Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Bintaran Tengah Nomor 8 Jogyakarta (Part 3)

Anomali, Krisis dan Revolusi Ketenaran dan Popularitas dalam Perspektif Sosiologi Pemerintahan Oleh : Dr. Syarif Makmur, M.Si. *)

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

REFERENSI berharga bagi publik di Indonesia terkait pernyataan dan tulisan singkat mantan Presiden RI ke-tiga Prof. Dr. B.J Habibie yang menyebut “kembali ke nol”. Ketenaran dan popularitas jabatan, pangkat, harta, anak-anak yang kayaraya dan sukses, serta simbol lainnya akan tidak bermakna dan kembali ke nol, demikian ungkapan penuh makna seorang teknokrat, ilmuwan dan mantan Presiden RI itu.

Habibie tidak sendiri masih banyak lagi manusia-manusia hebat, popular dan penuh ketenaran tingkat dunia yang di akhir kehidupannya tunduk, patuh dan menyerah. Soekarno, Soeharto, Marcos di Philipina, Reza Pahlevi di Iran, dan segudang orang-orang top, popular dan tenar kelas dunia pada akhirnya menyerah dan pasrah pada keterbatasan kemampuan dan kompetensi yang diberikan Allah SWT.

Kalimat Bintaran Tengah nomor 8 Jogyakarta yang penulis maknai sebagai penyanggah kehidupan dan pusat peradaban dan pusat kebijaksanaan yang menghasilkan manusia beruntung dan penuh kedamaian, telah menghasilkan dimensi-dimensi kehidupan penting.

Ada 6 (enam) aspek atau dimensi kunci dari makna diatas, yaitu penyanggah kehidupan, pusat peradaban, pusat kebijaksanaan, kemanusiaan, keberuntungan dan kedamaian. Dari enam aspek atau dimensi kunci itu, maka penulis akan menyoroti sesuai judul diatas yaitu pada aspek kemanusiaan dan aspek peradaban.

Thomas Kuhn ( 1962) seorang ahli fisika dalam bukunya “ the structure of scientific revolution” menyebutkan bahwa tidak ada konsep, teori, dalil, ide dan gagasan yang dapat bertahan secara normal. Semua paradigma kata Kuhn akan mengalami anomaly, krisis bahkan revolusi dan menuju paradigma baru.

Sedikitnya ada 8 (delapan) orang doktor yang dibentuk dan terproses dari BT 8 yang berkenaan penulis sebutkan yakni Dr. Abd Rasyid Thalib, Dr. Putut Marhayudi, Dr. Syarif Makmur, Dr. Andalusi, Dr. Fadli, Dr. Ashari, Dr. Udhut Sinaga, adalah doktor doktor yang tidak membutuhkan popularitas dan ketenaran sebagaimana di tempat-tempat lainnya.

Penulis mengenal sosok Andalusi, Fadli dan lainnya yang sangat diyakini kesederhanaan dan kesantunannya. Tidak tampak dan tidak terlihat kedalaman keilmuan yang dimiliki Andalusi dan Fadli yang sebenarnya jauh lebih hebat kedalaman ilmunya dibanding penulis sendiri, yang masih membawa gaya struktural sebagai sekretaris daerah.

Keteladan dan kesederhanaan alumni BT 8 Jogya ini dihasilkan dari proses interaksi, komunikasi, canda dan tawa, lelucon dan bahkan sampai ke tingkat ketersinggungan personal sebagaimana pernah dialami Syamsul Bahri Mang (Obama), yang pada prinsipnya adalah pola-pola pembentukan watak dan karakter selama di asrama. Gaya atau style anak-anak Palu, Donggala, Luwuk, Tolitoli dan Buol, Poso selama di asrama BT 8 harus dimaknai sebagai proses transformasi kultur dan pengalaman bahkan transformasi keilmuan yang tidak disadari pada waktu itu. Mungkin terlalu subyektif jika penulis menyebutkan bahwa gaya kepemimpinan senior kita Sabaruddin Sinaga sebagai ketua asrama pada saat itu patut diberikan jempol. Dengan gaya yang santun, sederhana dan terhormat Sabaruddin Sinaga mampu mengkoordinir anak-anak Luwuk, Tolitoli, Palu, Donggala, Buol dan Poso.

