Berangkat Pakai Modal Sendiri, Bertanding dengan Kuda Pinjaman

Haris Abbas, Atlet Memanah Berkuda yang Raih Prestasi di Kejurnas

- Periklanan -

Memanah dan berkuda dua olahraga yang ternyata bisa disatukan. Namun belum banyak yang mengetahui, ternyata ada cabang olahraga baru yakni memanah berkuda atau horseback archery. Sulawesi Tengah sendiri telah memiliki atlet horseback archery, yang baru-baru ini mendapat juara 3 dalam kejuaraan nasional olahraga tersebut.

AGUNG SUMANDJAYA

MESKI masih tampak lelah, selepas mendarat di Kota Palu, Haris Abbas tampak bersemangat ketika menceritakan kembali pengalamannya bertanding dalam kejuaraan nasional Horseback Archery di Magetan, Jawa Timur. Haris ikut kejuaran tersebut mewakili Sulawesi Tengah.

Hampir seluruh provinsi ikut serta dalam kejuaraan yang digelar di salah satu pesantren di Magetan tersebut. Ada empat kategori memanah berkuda yang dilombakan dalam kejuaraan itu. Mulai dari trangkil track, temboro style, korean style dan Diponegoro style. Haris berhasil menjadi juara pada kategori korean style. “Korean style ini, kita atlet harus memanah 5 target sambil berkuda di lintasan sejauh 100 meter. Jadi kuda juga menentukan kita bisa dapat poin atau tidak. Beruntung kuda yang saya naiki ini sangat cepat karena di lintasan 100 meter dia hanya memakan waktu 9 detik,” sebut Haris.

Meski menggunakan kuda, namun Haris tidak perlu repot membawa kuda jauh-jauh dari Kota Palu. Karena, selain memang belum memiliki kuda sendiri, dalam lomba itu panitia juga sudah menyiapkan kuda bagi peserta. “Jadi kudanya tidak bisa kita pilih. Karena untuk menentukan kuda mana yang kita gunakan, itu diundi. Beruntungnya kuda saya ini memang kuda cepat,” kata ayah tiga anak ini.

- Periklanan -

Semua kategori yang ada, diikuti oleh Haris. Namun poin tertinggi didapatkannya dari kategori korean style. Masing-masing kategori, ia menjelaskan, memiliki tingkat kesulitan berbeda. Untuk Trangkil Track, misalnya, peserta harus membidikan mata panahnya ke arah target dari atas kuda dengan jarak tempuh 600 meter. Sedangkan, Diponegoro Style memiliki empat target, yaitu dua kayu yang dipasang di garis pembatas track, jaring, dan bidang panahan. “Untuk penilaiannya sesuai skor yang dibidik. Jika nilai 2, maka akan diakumulasikan dengan kecepatan kuda,” lanjut Haris.

Semakin kencang laju kuda maka peserta lebih sulit membidik target. Namun itu harus dilakukan lantaran setiap kategori dibatasi waktu rata-rata 10 detik. Semakin singkat waktu dan ketepatan membidik maka nilainya akan tinggi. Olahraga yang memang terbilang baru ini, kata Haris, memang lebih banyak mengandalkan manusianya. “Insting kita untuk memanah harus tepat, karena posisi di atas kuda yang melaju,” jelasnya.

Khusus olahraga memanah, kata Haris, memang sudah lama dia geluti. Dia bahkan sudah memiliki sertifikat sendiri untuk melatih. Begitupun berkuda. Khusus di Sulawesi Tengah olahraga ini mulai dia kenalkan, lewat Persatuan Pemanah Berkuda (Perdana) yang menjadi organisasi olahraga ini. “Kebetulan saya juga ketuanya. Jadi atletnya juga baru sedikit, termasuk saya,” jelas Ketua Perdana Sulteng ini.

Meski membawa nama daerah, Haris berangkat hanya mengandalkan modal pribadi dan bantuan salah satu yayasan kemanusian, yakni Wahana Muda Indonesia (WMI). WMI sendiri merupakan yayasan yang banyak membantu pascabencana di Kota Palu, Sigi dan Donggala mulai pembangungunan masjid rusak dan bantuan-bantuan lainnya. “Kebetulan saya juga relawan di WMI, jadi ada bantuan lah dari yayasan tempat saya bernaung ini,” terangnya.

Dukungan moril pun, juga didapatkan Haris dari Sekretaris Provinsi (Sekprov) Sulteng, Hidayat Lamakarate. Menurut Haris Sekprov sangat mendukung keberadaan olahraga baru ini. Bahkan, Sekprov telah berjanji, bakal membantu Perdana Sulteng dalam menyiapkan kuda untuk berlatih. “Alhamdulillah, pak Sekprov telah menyatakan dukungannya terhadap olahraga ini. Kami yakin Sulawesi Tengah memiliki banyak potensi atlet yang bisa membanggakan daerah ini, apalagi kedepan olahraga ini akan masuk sebagai salah satu cabang olahraga pada PON,” tandas Haris. (**)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.