BKSDA Sulteng Gagalkan Penyelundupan Burung Rangkong

- Periklanan -

Setelah diberi makan burung Rangkong diamankan di kadang milik BKSDA Sulteng untuk mendapat perawatan. (Foto: Mugni Supardi)

PALU – Balai Konservasi Sumber daya Alam (BKSDA) Sulteng berhasil menggagalkan penyelundupan salah satu satwa endemik Sulawesi, yaitu empat ekor burung Rangkong dengan jenis kelamin tiga ekor jantan satu betina yang dikirim dari Kabupaten Buol ke Kota Palu via travel, Sabtu (14/10).

Kepala Seksi Wilayah I BKSDA Sulteng, Haruna mengatakan, kemungkinan burung yang dilindungi  undang-undang nomor 5 tahun 1990 ini, akan diperjualbelikan pemiliknya di Kota Palu untuk kemudian dikirim ke luar daerah seperti Surabaya, Makassar atau Kalimantan. Namun karena ada masyarakat yang melihat kemudian memberikan informasi kepada dirinya, bahwa ada satwa yang dilindungi dari Buol menuju ke Palu. Dia bersama-sama dengan Polhut langsung menuju dan menunggu di agen travel perjalanan darat yang bersangkutan mulai pukul 10.00 Wita pagi. Sayangnya pemilik dari burung Rangkong tersebut belum diketahui.

“Saat datang sayangnya di kardus itu hanya tertera nomor kontak, tidak ada alamat dan nama tujuan penerima. Kita coba telepon kontak pemilik burung, tapi kita tunggu beberapa saat tidak ada datang. Mungkin saja sudah bocor atau tercium kalau ada kita,” jelas Haruna kepada Radar Sulteng ditemui di Kantor BKSDA Sabtu malam.

- Periklanan -

Empat ekor satwa ini dikirim menggunakan kardus. Untuk mencegah suara berisiknya, pengirim sampai melakban mulut atau paru burung rangkong. Dari pengakuan sopir travel, Haruna menyebutkan, pengirim dari Buol tidak diketahui identitasnya oleh sopir, hanya dua buah kardus dititipkan di jalan dan diberikan nomor kontak. Masalah pembayarannya pun ketika akan menunggu jika nomor yang tertera di kardus menelepon sopir. Setelah menunggu lama dan mencoba menghubungi nomor tersebut tidak kunjung ada kabar.

“Saya amankan di Kantor BKSDA Sulteng untuk sementara waktu, sambil mencari siapa pemiliknya,” terangnya.

Haruna menjelaskan, empat ekor burung rangkong yang usianya bermacam-macam ada yang satu tahun dan dua tahun. Rencananya satu dua hari ke depan satwa ini masih diamankan di kantor BKSDA Sulteng sekaligus akan menerima perawatan. Apalagi ada yang terlihat kurus sehingga harus mendapatkan pemulihan terlebih dahulu ditambah saat perjalanan tidak diberikan makan dan mulutnya dilakban. Olehnya itu, setelah dianggap sehat baru dilepas liarkan di Cagar Alam Pangi Binangga, Kabupaten Parigi Moutong. Meskipun berasal dari Buol menurut Haruna kondisi cagar alam Pangi Binangga juga salah satu habitat burung Rangkong juga, sehingga tidak perlu dibawa ke Buol lagi, dikhawatirkan jika menempu perjalanan panjang satwa akan bertambah stres.

“Spesies ini di Sulawesi memang masih banyak tetapi sudah termasuk yang terancam punah,” tutup Haruna. (acm)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.