Belajar Sejarah Bencana dari Pajangan Benda-Benda Bekas Milik Korban di Museum Seni Rias Ark

Catatan Perjalanan dalam Program Belajar UNESCO Disaster Prevention & DRR Strategy (8)

- Periklanan -

Merawat ingatan bisa dilakukan dengan merekonstruksi kembali kejadian. Dengan begitu, pesan yang disampaikan diharapkan bisa lebih kuat. Inilah yang coba dilakukan oleh para kurator Museum Seni Rias Ark dengan membuka pameran tetap Dokumentasi Gempa Bumi dan Tsunami Jepang Timur dan Sejarah Bencana Tsunami.

LAPORAN: Nur Soima Ulfa

- Periklanan -

PERJALANAN belajar kami di Kota Kesennuma, Prefektur Miyagi pada Rabu (23/1), terbilang lengkap. Setelah belajar tentang perlindungan berlapis dan teknologi mitigasi bencana bersama Prof Imamura dari Tohuku University dan bertemu dengan tiga ibu penyintas di Teluk Kesennuma, kami pun berkesempatan belajar sejarah bencana gempa dan tsunami di Museum Seni Rias Ark pada siang harinya.

Kunjungan ke museum ini dilakukan sebelum kami bertolak ke Desa Kamaya, yang memiliki maket raksasa Lost Home di bangunan memorial hall-nya. Program Belajar UNESCO Disaster Prevention & DRR Strategy di memorial hall ini, telah saya tuliskan pada dua edisi lalu.

Nah, saat tiba di museum ini, kami tidak langsung belajar. Ada hal yang lebih penting lainnya, yakni makan siang. Orang Jepang percaya bahwa tidak baik belajar dengan perut kosong. Maka kami pun diajak makan oleh Prof Isamu Sakamoto, selaku programmer program belajar, di cafetaria milik museum. Cafetaria museum ini memiliki makanan enak sekelas hotel. Juga terlihat dari penyajian dan peralatan makannya.

Meski museum ini dimiliki dan dijalankan oleh pemerintah Kota Kesennuma dan Minami Sanriku, namun sangat jauh dari kesan “menyeramkan” dan “mati”. Seperti tipikal museum di Tanah Air. Museum ini begitu hidup dan kelihatan artsy sekali dan dijalankan secara profesional. Tidak kalah indahnya dari Museum of Art (MOA), yang dimiliki oleh pihak swasta. MOA adalah museum yang kami kunjungi di Kota Atami di Prefektur Shizouka pada hari pertama program belajar.

Dari jendela cafetaria yang lebar dan berkonsep kontemporer-minimalis, kami bisa melihat Kota Kesennuma berada di bawah sana. Di daerah lembah dan teluk. Gedung museum ini memang terletak di ketinggian. Di atas jajaran bukit yang mengelilingi kota. Pada 3 Maret 2011, saat bencana terjadi, museum ini selamat dari tsunami tapi tidak dari gempa. Gedung mengalami kerusakan dan hal ini membuat operasional museum lumpuh selama satu tahun.

Menariknya, selama masa istirahat itu, museum berfungsi sebagai tempat pengungsian sementara dan pusat distribusi bagi penduduk setempat. Sementara, staf museum juga memulai kerja mereka dalam mendokumentasikan keadaan sesaat setelah bencana terjadi.

Para staf mengambil ratusan foto dan mengumpulkan barang-barang bekas dari lokasi bencana. Termasuk barang-barang sehari-hari dan juga puing. Benda-benda ini, termasuk foto, menjadi objek pajangan di ruang pameran tetap Dokumentasi Gempa Bumi dan Tsunami Jepang Timur dan Sejarah Bencana Tsunami.

Dari informasi yang saya dapatkan dari brosur berbahasa Inggris tentang ruang pameran tetap ini, para staf yang juga kurator museum, berhasil mengumpulkan 30 ribu foto dan 250 barang yang rusak. Termasuk sejumlah besar catatan dokumentasi sebagai hasil survei.

Para staf museum ini bekerja selama dua tahun sebelum pada akhirnya tanggal 3 April 2013, pameran tetap ini dibuka secara resmi. Objek yang dipajang adalah 203 gambar foto dan 155 barang yang dikumpulkan dari lokasi bencana dan 137 dokumen sejarah.

“Pameran ini berfokus pada gagasan bagaimana menyajikan Gempa Bumi dan Tsunami Jepang Timur dan bagaimana meneruskannya ke generasi berikutnya di wilayah ini. Kami berupaya menafsirkan bencana dengan tepat dalam presentasi,” tulis pihak museum di brosur mereka.

Presentasi yang dimaksudkan adalah menampilkan kembali atau merekonstruksi kembali situasi sesaat setelah gempa dan tsunami menghancurkan kota. Bukan hanya sekadar memajang foto-foto di dinding ruangan, tetapi juga dikolaborasikan dengan kehadiran benda-benda bekas dari lokasi tempat yang dipotret. Membuat pengunjung asing seperti saya, begitu bisa merasakan apa yang terjadi di masa itu. Sebuah pengalaman belajar sejarah bencana yang nyata.

Pengalaman belajar ini dibangun mulai dari pintu masuk ruangan pameran. Para kurator dan staf museum sengaja mendesain ruangan dengan cermat untuk membangun gambaran di kepala kita, terhadap situasi saat bencana terjadi 8 tahun silam.

Hampir setengah bagian depan ruangan pameran menampilkan beragam situasi setelah bencana dalam judul “Report from Devastated Sites” atau Laporan dari Situs yang Dihancurkan. Sesuai judulnya, ada banyak foto yang mengambarkan berbagai fasilitas publik hancur berantakan. Misalnya, foto kereta yang terhempas dari relnya oleh gelombang tsunami.

