Biasakan Terima Cercaan Daripada Pujian

Prof Nasaruddin : Ketidakadilan Musuh Bersama

- Periklanan -

JAKARTA – Imam Besar Istiqlal, Prof Dr Nasaruddin Umar, Ph.D saat menjadi narasumber usai pembukaan rakernas FKPT, Senin, (18/2) menekankan perlunya sikap mental ikhlas menerima cercaan ketimbang pujian. Hal tersebut dilatarbelakangi dengan pengabdian di bidang deradikalisasi tidaklah mudah.

”Lebih banyak cercaan ketimbang pujian. Biarlah kita dicerca di bumi namun dikenal penghuni langit, daripada banjir pujian penduduk bumi, namun tidak dikenal di langit,” ungkapnya seraya menyebutkan, begitulah akhlak setiap orang yang mengaku beriman.

Mantan Wakil Menteri Agama ini memuji pengurus FKPT adalah orang-orang yang terpilih dari provinsi masing-masing. Setiap orang adalah tokoh di bidangnya masing-masing. Menurutnya, suara FKPT sangat layak untuk didengarkan para wakil rakyat yang duduk di legislatif, sehingga bisa mendapatkan daya dukung lebih besar, masyarakat sejahtera serta aman dari radikalisme.

Mantan Dirjen Bimas Islam ini mengajak FKPT untuk menggali kearifan lokal serta membaca sejarah. “Orang yang tak paham sejarah, bisa masuk ke lubang yang sama,” ungkapnya.

- Periklanan -

Dahulu, kata pria kelahiran Bone, Sulawesi Selatan, kekuatan politik sangat lokal, yakni masa kerajaan. Kini peta politik berubah. Perubahan itu harus dipahami dan dicermati. Termasuk radikalisme global.

“Iran dan Irak kurang apa dalam keislamannya, kenapa terpapar radikalisme? Kita harus pelajari sejarah. Dalami data dan angka. Modal keamanan yang dimiliki Indonesia harus dijaga,” imbuhnya dengan mimik serius.

Indonesia, lanjutnya, pernah diprediksi empat kali akan pecah. Namun tidak terjadi. Apa sebab? Menurut tokoh yang pioner perihal dialog antar umat beragama di dunia ini adalah sikap hidup beragama yang toleran.

“Jangan mudah mengklaim kafir. Ahmadiah. Syiah. Sebab perpecahan umat beragama inilah yang sedang dilakukan pihak yang menghendaki Indonesia bubar,” tegasnya seraya menyebut, radikalisme adalah anak kandung globalisasi. Selanjutnya karena globalisasi menghasilkan ketidakadilan. ,”Ketidakadilan inilah musuh bersama,” demikian tegas Prof Nasaruddin. (Lib)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.