Bintaran Tengah Nomor 8 Jogyakarta : Inspirasi, Kehormatan dan Kebanggaan Putera Sulawesi Tengah

Oleh : Dr. Syarif Makmur, M.Si. *)

- Periklanan -

MENDENGAR kalimat Bintaran Tengah Nomor 8 Yogyakarta pastilah bagi warga Sulawesi Tengah khususnya para pelajar mahasiswa atau mantan pelajar mahasiswa yang berada di Palu, Donggala, Tolitoli, Banggai, Poso dan Buol, akan membuka memori mereka tertuju kepada sebuah nama yang sangat akrab dan familiar “Asrama Putera Pelajar Mahasiswa Sulawesi Tengah Jogyakarta” yang beralamat lengkap di Jalan Bintaran Tengah Nomor 8 Jogyakarta ( BT 8).

Nama Bintaran Tengah Jogyakarta menjadi cukup populer karena di jalan ini ada sederetan asrama pelajar mahasiswa, selain Asrama Putera Pelajar Mahasiswa Sulteng, ada asrama puteri Bundo Kanduang (Sumbar), ada Asrma Mahasiswa Putera/Puteri Kalimantan Barat, dan ada Asrama Putera Riau.
Asrama putera pelajar mahasiswa Sulteng juga sudah populer sejak tahun 1960-an hingga saat ini. Populeritas ini didukung dan dikontribusi oleh sederetan nama-nama mantan petinggi Sulawesi Tengah yang namanya terabadikan.

Mereka adalah Galib Lasahido (mantan Gubernur Sulteng), Saleh Sandagang (mantan Sekwilda Provinsi Sulteng), Arif Patanga (mantan Bupati Poso), Moh. Maruf Bantilan (mantan Bupati Tolitoli dua periode), Basri Sono (mantan Sekwilda Banggai), Irianto Malingong (mantan Bupati Banggai Kepulauan), dan masih ada lagi nama-nama alumni yang sukses dan berhasil terabadikan dalam catatan sejarah Asrama Bintaran Tengah Nomor 8 Jogyakarta.

Asrama Bintaran Tengah Nomor 8 Jogya ini bukan hanya sekadar nama, tetapi ada filosofi dari kalimat Bintaran Tengah Nomor 8 Jogyakarta.

Bintaran artinya penyanggah kehidupan umat manusia dari berbagai macam ruang. Kata Tengah, secara ilmu statistik berarti rata-rata, mean dan median, atau jika dikembangkan artinya menjadi pusat atau centre, yang turunan artinya bermakna pusat ilmu, pusat peradaban, pusat kearifan dan pusat kebijaksanaan. Angka “8” menurut fengsui China adalah angka keberuntungan bagi yang meyakininya. Dan Nama Yogyakarta diambil dari dua kata, yaitu Ayogya atau Ayodhya yang berarti “kedamaian” (atau tanpa perang, a “tidak”, yogya merujuk pada yodya atau yudha, yang berarti “perang”), dan Karta yang berarti “baik”. Ayodhya merupakan kota yang bersejarah di India, dimana wiracarita Ramayana terjadi.

Dari argumentasi filosopi di atas, dapat ditafsirkan maknanya bahwa Bintaran Tengah 8 Jogyakarta adalah penyanggah kehidupan yang menjadi pusat peradaban dan pusat kebijaksanaan serta menghasilkan manusia-manusia beruntung yang penuh kedamaian.

Jogyakarta telah merubah pemikiran, sikap dan perilaku putera-puteri Sulawesi Tengah yang menuntut ilmu di kota gudeg ini (David dan Newstroom, 1996). Kota yang ramah dan santun ini telah merubah watak asli putera-puteri Sulteng yang keras, emosional, ketidaksabaran, ketidaktelitian berubah menjadi santun, penurut, sabar, dan sederhana.
Orang-orang sukses dan berhasil namun tetap konsisten dengan kesederhanaan mereka dihasilkan dan ditempa dari Asrama Bintaran Tengah ini. Seluruh alumni BT 8 pasti akrab dengan kata-kata Pak Marso, Pak Kaum, Ibu Tinggi dan slogan lainnya.