Setelah sesi ini, setengah ruangan lainnya dibagi dan diatur dalam 4 tema yakni “Feelings of Disaster Victims” alias Perasaan Para Korban Bencana, “Lost Things・Stuff” atau Barang-Barang yang Hilang, “In Preparation for What Might Come Next” atau Dalam Persiapan untuk Apa Yang Akan Datang Selanjutnya, and “Causal Relationships Between History and Damage of Our Community” alias Hubungan Kausal Antara Sejarah dan Kerusakan Komunitas Kami.

Tema-tema ini muncul dari jenis puing-puing yang diletakkan dan diatur sedemikian rupa selaras dengan kisah dibaliknya. Ada dua jenis puing tsunami yang dipamerkan. Pertama, puing-piung yang menunjukkan kekuatan destruktif fisik yang jelas seperti besarnya kekuatan penghancur oleh gelombang tsunami dan intensitas api yang membakar. Contoh puing seperti ini adalah bumper mobil yang super reyot dan diletakkan di depan foto besar berlatar daerah pesisir yang hancur akibat tsunami.

Jenis puing lainnya adalah benda atau barang sehari-hari yang berasal dari peralatan rumah tangga atau isi rumah. Contohnya adalah penanak nasi, mesin cuci, televisi, laptop, mainan anak, jam dinding dan lain sebagainya. Puing-puing ini melambangkan hilangnya kehidupan sehari-hari dalam bencana. Pihak museum merasa kehadiran puing-puing ini akan menceritakan kisah para korban dengan natural dan apa adanya kepada pengunjung.

Seperti kisah satu-satunya penanak nasi yang dipajang. Penanak nasi yang dulunya berwarna putih itu ternyata milik satu keluarga dengan 7 anggota keluarga. Suami istri, dengan dua anak perempuan, dua anak laki-laki dan satu orang cucu. Dalam keterangan di samping penanak nasi diceritakan, bahwa penanak nasi itu dibeli tahun 1990.

Setiap harinya si ibu harus memasak 8 cup beras di penanak nasi untuk sekali makan anggota keluarganya. Jumlah takaran yang sama dimasaknya saat kejadian bencana terjadi. Setelah bencana, si ibu menemukan penanak nasi ini di tengah puing-puing rumahnya. Nasi putih di dalamnya sudah bercampur dengan lumpur hitam . “Seharusnya nasi itu menjadi hidangan makan malam kami,” terang si ibu.

Selain kisah dan sejarah bencana yang terjadi pada 11 Maret 2011, dalam ruangan tersebut juga menampilkan dokumen sejarah bencana yang terjadi di wilayah itu. Pihak museum menampilkan catatan dokumen yang mengisahkan tsunami di Kota Minami Sanriku pada tahun 1896, tahun Meiji 29, dan tahun 1933, tahun Showa 8, dan Tsunami Chili pada tahun 1960, tahun Showa 35, serta materi tentang tempat pembuangan akhir dan pembangunan sebelum dan setelah Perang II. Ada fakta kerusakan akibat tsunami yang terjadi sekitar 40 tahun sekali di Pantai Minami Sanriku, juga turut dipamerkan.

Sebab itu, pihak museum berharap warga bisa teredukasi bahwa peristiwa bencana yang sama, bisa saja terjadi atau terulang di masa depan. Sehingga kepekaan dan kewaspadaan terhadap bencana tetap tinggi. Harapan ini muncul karena ternyata pasca bencana 2011, masih ada warga yang berkomentar bahwa bencana tersebut “di luar dugaan” dan “belum pernah terjadi sebelumnya.”

SUDUT PAMERAN KHUSUS
Selain ruangan pameran tetap di Museum Seni Rias Ark, dokumentasi tentang Gempa Bumi dan Tsunami Jepang Timur Tahun 2011, juga dapat ditemukan di Sendai Mediatheque. Sebuah fasilitas publik kombinasi antara galeri dan perpustakaan yang terletak di jantung Sendai, ibukota Prefektur Miyagi. Kunjungan kami di tempat ini dilakukan pada Jumat siang (25/1).

Di gedung artistik berbahan kaca itu memiliki sudut pameran khusus The Great East Japan Earthquake and Tsunami 2011. Sudut ini bersifat permanen dan berisi berbagai dokumentasi saat kejadian bencana dan pascabencana. Dokumentasi tersebut berupa foto dari seluruh wilayah prefektur, kumpulan film dokumenter dan yang menarik adalah kumpulan semua twit saat kejadian terjadi, dari semua akun twitter.

Di sudut ini juga bisa menonton langsung film dokumenter dan video. Dengan begitu, kita bisa punya pengalaman langsung dan bisa mengetahui kisah-kisah warga saat kejadian atau pascabencana. Warga yang terlibat dalam film ini tentunya telah mengizinkan wajahnya bisa direkam.

Menurut Sakamoto Sensei, keterlibatan warga tersebut menunjukkan adanya kesadaran kolektif tentang pentingnya belajar dari pengalaman masa lalu. Dengan begitu, bisa bersiap untuk kejadian bencana di masa depan .

“Mereka dengan sukarela ikut terlibat, meski di Jepang ada aturan tentang hak privasi. Tapi demi pembelajaran bersama dan kebaikan banyak orang, mereka mau wajahnya terlihat,” ungkapnya.(bersambung).

FOTO: ISAMU SAKAMOTO UNTUK RADAR SULTENG
MENARIK: Kumpulan semua twit saat kejadian terjadi, dari semua akun twitter. Ini bisa diakses di sudut pameran khusus permanen di Sendai Mediatheque.

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.