Bukan hal yang muda memimpin asrama BT 8, karena banyaknya pemikir-pemikir cerdas yang dapat secara spontan mengkritik kebijakan ketua asrama. Mungkin para alumni masih ingat mengenal sosok Winarso Saida, jangankan ketua asrama, gubernur Galib Lasahido dikririknya habis-habisan. Namun style Winarso dapat dilemahkan dan dijinakkan oleh gaya kepemimpinan senior kita Harjono Caco. Kultur Palu – Donggala masih mendengar apa yang dikatakan Isdar Aldjufri (Dedis), kultur Luwuk dapat diarahkan dan diluruskan oleh Hardjono Caco, demikian pula kultur Tolitoli dapat dinormalkan oleh senior kita Moh. Yusuf Bantilan (Jono), Nasrullah dan Ruslan Syamsuddin, demikian seterusnya.

Bagaimana ketekunan belajar seorang Djadil Lambaga yang menggeluti ilmu perminyakan di UPN Veteran patut dihormati dan diberikan jempol. Penulis sendiri banyak belajar motivasi dari Bang Djadil Lambaga dan hasilnya dapat penulis rasakan saat ini. Kebanggaan akan jabatan, kedudukan, harta, pangkat dan lainya dapat diturunkan tensinya sampai ke nol persen bila mengingat dan merasakan kehidupan sewaktu di asrama BT 8 Jogyakarta.

Anak-anak yang surplus ekonominya seperti Djono Bantilan, Hardjono Caco, Djadil Lambaga, Mustamin Mustatim (Jhon), Sutarjo Ambo Tang (Ajo), Ruslan Syamsuddin, Obama, Sabaruddin Sinaga, dan lainnya menjadi tumpuan harapan anak-anak yang defisit secara ekonomi seperti penulis sendiri, Rukminto, Haries Mailili, Sarkian Sangkota, dan lainnya.

Jika kita menganalisis hal ini tampak bahwa proses sosial ini tidak terjadi secara kebetulan, tetapi kita meyakini ada skenario Allah SWT mempertemukan kita di asrama BT 8 ini. Keterjepitan dan keterdesakan ekonomi asrama pada bulan-bulan yang sulit terbantukan oleh kehadiran ibu Tinggi yang berani membeli sajadah, kipas angin, jeans bekas, baju bekas hingga hutang pribadi.

Pak Marso dan Pak Kaum juga dapat dijadikan simbol rujukan analisis kemanusiaan terkait prilaku anak-anak asrama BT 8 yang berhutang makanan dengan jaminan KTP, dan sebagainya. Mungkin perlu sebuah analisis yang butuh penelitian terhadap prilaku anak-anak asrama dalam menyelesaikan studi.

Bergabungnya Hardjono Caco dan Winarso Saida dalam satu kamar mempengaruhi lama dan waktu studi, demikian pula bergabungnya Awaluddin Yasin dan Syamsul Bahri Mang amat berpengaruh terhadap penyelesaian studi karena menyatunya dua karakter yang aman dan nyaman, demikian pula Moh. Syaifuddin Zuhri, Sarkian Abas dan penulis sendiri dalam satu kamar amat menentukan pembentukan watak dan karakter serta penyelesaian studi walaupun terjadi sedikit anomaly dan krisis saat itu.

Analisa-analisa seperti ini mungkin bagi sebagian warga asrama merupakan hal yang biasa, tetapi pada dasarnya telah terjadi transformasi kultur, etos kerja dan kebiasaan dalam proses interaksi, komunikasi dan kolaborasi selama bertahun-tahun dalam kehidupan asrama. Dari semua argumentasi faktual dan teoretik diatas dapat penulis kemukakan bahwa Bintaran Tengah nomor 8 Jogyakarta telah menjadi pusat peradaban dan pusat pembentukan prilaku kemanusiaan yang mengedepankan prinsip kemanusiaan yang adil dan beradab, sehingga dapat meruntuhkan paradigma ketenaran dan popularitas jabatan, harta dan kekayaan, serta gelar yang menjadi kebanggaan dan kehormatan manusia saat ini.

Pendekatan kemanusiaan yang merupakan ciri dan khas Kota Jogya telah memberikan spirit dan motivasi dimana saja para alumninya bertugas. Bangsa dan negeri ini bahkan dunia ini, jika lebih mengutamakan pendekatan kemanusiaan maka dalam semua proses kehidupan, tidak akan ditemukan gesekan, konflik bahkan perang dunia sekalipun.

Ikatan pertemanan, ikatan persahabatan, ikatan kekeluargaan, soliditas dan solidaritas yang menjadi andalan BT 8 Jogya akan sangat bermakna bagi kehidupan generasi muda Sulawesi Tengah ke depan. Manusia Terbaik adalah yang Terbaik bagi Sesamanya.

*) Penulis adalah alumni Institut Sains dan Teknologi Akprind Jogyakarta.

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.