Tempaan kehidupan asrama yang cukup keras, dan dalam zona-zona kehidupan yang cukup prihatin telah menghasilkan orang-orang hebat. Di atas angkatan penulis, terabadikan nama Arifin Lambaga yang saat ini sebagai Presiden Direktur PT. Mutu Agung Lestari, ada Hardjono Tjatjo senior penulis yang pernah sukses menjadi Wakajati NTT.

- Periklanan -

Dan yang sangat fantastis, Asrama Bintaran Tengah Nomor 8 ini telah menghasilkan 3 (tiga) orang doktor, masing-maisng penulis sebutkan namanya yang amat terpelajar Dr. Abdul Rasyid Talib, saat ini sebagai dosen tetap Fakultas Hukum Universitas Tadulako, Dr. Putut Marhayudi saat ini sebagai Direktur Penyelenggara Jasa Konstruksi Kementrian PUPR, dan penulis sendiri yang saat ini sebagai kandidat ahli madya analis kebijakan, dan kandidat peneliti ahli utama Kementrian Dalam Negeri.

Di jabatan politik, terabadikan nama Moh. Syamsul Bahri Mang mantan ketua DPRD Kabupaten Banggai dua periode, Sri Indraningsih Lalusu, ketua Komisi A DPRD Provinsi Sulteng, Sulaiman Malingong Ketua DPRD Kabupaten Banggai Kepulauan, dan sederetan nama-nama lainnya yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

Kebanggaan dan kehormatan pun tidak hanya diberikan kepada alumni yang disebutkan di atas, tetapi berangkat dari definisi dan penafsiran kalimat Bintaran Tengah 8 Jogyakarta, maka ada sederetan nama-nama alumni yang konsisten dan komitmen dengan kesederhanaan dan kebijaksanaan kehidupan mereka. Nama Abdul Haries Mailili adalah sosok alumni yang dikenal hingga saat ini sangat familiar, sederhana dan sangat berempati. Ada nama Sutrisno K. Jawa yang saat ini sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah Luwuk, dan sejumlah nama lainnya.

Bintaran Tengah Nomor 8 Yogyakarta bukan hanya sebagai penyanggah kehidupan, tetapi ia telah berhasil menjadi pusat perubahan pemikiran, sikap dan perubahan perilaku alumninya. BT 8 pun telah menjadi pusat inspirasi bagi alumninya dalam menatap masa depan.

Bagi alumni BT 8, kesuksesan dan keberhasilan dunia hanyalah kulit-kulit kehidupan (Gus Baha, 2019), tetapi kesuksesan dan keberhasilan yang abadi adalah bermanfaatnya kehidupan bagi sesamanya (Alquran dan Hadist). Hal ini ditunjukkan oleh kecerdasan spiritual dan kecerdasan emosional beberapa alumni BT 8, diantaranya Isdar Aldjufri, Sahran Lambaga, Bahri Yusuf, Moh. Zuhri Hamadin, Awaluddin Yasin, dan lainnya.

BT 8 Jogyakarta telah membawa pesan-pesan perdamaian dan kedamaian selama beberapa dekade. Bagi para alumni BT 8, kebenaran naqliyah (hati) menjadi penuntun bagi kebenaran akliyah (akal). BT 8 Jogya pun telah menghasilkan alumni-alumni yang saat ini menggeluti ilmu-ilmu Islam yang mendalam, sehingga suatu saat nanti mereka pun dapat tampil untuk membagi kelebihan ilmu itu kepada masyarakat. Apalagi dalam beberapa saat kedepan, umat Islam akan menyambut dan melaksanakan bulan suci Ramadan 1443 H, maka sudah pasti soliditas dan solidaritas pertemanan, persahabatan dan kekeluargaan alumni BT 8 Jogyakarta akan terus dipelihara, terjaga dan dikembangkan.

Sukses Alumni BT 8 Jogyakarta, Selamat Menyambut Bulan Suci Ramadan 1443 H. Minal Aidin Walfaidzin. Inspirasimu menjadi kebanggaan dan kehormatan generasi Sulteng kedepan.

*) Penulis adalah alumni Institut Sains dan Teknologi Akprind Jogyakarta.

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.