Belajar Survive dan Berdaya dari Tiga Ibu Hebat Penyintas Tsunami di Teluk Kesennuma

Catatan Perjalanan dalam Program Belajar UNESCO Disaster Prevention & DRR Strategy (5)

- Periklanan -

Hidup tidaklah sama lagi setelah bencana. Jauh lebih berat. Bencana telah mengambil semuanya dan kehilangan itu buruk. Tapi, mendapatkan kesempatan untuk hidup dan berhasil selamat adalah kesyukuran besar. Sebab itu, hidup terlalu berharga jika hanya diisi dengan kesedihan dan ratapan.

LAPORAN: Nur Soima Ulfa

- Periklanan -

BEGITULAH kira-kira pesan mulia yang saya dan teman-teman dapatkan saat bertemu dan mendengar kisah survive dari tiga ibu penyintas di Teluk Kesennuma, Prefektur Miyagi. Kami berkesempatan berbincang kurang lebih selama dua-tiga jam bersama mereka di kantor Shark Museum, usai bertemu dengan Prof Imamura pada Rabu pagi (23/2). Ya, kota ini ternyata punya industri pengolahan ikan dan hiu adalah salah satu hasil tangkapan terkenal.

Bertemu tiga ibu yang sudah tidak muda lagi tapi masih tetap cantik ini, bagi saya seperti oase di tengah padang pasir. Akhirnya kami bertemu dengan warga biasa dan mendengar kisah mereka selamat dari gempa dan tsunami pada 2011 silam. Sungguh sangat berharga dalam program belajar seperti ini.

Ditemani minuman hangat dan kue kering dari belut yang disuguhi oleh staf Shark Museum yang baik hati, kami pun memulai perbincangan. Awalnya Naoko Kajiwara (71), bercerita tentang Coco-Kara, nama kelompoknya dan juga brand produk yang dihasilkan. Ya, Kajiwara dan dua teman lainnya adalah pelaku usaha kecil menengah (UKM). Saat itu dia membawa contoh produknya dan memperlihatkan kepada kami.

Produk Coco-Kara berupa pernak-pernik cenderamata berbahan kain dengan gambar lukisan khas Jepang. Jenisnya ada bermacam-macam, mulai dati tote bag, sampul notebook, tempat kartu nama, dompet, tempat handphone, dan lainnya. Semuanya cantik, dijahit sangat rapi dan tentunya, sangat menggoda untuk dibeli. Hehehehe..

Kajiwara dan teman-temannya juga ternyata sangat menghargai pembelinya. Di setiap pembelian produk, pembeli akan mendapatkan satu lembar kertas pesan. Isinya, kira-kira ucapan terima kasih telah memberi produk dan mendukung karya para ibu perajin lokal. Bukan perajin biasa, tapi penyintas. Itulah yang membuat produk ini istimewa, seistimewa cerita di baliknya.
Coco-Kara lahir di tengah masa sulit pascabencana. Kajiwara bercerita sebelum tsunami menyapu kota mereka, dirinya bekerja di pabrik pengolahan ikan. Suaminya berkerja sebagai penjual susu keliling di sekitar Teluk Kesennuma. Setelah bencana, hidupnya tidak sama lagi. Dia kehilangan pekerjaan.

Dalam masa pemulihan, dia mengenang ada relawan dari LSM yang masuk ke Kota Kesennuma dan memberikan bantuan peningkatan skill usaha. Sederhananya, seperti kursus tapi diberikan paket bantuan sebesar 10.000 yen atau sekitar Rp1,3 juta (kurs 137).

Kajiwara memilih kursus menjahit karena sebelumnya dirinya punya dasar keterampilan di situ. Nah, bertemulah dirinya bersama tiga ibu lainnya. Memiliki passion yang sama, maka mereka kemudian berhimpun dan membentuk usaha kecil. Di sinilah lahir brand Coco-Kara. “Awalnya, pakai modal uang sendiri. Dari penjualan, kami sisihkan keuntungan terus diputar kembali. Begitu seterusnya,” ungkap Kajiwara.

