Portal Berita Online koran Harian Umum Radar Sulteng. Berbasis di Palu, Sulawesi Tengah dan merupakan Jaringan Media Jawa Pos National Network (JPNN)

Berburu Amalan di Penghujung Ramadan Lewat Salat Tasbih

Minimal Dilakukan Sekali Seumur Hidup, Cara Berterimakasih kepada Allah SWT

MAJELIS Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu bersama masyarakat Kota Palu melaksanakan Salat Tasbih berjamaah di malam ke 25 Ramadan di Masjid Al Ihsan, Jalan Otto Iskandardinata, Kamis dini hari (30/5). MUI Palu sebagai inisiator pelaksanaan Salat Tasbih berjamaah ini menginginkan umat Islam memanfaatkan malam-malam terakhir Ramadan untuk mendapatkan kemuliaan khususnya di malam-malam ganjil.
SAFRUDIN, Besusu Tengah
WAKTU sahur belum tiba, namun Masjid Al Ihsan, yang terletak di Jalan Otto Iskandardinata mulai didatangi satu persatu jamaah. Jamaah yang datang sejak pukul 01.00 dini hari ini, ternyata ingin iukut salat tasbih berjamaah. Salat yang dilanjutkan dengan sahur bersama para jamaah dan pengurus MUI Palu itu, juga dihadiri Penasehat MUI Palu, H Syamsudin Oemar tampak hadir bersama Ketua MUI Palu, Prof Dr H Zainal Abidin MAg dan Wakil Ketua MUI Palu, Drs Sagir M Amin MPdI. H Syamsudin mengingatkan pentingnya melakukan Salat Tasbih. Rasulullah kata dia, mengingatkan umat Islam agar melakukan Salat Tasbih minimal sekali seumur hidup.
“Kalau tidak bisa setiap hari, seminggu sekali. Kalau tidak, sebulan sekali. Kalau tidak bisa juga, setahun sekali. Minimal harus dilakukan sekali, seumur hidup. Itu paling minimal. Kalau mau banyak amal, harus sering-sering dilakukan Salat Tasbih. Apalagi ini bulan suci Ramadan, pahalanya berlipat-lipat dijanjikan Allah,” kata H Syamsudin yang juga inisiator gerakan Palu Subuh Berkah (PMB) dan Palu Magrib Berkah (PMB).
Di umurnya yang sudah senja, H Syamsudin yang juga Penasehat Hiswana Migas ini mengaku semakin semangat karena merasakan nikmat dalam beribadah. Bagi yang usianya masih muda lanjutnya, harus lebih semangat lagi dalam beribadah. Karena sambungnya, tidak ada jalan lain untuk mencapai kemuliaan selain dengan ibadah. Dia menambahkan, hari-hari terakhir Ramadan ini harus dimanfaatkan dengan sebaik mungkin dan diisi dengan berbagai aktifitas yang positif dan bisa bernilai ibadah agar Ramadan yang tinggal hitungan hari ini bisa dimanfaatkan dengan maksimal.
“Tidak ada yang bisa jamin, masih bisa bertemu Ramadan yang akan datang. Makanya manfaatkan betul-betul yang masih tersisa ini dengan maksimal untuk memperbanyak amal ibadah,” tambahnya.
Rangkaian Salat Tasbih dan sahur bersama itu juga diisi ceramah singkat oleh Ketua MUI Palu, Prof Zainal Abidin. Rektor pertama IAIN Palu ini membahas soal ibadah. Ibadah dijelaskannya terbagi menjadi dua, yakni ibadah mahda dan ibadah gairu mahda. Ibadah mahda kata dia ialah ibadah yang sudah diatur ketentuannya di dalam Alquran dan hadis. Dia mencontohkan seperti salat dan puasa serta zakat. Salat misalnya jumlah rakaatnya sudah diatur. Begitu pun dengan puasa yang jumlah harinya sudah ditentukan.
Serta zakat yang takarannya sudah ditentukan merupakan bagian dari ibadah mahda. Sedangkan ibadah gairu mahda ialah ibadah yang tidak diatur secara spesifik. Alquran kata pakar filsafat Islam ini sudah menyebutkan, saling menolonglah kalian dalam kebaikan. Tolong menolong lanjutnya merupakan bagian dari ibadah gairu mahda. Kalau menolong orang lain, tanpa bertanya, sukunya apa, agamanya apa, itu lanjut Prof Zainal adalah bagian dari ibadah yang kita lakukan.
“Lantas apa yang mendorong kita beribahah? Ibnu Sina, dia mengatakan ada tiga yang mendorong orang, memotivasi untuk melakukan ibadah. Yang pertama ada orang yang beribadah seperti pedagang. Pedagang itu, tidak mau kalau tidak untung. Jadi dia ibadah untuk mendapat imbalan. Saya Salat Tasbih, apa pahalanya. Salahkah ini? Tidak salah. Ada Alqurannya, ada hadisnya,” kata Zainal Abidin.
Yang kedua ada orang beribadah seperti budak. Budak itu sangat takut dengan tuannya. Orang beribadah seperti ini, karena takut neraka. Apakah ini salah? Tidak salah. Ini juga benar. Ada dalilnya dalam Alquran, ada dalilnya dalam hadis. “Yang ketiga, ini yang paling top di antara yang top. Yang tadi imbalan, sudah top. Yang takut neraka juga top. Tetapi ini yang mantap punya. Orang beribadah karena membalas jasa kebaikan Allah. Bersyukur atas semua anugerah dan nikmat Allah subhanawata’ala. Kenapa dia ibadah? Karena dia bersyukur sudah terlalu banyak nikmat Allah yang beri kepada saya, sepatutnya saya balas sebagai ucapan terima kasih. Tidak cuma sebatas Alhamdulillah, saya harus banyak-banyak beribadah kepada Allah,” tandas Prof Zainal di penghujung ceramahnya. (**)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.