Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Biaya Pendidikan Berpotensi Picu Inflasi Juli

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Ilustrasi. (@Anton)

PALU – Bulan Juli ini memasuk tahun ajaran baru. Dipastikan, kebutuhan/permintaan masyarakat terhadap berbagai barang kebutuhan pendidikan seperti pakaian seragam sekolah, alat tulis dan berbagai perlengkapannya meningkat.

Sesuai dengan hukum ekonomi, bila permintaan meningkat dipastikan harga juga akan mengalami peningkatan. Bila tidak dilakukan langkah antisipasi dipastikan kenaikan biaya-biaya yang berhubungan dengan pendidikan ini dipastikan akan memberi kontribusi signifikan terhadap inflasi Bulan Juli 2017, termasuk di Kota Palu.

“Harus ada intervensi (dari pemerintah, red) agar kenaikan biaya pendidikan bisa diminimalisir,” ujar Faizal Anwar, Kepala BPS Sulteng di kantornya, kemarin.

Bila kenaikan biaya pendidikan bisa diminimalisir, kata dia, dampaknya terhadap inflasi Bulan Juli juga bisa diminimalisir. Pihak BPS mengaku sudah menyampaikan masukan ke pihak Pemerintah daerah terkait dengan potensi inflasi yang disebabkan kenaikan biaya pendidikan pada momen tahun ajaran baru tahun ini.

Saran-saran ke Pemda tersebut di antaranya adalah meminimalisir adanya biaya-biaya dan atau pungutan-pungutan yang bebankan kepada siswa, termasuk terhadap siswa baru. Selain itu, Pemda juga mesti melakukan antisipasi terhadap kenaikan harga berbagai barang kebutuhan sekolah seperti pakaian seragam, alat tulis dan perlengkapan-perlengkapan lainnya.

“Kalau harga bawang putih naik, dilakukan operasi pasar. Jadi, kalau harga pakaian seragam sekolah naik, operasi pasar juga harus dilakukan,” ujar Faizal sambil bergurau.

Sebagai gambaran, Juli 2016 lalu, Kota Palu mengalami inflasi sebesar 0,39 persen. Dipengaruhi oleh naiknya indeks harga pada kelompok pengeluaran pendidikan, rekreasi, dan olahraga sebesar 2,68 persen. Menyusul kelompok sandang 1,01persen, perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,30 persen, transpor, komunikasi, dan jasa keuangan 0,28 persen. Selanjutnya, kelompok kesehatan sebesar 0,25 persen, makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 0,14 persen, serta kelompok bahan makanan sebesar 0,07 persen.

Bila dilihat per komoditi, disumbang oleh ikan mujair sebesar 0,19 persen, menyusul biaya pendidikan SD dan bawang merah dengan angka kontribusi sama, yakni 0,11 persen. Selanjutnya, tarif angkutan udara memberi kontribusi sebesar 0,05 persen, besi beton 0,04 persen, beras 0, 04 persen, emas perhiasan 0,03 persen, bawang putih 0,03 persen dan biaya pendidikan SMP sebesar 0,03 persen. (ars)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.