BEM Untad Dibekukan Sementara

- Periklanan -

Rektor Untad Prof Dr Muhammad Basir Cyio saat wawancara dengan sejumlah awak media di Kota Palu baru-baru ini. (Foto: Sugianto)

PALU – Rektor Universitas Tadulako Palu, Prof Dr Ir Muhammad Basir Cyio SE, MS langsung  menindaklanjuti instruksi Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo kepada seluruh rektor di masing-masing Perguruan Tinggi Nasional (PTN) se Indonesia.

Instruksi Mendagri meminta agar pihak kampus bisa mengendalikan kampus dari ajaran yang tidak membangun dimensi toleransi kebersamaan, keragaman, dan kebhinekaan. Olehnya itu, Rektor Untad mengambil jalan tegas menutup sementara aktivitas Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Untad.

“Kita agak tegas, karena ini sifatnya sudah perintah. Kenapa kami mengambil sikap begini, karena sudah ada gerakan yang dilakukan BEM mulai menyimpang,” tegas Rektor Untad, Prof Basir Cyio, kepada wartawan usai pelantikan Wadek Fakultas Hukum baru-baru ini.

Langkah tersebut, lanjut rektor, diambil Untad sebagai upaya tegas, jangan hal-hal seperti itu sampai ditunggangi pihak tertentu. “Bisa kami buktikan, kalau itu (aksi,red) beberapa waktu lalu ditunggangi. Tidak adanya bendera Untad yang dibawa saat melakukan aksi, dan waktu minta izin juga bukan atas nama BEM, tapi atas nama pergerakan. Ini jangan sampai merembes. Jangan ada anak-anak kita terlibat benturan,” khawatir Basir Cyio.

Dari sisi toleransi, kalau melakukan aksi sudah berbau radikal, biasanya melupakan kebhinekaan dan perbedaan-perbedaan yang ada. Dan itu merupakan bencana. “Karena itulah, Mendagri dan Presiden menegaskan bahwa kampus adalah daerah-daerah yang sangat strategis untuk mengambil bagian dalam meminimalkan radikalisme dan ajaran yang ke kiri-kirian,” katanya.

- Periklanan -

Kenapa hari lahir Pancasila 1 Juni barusan dijadikan hari libur nasional, dan bukan hari kesaktiannya lagi yang diperingati, itu juga sudah ada pertimbangan-pertimbangan yang sangat strategis. Supaya Pancasila benar-benar ada di hati kita masing-masing, ada di hati anak-anak kita di kampus. Sebab, ujar rektor, merekalah nantinya yang jadi pemegang tongkat estafet kepemimpinan bangsa ini.

“Supaya jangan karena beda suku, beda asal-usul, beda latar belakang, menjadi dasar untuk membangun suatu opini bahwa perbedaan adalah sesuatu hal yang tidak diterima. Padahal perbedaan adalah modal besar bagi bangsa kita ini. Karena dari dulu juga kita sudah berbeda-beda,” jelas Rektor Untad.

Dari 35 ribu jumlah mahasiswa Untad yang ada sekarang, masih kata rektor, yang kira-kira bisa dimanfaatkan pihak tertentu tidak banyak jumlahnya. Namun demikian, untuk mencegah jangan ini sampai melebar ke mahasiswa lain, makanya pihak rektorat melakukan identifikasi. Yang mana saja gerakan-gerakan yang bisa mengarah perpecahan di antara mahasiswa itu sendiri. Jangan sampai menjadi sumbu-sumbu perpecahan di luar sana dan jadi berkembang di dalam kampus.

“Ini menjadi tanggung jawab kita semua. Makanya pihak kampus lakukan pantauan. Sebenarnya kita tidak membenci mereka. Anak-anak kita ini masih labil. Masa pencarian identitas diri. Makanya selalu kita ingatkan kalau sudah ada gerakan begitu (mengerah ke radikal), itu bisa berbahaya untuk ke depan,” jelasnya.

Secara tegas, Untad akan mengambil bagian dalam memerangi gerakan radikalisme di kampus. Nah, yang harus dilakukan oleh mahasiswa adalah harus dewasa. Itulah bedanya mahasiswa dan siswa. Nama mahasiswa yang disandang mestinya harus berubah, dan perubahan itu biasanya dijadikan ajang mencari jati diri.

Seseorang mahasiswa sebut rektor, biasanya untuk menonjol membuat sesuatu yang tidak dimiliki oleh orang lain. Tapi kalau itu yang positif tidak masalah. Misalnya dia menang dalam lomba pidato bahasa Inggris. Tapi jangan menonjol justru dapat merugikan orang lain, dan itu dianggap bagian menunjukan jati diri.

“Menonjol dengan melakukan hal-hal yang tidak pas, kita hindari. Mestinya harus bersikap dan bertindak dewasa,” nasihat rektor kepada seluruh mahasiswa Untad. (egi)

 

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.