Bantuan 10.000 yen yang diberikan NGO, digunakannya untuk membuat name tag atau merek yang disematkan di setiap produk. Relawan membantu mereka memutuskan nama produk hingga bagaimana memasarkannya. Mereka diajari marketing sederhana. “Kami disarankan buat merek, karena itulah yang akan membedakan produk kami dengan produk cenderamata lainnya,” ungkapnya.

Coco-Kara ada sejak tahun 2012. Pada awalnya, Kajiwara mengingat ada sekitar 30 jenis barang yang bisa mereka produksi. Semua produk dihasilkan dari mesin jahit rumahan dan hanya dikerjakan oleh ibu-ibu di kelompoknya. Hasil produk mereka kemudian dititipkan di toko cenderamata, restoran atau toko lainnya di sekitar teluk. Harapannya, bisa terjual ke wisatawan yang datang ke Kesennuma.

Yang membuat unik dari produk Coco-Kara adalah bahan kain pembuatnya. Kainnya bukan sembarang karena menggunakan kain bekas bendera nelayan di Teluk Kesennuma. Kainnya tebal dan tidak mudah sobek. Namun sayang, seiring waktu, kain ini sudah langka.

Sebagai alternatif, Kajiwara dan kawan-kawan, menggunakan kain berbahan dan memiliki model yang sama dengan bendera kapal nelayan. Tapi kain ini juga susah didapatkan sebab tidak banyak lagi tempat yang memproduksi kain seperti itu di Kesennuma. “Kami harus mencari di kota lain. Ada saran mencarinya di toko online, tapi kami tidak punya komputer,” jelas Kajiwara.
Ketersediaan bahan baku memang menjadi masalah, sebab produk Coco-Kara sudah dikenal. Bahkan ada yang menjual produk ini di Bali. Pada mulanya, menurut Kajiwara, produk Coco-Kara hanya diperkenalkan melalui mulut ke mulut. Seperti menitip produk di toko-toko. Namun kemudian pemilik toko ini, ternyata memasarkannya melalui toko online mereka.

Produk Coco-Kara pun semakin dikenal ketika wartawan Sandi Kushimpo menuliskan tentang produk Coco-Kara sebagai buah tangan dari ibu-ibu penyintas di Kesennuma. Maka makin dikenallah produk mereka. Ini pun membawa angin segar karena orderan pun meningkat. Pernah ada pesanan 800 tempat botol dan hanya dikerjakan oleh 4 ibu saja.

Soal rencana untuk mengembangkan Coco-Kara menjadi bisinis serius di masa mendatang, Kajiwara mengungkapkan belum terpikir. Pasalnya, dalam kurun waktu 3 tahun belakangan ini, terjadi penurunan jumlah wisatawan ke Kesennuma. Mungkin saja, menurut hipotesanya, disebabkan oleh hilangnya spot wisata menarik dan akibat masih berlangsungnya masa rekontruksi.
“Ada banyak pekerjaan konstruksi di sekitar teluk. Orang sibuk bekerja dan melihat banyak alat berat. Jadinya bukan rileks, tapi orang tambah stres,” kata Kajiwara. Apalagi saat ini musim dingin dan wisatawan tidak ingin pelisir ke laut.

Selain adanya kendala jumlah wisatawan yang menurun, secara prinsip Coco-Kara bukan semata lahir untuk profit alias keuntungan ekonomi. Kajiwara mengungkapkan ada hal lain yang lebih mendasar mengapa dirinya dan ibu lain terus bekerja, meski sudah memasuki masa pensiun setelah bencana.

Kajiawara mengaku bekerja adalah ladang ibadahnya dan tanggungjawab moralnya sebagai teladan bagi generasi yang lebih muda. Bekerja menurutnya adalah hal spiritual.“Saya tetap harus bekerja untuk memperlihatkan kepada generasi muda agar tetap semangat dan melanjutkan hidup,” tegas Kajiwara.

