Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Bintaran Tengah Nomor 8 Jogyakarta (Part II) : Situs Sejarah yang Terabaikan, Antara Kekecewaan dan Kinerja Pemerintah Daerah

Oleh : Dr. Syarif Makmur, M.Si. *

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

BINTARAN Tengah nomor 8 Jogyakarta, lokasi asrama pelajar mahasiswa Sulawesi Tengah yang berdiri kokoh sejak jaman Belanda itu telah mengalami perubahan. Tidak saja signifikan tetapi perubahannya sangat mendasar dengan hilangnya fundamen seni, artistik dan nilai sejarahnya.

Sebelumnya, Bintaran Tengah Nomor 8 (BT 8) telah ditetapkan sebagai salah satu situs sejarah DIY dan dikenal oleh turis mancanegara khususnya Belanda yang hampir setiap tahun mengunjungi tempat ini.

Ada persoalan ketidakpahaman sejarah dan ketidakpahaman seni dan artistik bangunan sehingga bangunan yang kokoh, memiliki nilai seni dan artistik yang tinggi tiba-tiba direnovasi oleh Pemda Provinsi Sulawesi Tengah dengan tujuan merespons aspirasi pelajar mahasiswa Sulawesi Tengah sebagai bagian kinerja pemerintahan daerah, namun tanpa berkonsultasi dan meminta pandangan dan pendapat dari Pemda DIY.

Jogya sebagai kota sejarah masih menyimpan koleksi-koleksi bangunan sejak zaman Belanda dan terpelihara hingga saat ini, dan salah satunya adalah asrama putera pelajar mahasiswa Sulawesi Tengah. Namun sangat disayangkan bangunan bersejarah itu telah berubah dari tampilan aslinya.

Kekecewaan warga DIY dan tentunya Pemda DIY melihat postur bangunan yang mereka andalkan selama ini telah berubah menjadi bangunan biasa yang tidak memiliki nilai artistik dan seni serta melupakan nilai sejarah.

Dari deretan asrama-asrama pelajar mahasiswa yang ada di Bintaran Tengah itu, sangat diakui oleh warga DIY bahwa asrama pelajar mahasiswa Sulteng yang “terbaik”. Pengakuan ini dinyatakan secara langsung oleh Pak Marso (alm) dan Pak Kaum (alm) yang merupakan warga DIY yang tinggal di sekitar Bintaran Tengah nomor 8 Jogya di tahun 1982/1983 saat kami anak-anak asrama BT 8 behutang makanan kepada almarhum.

Bagi generasi-generasi baru saat ini yang mendiami BT 8 memandang bahwa BT 8 perlu direnovasi karena bangunan lama. Dari sudut pandang renovasi bangunan memang dibutuhkan, namun harus menjaga nilai-nilai sejarah, seni dan artistik. Banyak bangunan lama milik pemerintah daerah di Indonesia yang direnovasi bahkan dilakukan pembangunan baru tetapi dikembalikan kepada postur aslinya.

Terkesan, ada mis komunikasi yang terjadi antara pemerintah daerah provinsi Sulawesi Tengah dengan pengurus asrama atau bisa saja adanya ketidakpahaman tentang sejarah asrama ini oleh Pemda Sulteng apalagi adik-adik generasi sekarang yang menempati atau tinggal di asrama.

Pada saat kita melaksanakan reuni I tahun 2019, memang hampir sebagian alumni terutama yang senior-senior seperti Kanda Hardjono Caco, Isdar Aldjufri, Kasim Aldjufri, Winarso Saida dan lainnya agak sedikit kaget dengan perubahan fisik asrama.

Di tahun 1960-an, 1970-an dan 1980-an postur fisik asrama BT 8 tampak dari depan sering dijadikan latar belakang untuk foto bersama keluarga, sahabat, kerabat dan lainnya yang berkunjung ke BT 8. Bahkan mantan Gubernur Sulteng Galib Lasahido bersama ibu menyempatkan foto bersama di depan asrama BT 8. Bahkan penulis sendiri pernah foto bersama dengan mantan Bupati Tolitoli Mayjen TNI M Sulaiman (alm) bersama isteri dan memilih latar belakang depan asrama. Mantan Bupati Tolitoli itu ingin bertemu dengan salah satu warga Tolitoli yaitu Moh. Yusuf Bantilan (Jono) di tahun 1983.

Nilai kesejarahan BT 8 telah dilupakan oleh generasi saat ini. Dan sangat disayangkan bila Pemda Provinsi Sulteng tidak mengetahui hal itu. Bapak Gubernur Sulteng H. Longki Djanggola pada saat menjabat sebagai Kepala Perwakilan Pemda Sulteng dahulu beberapa kali berkunjung ke asrama BT 8, dan tidak ada niat beliau pada saat itu untuk merenovasi asrama BT 8. Namun bantuan yang diberikan kepada asrama BT 8 selalu diberikan setiap tahunnya untuk keperluan operasional perbaikan fisik-fisik bangunan asrama yang rusak.

Kinerja Pemda Sulteng menjadi sia-sia, karena Pemda DIY te;ah menyurati Pemda Sulteng terkait pembangunan atau renovasi asrama BT 8 ini dan menyayangkan serta kekecewaan mendalam akan perubahan postur fisik asrama BT 8. Hal yang wajar jika Pemda DIY merasa kecewa dengan peristiwa ini, karena telah mengurangi bobot kota Jogya sebagai kota sejarah dan ada rasa malu yang mendalam terhadap turis-turis Belanda yang mengetahui bahwa peninggalan Belanda itu telah berubah secara mendasar.

Kita berharap di kepemimpinan baru Sulteng kedepan. Setelah pelantikan pak Cudi dan pak Makmun sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Sulteng terpilih, ada proposal baru masuk untuk meminta Pemda Provinsi Sulteng merenovasi kembali asrama BT 8 Jogya dan dikembalikan kepada bentuk fisik awalnya. Kita berkeyakinan dan banyak yang berkeyakinan seperti itu bahwa Cudi–Makmun akan merespons hal ini.

Sebuah penerapan kebijakan dalam bentuk apapun menurut Edward III (1984) ditentukan oleh 4 (empat) variabel kunci yang saling berkaitan, yaitu komunikasi, sumber daya, disposisi dan struktur birokrasi.

Komunikasi antara alumni dan Pemda Sulteng dan Pemda DIY terus dilakukan, dengan memanfaatkan sumber daya manusia, sumber daya kewenangan, sumber daya teknologi bahkan sumber daya anggaran, dan yang lebih penting lagi menurut Edward III adalah disposisi atau keinginan dan kemauan yang kuat dari semua pemangku kepentingan terutama para alumni yang mengetahui betul nilai-nilai sejarah asrama BT 8 ini untuk melakukan renovasi atau pembangunan kembali asrama BT 8.

Setelah komunikasi, sumber daya dan disposisi sudah ditetapkan, maka unsur pelaksana di bawah Gubernur, apakah Bagian Kesra, Dinas PU atau OPD terkait yang akan melakukan penerapan kebijakan itu.

Sebagai saran atau masukan dalam penulisan ini jika semua alumni BT 8 menyetujui kita merekomendasikan kepada sahabat-sahabat yang pernah mendiami asrama BT 8, dan kepada semua yang merasa peduli dengan BT 8 Jogya dapat menindaklanjuti proposal ini untuk diteruskan kepada Bapak Gubernur Sulteng/Wagub Sulteng terpilih Rusdy Mastura – Makmun Amir.

*) Penulis adalah alumni Institut Sains dan Teknologi Akprind Jogyakarta.

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.