihak di antarannya Polda Sulteng, Pangdam, Danrem dan Pemerintah Daerah Sulteng.

“Tapi pendekatan kita tidak bisa samakan seperti 20 tahun yang lalu. Pendekatan kita tidak bisa serta merta dengan alasan penegakan hukum. Kita melakukan penindakan secara persuasif agar tidak berdampak kontraproduktif. Masalahnya itu warga–warga kita juga,” tuturnya.

Terkait penanganan PETI di Dusun Dongi-dongi, Diakui Jusman belum punya cara efektif untuk melakukan penghentian aktivitas sampai hari ini. Hanya saja, pihaknya belum lama ini melakukan sosialisasi dan pemasangan papan pemberitahuan terkait pelarangan aktivitas tambang.

Terkait perencanaan penutupan lubang tambang dengan menutup menggunakan cor semen, Jusman mengatakan persiapan tersebut sudah dilakukan bahkan hingga sampai uji coba alat. Namun hingga saat ini belum dilakukan penutupan karena terkendala dengan kurangnya personel untuk melakukan penindakan. Strategi kedepan kata dia, wilayah PETI akan dikosongkan kemudian disusul dengan pengecoran lubang.

- Periklanan -

“Bahkan anggarannya sudah kami sediakan, hanya saja pada saat itu momentum pilkada di mana banyak personel petugas keamanan diperlukan untuk pengamanan Pilkada. Ditambah lagi dengan adanya peristiwa Lembantongoa, jadi fokus aparat teralihkan. Kalau kita operasi pada saat itu pasti akan gaduh,” jelasnya.

Jusman menyebutkan kerusakan kawasan konservasi Taman Nasional Lore Lindu akibat aktivitas tambang emas ilegal di Dusun Dongi-dongi, Desa Sedoa Kecamatan Lore Utara Kabupaten Poso semakin meluas.

Dari data BTNLL, lokasi aktivitas terkonsentrasi PETI atau lokasi yang aktif sebagai lokasi tambang emas sekitar 3,89 Hektar, sementara kawasan rehabilitasi atau yang terkena dampak dari sisa aktivitas tambang termasuk lokasi sudah ditinggalkan penambang dan berpindah ke lokasi baru sudah meluas sekitar 15 hektar.

Dari hasil pengumpulan data dan hasil analisis data tim BTNLL pertengahan tahun 2020 terdata ada sekitar 164 lubang PETI di Dong-Dongi. “Saat ini justru bertambah hampir dua kali lipatnya,” ujarnya.

Jusman mengungkapkan, permasalahan keberadaan aktivitas tambang emas ilegal di kawasan taman nasional adalah permasalahan yang multi dimensi. Apalagi kata dia, di kondisi sekarang banyak orang yang bermasalah pada sektor perekonomian. “Kalau sekarang begitu banyak orang yang bermasalah dengan sektor itu dan juga termasuk isu-isu lain. Misalnya dampak pandemi dan teroris. Itu kekuatan dari personel yang membackup kita selama ini di lapangan menjadi tidak maksimal,” bebernya. (win)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.