Bertemu Presiden, Rektor IAIN Palu Jadi Jubir Pimpinan PT

- Periklanan -

Rektor IAIN Palu, Prof Dr H Zainal Abidin MAg saat bersama Presiden RI, Joko Widodo di istana negara, Jumat (25/8). (Foto: dok pribadi)

PALU – Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu, Prof Dr H Zainal Abidin MAg mendapat kesempatan istimewa menghadiri undangan Presiden Republik Indonesia Ir Joko Widodo, ke istana negera, bersama 15 pimpinan Perguruan Tinggi (PT) lainnya, pada 25 Agustus 2017 lalu.

Berawal dari 2 kali Forum Group Discussion (FGD) yang dihadiri oleh hampir seluruh pimpinan perguruan tinggi se-Indonesia baik negeri maupun swasta di Denpasar, Bali yang membahas terkait menangkal faham radikal.

“Pada pertemuan kedua itu, stering comite dan organizing comite sepakat untuk membuat sebuah kegiatan besar, aksi nyata untuk menangkal radikalisme,” ujar Prof Zainal kepada Radar Sulteng ditemui di ruang kerjanya, Rabu (30/8).

Dengan disepakatinya akan dilaksanakan sebuah kegiatan besar yang rencananya akan berskala internasional tersebut, lanjut Prof Zainal, para pimpinan perguruan tinggi se-Indonesia yang hadir pada pertemuan di Denpasar, Bali kala itu sepakat untuk membicarakannya bersama Presiden.

Rektor IAIN Palu yang juga Ketua Umum MUI Kota Palu itu menambahkan, saat dikonfirmasi ke pihak istana, alhamdulillah pihak pihak istana menyetujui pertemuan pimpinan perguruan tinggi bersama Presiden.

- Periklanan -

“Namun tidak semua pimpinan perguruan tinggi yang mengikuti FGD saat itu, diundang ke istana. Hanya diminta perwakilan. Ada 16 pimpinan perguruan tinggi kala itu yang menjadi perwakilan ke istana negara untuk bertemu Presiden, dan tidak tahu kenapa, saya yang ditunjuk jadi juru bicara (jubir, red) para pimpinan perguruan tinggi,” cerita Prof Zainal.

Saat berbincang dengan Presiden, Prof Zainal menjelaskan yang disampaikan kepada Presiden ialah terkait rencana pimpinan perguruan tinggi baik swasta maupun negeri akan melakukan sebuah aksi yang nama kegiatannya Pertemuan Pimpinan Perguruan Tinggi Aksi Kebangsaan Melawan Radikalisme dan Terorisme.

“Selain menyampaikan rencana kegiatan tersebut, kami juga mengundang Presiden untuk menutup acara,” jelas Prof Zainal.

Kita undang saat penutupan kegiatan karena pembacaan poin-poin dari aksi tersebut, akan dibacakan pada saat penutupan. Kita laksanakan pembacaan poin-poin aksi itu di akhir acara, karena di hari pertama dan kedua nantinya kita akan isi dengan pembahasan tentang poin-poin aksi tersebut dan mendengar materi-materi dari Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam), Wiranto, Menteri Agama (Menag), Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Muhammad Nasir, serta beberapa Menteri lainnya.

“Dalam undangan ke seluruh perguruan tinggi nantinya, juga akan ditandatangani Menteri Agama dan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan sebagai turut mengundang, sehingga kegiatan ini nantinya kami laporkan ke Presiden akan dihadiri sekitar 3000 hingga 4000 pimpinan perguruan tinggi se-Indonesia, dan dilaksanakan di Bali sehingga kegiatan yang besar ini gaungnya hingga internasional,”jelasnya.

Kegiatan yang direncakanan sebulan pascapertemuan dengan Presiden itu, lanjut Prof Zainal, juga sudah mendapat respons positif dari Presiden. Bahkan Presiden kala itu, langsung mengintruksikan ke Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Pratikno yang turut hadir dalam pertemuan bersama perwakilan pimpinan perguruan tinggi di istana negara saat itu, untuk menjadwalkan kehadiran dirinya dalam kegiatan aksi menangkal faham radikal bersama pimpinan perguruan tinggi se-Indonesia di Bali yang rencananya digelar 25 September 2017 mendatang.

“Kegiatannya kita rencanakan sebulan pascapertemuan dengan Presiden. Sekitar tanggal 25,26,27 September atau mungkin juga akan dilaksanakan hingga awal Oktober mengingat saat itu, Hari Kesaktian Pancasila,” pungkasnya. (saf)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.