Memberikan contoh baik untuk tetap melanjutkan hidup, bagi para penyintas ini bukanlah hal main-main. Hatsuko Oyama, rekan kerja Kajiwara, mengungkapkan betapa sulitnya hidup setelah bencana melanda Kota Kesennuma. Apalagi dirinya harus kehilangan kakaknya, yang bekerja di Kapal Fujimaru, saat tsunami terjadi.

Namun Oyama tidak banyak membahas kehilangan itu. Dia hanya menceritakan dirinya harus mengungsi ke rumah keluarga lainnya selama 1,5 bulan. Oyama segan berlama-lama numpang di rumah keluarganya. Sebab itu, bekerja dan berkarya kembali secepat mungkin adalah penyelamat baginya. Dengan bekerja semuanya terasa kembali normal.

“Saya punya simpati dan ingin menolong mereka (keluarga penyintas lain, red). Tapi ada kalanya, saya khawatir pendangan mereka ke saya, karena bisa saja mereka menilai saya tidak kehilangan apa-apa dibandingkan dengan mereka,” curhat Oyama.

Mendengar jika saya dan Wakil Museum Sulteng, Drs Iksam Djahidin Djorimi MM datang dari Kota Palu untuk program belajar Disaster Prevention & DRR Strategy yang disponsori oleh UNESCO, ketiga ibu ini tertegun. Utamanya saat mengetahui jika Kota Palu dan sekitarnya, mengalami gempa dan tsunami. Kondisi yang boleh jadi sama persis, seperti yang dialami mereka 8 tahun lalu.

Itulah yang membuat ketiganya menyatakan simpati mereka. Bahkan Norika Ciba, rekan Oyama dan Kajiwara, punya pesan khusus bagi ibu-ibu penyintas bencana di Sulawesi Tengah (Sulteng). “Yang paling penting itu tetap saling menolong. Jangan ada rasa ingin saling menyalahkan. Saya ingat waktu mengungsi adalah paling berat tapi itu semua bisa kita lalui ketika kita saling bekerja sama dan menolong,” ungkap Ciba. Dia terkenang saat mengungsi bersama 100 warga lainnya di sekolah TK.

Pesan lainnya juga datang dari Kajiwara. Dia merasakan apa yang dirasakan oleh para ibu di Sulteng saat ini. Kajiwara mengatakan para ibu di Kesennuma dan para ibu di Sulteng punya hubungan dan pengalaman bencana yang sama. Tetapi mereka kini sudah bisa bangkit dan bisa menjalani hidup kembali. Dia pun yakin para ibu di Sulteng sama kuatnya.

“Kita tetap harus punya pikiran terbuka dan harus tetap ceria. Bekerjalah apa pun yang bisa dilakukan. Sekecil apapun itu sungguh berarti,” ujar Kajiwara. Ada kesan haru dan dalam di suaranya saat itu.

Kisah tiga ibu dari Teluk Kesennuma ini memang inspiratif. Coco-Kara adalah bukti nyata kebangkitan mereka. Para ibu pemberani.Itulah mengapa membawa pulang beberapa produk Coco-Kara kembali ke Tanah Air, bagi saya sungguh bermakna. Saya mau tunjukkan kepada ibu-ibu penyintas di Kota Palu dan sekitarnya, bahwa ada ibu lainnya di Jepang sana, yang punya kisah yang sama tapi berhasil bangkit. Jika mereka bisa, kita tentu bisa. Harus bisa!(bersambung)

FOTO: NURSOIMA/RADAR SULTENG
ISTIMEWA: Produk Coco-Kara hasil dari buah tangan Kajiwara, Oyama dan Ciba. Meski hasil UKM, kualitasnya begitu baik.Kisah di baliknya juga menjadikan Produk Coco –Kara istimewa.

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.