alexametrics Bimtek Kebahasaan Linguistik Forensik Sangat Penting – RADAR SULTENG
Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Bimtek Kebahasaan Linguistik Forensik Sangat Penting

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

PALU-Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) menggelar bimbingan teknis (Bimtek) Kebahasaan Bidang Linguistik Forensik. Kegiatan ini dibuka oleh Kapolda Sulteng yang diwakili Direktur Reskrimum Polda Sulteng, Kombespol Novia Jaya, yang digelar disebuah hotel di Kota Palu Jumat (8/4).

Pada kesempatan pembukaan, sambutan Kapolda Sulteng yang dibacakan oleh Dir Reskrimum Polda Sulteng Kombespol Novia Jaya, mengatakan linguistik forensik merupakan gabungan dari dua disiplin ilmu, yaitu ilmu linguistik dan ilmu forensik. Dalam perkembangan selanjutnya, ilmu forensik menjadi bidang ilmu pengetahuan yang digunakan untuk membantu menjawab secara ilmiah tentang bukti-bukti yang terkait dengan penegakan hukum.

“ Mengingat bahwa bukti-bukti yang tertinggal setelah tindak kejahatan terjadi maka tidak hanya berupa bukti non verbal seperti senjata, peluru, sidik jari, dll. Tetapi juga dapat meninggalkan bukti verbal, yaitu bahasa. Maka untuk keperluan pembuktian apakah bahasa yang tertinggal itu dapat menjadi bukti untuk kasus kejahatan tersebut, diperlukan suatu kajian ilmiah, “ tegas Kapolda.

Menurut Kapolda, hasil kajian ilmiah atas bahasa dalam kaitannya dengan penegakan hukum inilah yang disebut sebagai linguistik forensik. Karena itu, tandas Kapolda, ilmu linguistik forensik ini sangat penting, karena bertujuan mencari sebab musabab atau akar penyebab terjadinya sebuah peristiwa.

“ Ilmu linguistik forensik juga terkait dengan persoalan penegakan hukum dan keadilan. Peristiwa dan penegakan hukum yang ditangani para penegak hukum (Kepolisian, Kejaksaan, Advokasi dan beberapa lembaga terkait), salah satunya berpangkal dari penggunaan bahasa, sehingga para penegak hukum perlu memahami ilmu linguistik forensik, “ beber Kapolda.

Selain itu juga, ilmu linguistik forensik bertujuan meningkatkan kompetensi penegak hukum dalam melakukan tindakan wawancara investigatif yang memenuhi prasyarat hukum.

“ Jadikan kegiatan Bimtek ini sebagai sarana untuk menambah dan mengasah kemampuan penegak hukum, sehingga menjadi lebih professional dan berkualitas dalam mengungkap kasus yang sedang maupun yang akan ditangani, “ tegasnya.

Sementara itu, Kepala Balai Bahasa Sulteng, Dr. Sandra Safitri Hanan, S.S., M.A, dalam materinya memperkenalkan struktur, tugas dan fungsi Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Tengah yang terstruktur secara langsung di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Pada kesempatan itu, Kepala Balai Bahasa Sulawesi Tengah, Sandra Safitri Hanan, juga menjelaskan lima program yang harus dilaksanakan oleh Balai Bahasa Sulteng, yaitu program fasilitasi dan pembinaan lembaga, fasilitasi dan pembinaan media massa, fasilitasi dan pembinaan masyarakat, penelitian dan pengembangan produk, penelitian dan pengembangan modeling. Dari program tersebut, kedepan Balai Bahasa akan melaksanakan sastra lisan di Kabupaten Tolitoli, dan sastra lisan Kayori di Kabupaten Poso.

Pemateri kedua pada Bimtek kemarin, dibawakan oleh Wakil Direktur (Wadir) Direskrimum Polda Sulteng AKBP Siradjuddin Ramly, SH., MH, memaparkan pokok-pokok pikiran atau materinya dengan judul Penanganan Kasus Penggunaan Bahasa yang Berdampak Hukum. Paparan Wadir cukup lugas yang membedah dan menganalisis kerja-kerja para penyidik Polda Sulteng dalam menanagani berbagai perkara pidana.

Siradjuddin menjelaskan tiga tugas utama Polri yakni memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, penegakan hukum, mengayomi dan melindungi masyarakat. Dikatakannhya upaya hukum polisi adalah preemtif, preventif, dan reserse.

“ Yang bisa dipidana dalam bahasa hukum atau linguistik forensik adalah penghinaan, pencemaran nama baik, fitnah, pengancaman, ujaran kebencian, SARA, hoax, dll, “ ungkapnya.

Bahwa metode penyelidikan polisi dilakukan secara terbuka dan tertutup. Dengan menggunakan jalur tindak pidana yaitu laporan, pengaduan, dan tertangkap tangan.

Sementara dalam kasus ITE, atau kasus siber diberi teguran kepada yang melanggar aturan ITE. Dimana polisi kini melakukan patroli siber. Bila menemukan sebuah kasus, polisi mengundang ahli bahasa apakah kontennya melanggar maka dilakukan teguran.(mch)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.