Belajar Perlindungan Berlapis dan Teknologi Mitigasi Bencana Bukan Satu-Satunya Penyelamat

Catatan Perjalanan dalam Program Belajar UNESCO Disaster Prevention & DRR Strategy (4)

- Periklanan -

Prinsip Build Back Better dalam masa rekonstruksi dan pemulihan pascabencana gempa dan tsunami Tohoku 2011, mengasup prinsip semua harus lebih baik. Untuk menyelamatkan lebih banyak nyawa, kualitas infrastruktur dan teknologi mitigasi bencana yang dibangun kembali, harus lebih baik dari sebelumnya. Tapi ternyata itu bukan jaminan. Mengapa?

- Periklanan -

USAI meninggalkan ibukota negara malam harinya, pada Rabu pagi sekali (23/2), tim kami tiba di Kota Rikuzentakata di Prefektur Iwate. Di tengah udara dingin karena salju ternyata turun semalaman, kami melakukan tur dengan taksi kurang lebih 1,5 jam. Tujuannya adalah melihat kondisi terkini pasca gempa dan tunami besar yang terjadi pada 3 Maret 2011.

Di kota ini masih tampak geliat pembangunan kembali, padahal peristiwa sudah terjadi 8 tahun lalu dan masa rekonstruksi dan rehabilitasi akan berakhir pada 2020. Aktivitas pembangunan terlihat di area pesisir. Ada pekerjaan tanggul tinggi di sepanjang pesisir. Keberadaan tanggul ini pun membatasi pandangan kami ke arah laut.

Berkeliling kota ini serasa berada di tengah lapangan luas kosong, meski di beberapa titik ada satu dua bangunan toko masih berdiri, dengan jalanan mulus beraspal hot mix. Menurut sopir taksi kami, Kota Rikuzentakata dulunya merupakan destinasi wisata bahari terkenal. Ada banyak wisatawan yang datang. Utamanya pada musim panas.

Toko-toko souvenir dan jejeran hotel dibangun dekat pesisir. Dirinya juga tidak segan menunjukkan album foto berisi foto kondisi kota saat sebelum dan sesudah gempa. Foto-foto itu diperlihatkannya setiap kami lewat atau singgah di satu titik, yang kebetulan ada di dalam di foto. Saya merasa seperti sedang dalam program wisata bencana. Merasa saja ya, padahal tur ini adalah bagian dari program belajar Disaster Prevention & DRR Strategy yang disponsori oleh UNESCO. Hehehehe..

Sopir taksi kami juga dengan cekatan menceritakan saat gelombang raksasa datang menyapu bersih kota hingga kaki bukit dan gunung tanpa ampun. Hampir semua bangunan yang berada di pesisir dan lembah, tidak bersisa. Seingat saya, tidak lebih dari lima bangunan yang tersisa dan dipertahankan di Kota ini. seperti bangunan rumah susun dan satu gedung SMP, yang berdekatan dengan hutan pinus.

Baru beberapa waktu kemudian saya sadar hutan pinus yang kami lihat adalah sisa dari Takata matsubara, sebuah kawasan wisata terkenal dan merupakan bagian dari kawasan Taman Nasional. Hutan ini tumbuh di sepanjang pesisir dan nyaris tidak bersisa.

Menariknya, di setiap gedung yang terkena tsunami dan tetap dipertahankan, dilabeli dengan informasi ketinggian gelombang tsunami. Di gedung SMP samping hutan pinus, tinggi gelombang mencapai 14,2 meter. Alhamdullilah, menurut informasi dari sopir kami, para siswa selamat karena sempat lari ke bukit tinggi dekat sekolah tepat waktu.
Pascabencana, kota kembali di bangun di area pegunungan jauh dari lembah dan pesisir. Khususnya wilayah perumahan. Meski sudah berada di ketinggian, multi layer protection atau pengamanan berlapis tetap diterapkan.

Dari kawasan perumahan di atas gunung, kami dengan mudah melihat ke arah lembah. Terlihat tanggul-tanggul penahan gelombang yang menjulang. Tingginya sekitar 6 meter dan menjadi barikade tepat di area pantai. Dari tempat ini kami juga melihat daerah sempadan sungai juga diamankan dengan beton di kedua sisinya bukan hanya sekadar di beri beronjong. Sebab ternyata, gelombang tsunami juga masuk ke aliran sungai.

Area lembah tampak nyaris kosong dan mati, tetapi kami mendapati ada dua pabrik pengolahan ikan di muara sungai tetap beroperasi. Dua pabrik ini adalah pabrik baru yang dibangun dan penggabungan dari beberapa pabrik kecil pengolahan ikan sebelum bencana. Di area ini juga terlihat kapal-kapal nelayan bersandar. Ternyata tidak semua area yang ditutup tanggul. Masih ada kawasan yang memang dipertahankan sedikit terbuka untuk perekonomian warga.

Dari Kota Rikuzentakata di Prefektur Iwate, kami menyeberang ke Prefektur Miyagi pagi itu juga dengan menggunakan mobil. Sekitar 30 menit kami tiba di Kota Kesennuma.
Berbeda dengan pemandangan di kota sebelumnya, di kota ini terlihat hidup. Bangunan tetap ada, pelabuhan masih ada, pabrik pengolahan ikan masih ada, sampai Shark Museum juga ada. Minus perumahan warga. Ini membuat saya tidak percaya jika kota ini juga bernasib seperti Rikuzentakata: pernah tersapu tsunami.

Mata saya terbuka saat Prof. Fumihiko Imamura dari Tohoku University memperlihatkan video simulasi gelombang raksasa tsunami saat menghantam kota. Dari notebook apple miliknya, dia secara langsung memperlihatkan gelombang datang dari arah mulut teluk dan masuk hingga ke daratan. Gelombang susulan yang datang bertahan sampai dua hari lamanya. Ngeri!

Dari notebook-nya, ahli kebencanaan terkenal ini, kemudian mengajak kami melihat ke arah mulut teluk hingga ujung dermaga pelabuhan. Saat itu kami berada di atas ajungan tepat di tepi teluk. Kami bisa melihat air laut di bawah kami. Ajungan ini tingginya kurang lebih 8-10 meter dan terletak tepat di belakang pasar ikan Kesennuma. Menurut Imamura Sensei, panggilan akrabnya, ajungan ini dipakai warga sebagai tempat evakuasi saat tsunami datang dan semuanya selamat.

Ketersediaan tempat evakuasi yang bisa dijangkau warga, jelas Imamura Sensei, sangat penting untuk menyelamatkan banyak nyawa. Ditambah dengan teknologi mitigasi yang mumpuni, seperti early warning sistem atau sistem peringatan dini yang baik. Untungnya, saat bencana terjadi sistem peringatan dini bekerja baik.

Dari anjungan, kami dibawa ke pelabuhan feri di ujung teluk. Di tempat ini, Imamura Sensei memperlihatkan kami pembangunan tanggu yang ada di sekitar pelabuhan. Tempat ini sejatinya daerah terlarang, tetapi karena kunjungan kami adalah kunjungan belajar dan atas jaminan Imamura Sensei, maka kami diizinkan masuk.

Imamura Sensei menjelaskan tanggul yang sementara masih dalam tahapan penyelesaian memiliki tinggi 3,6 meter dan akan terangkat otomatis 500 centimeter bila gelombang tinggi menghantam. Canggih benar! Tapi, pembicaraan pagi itu, bukanlah soal teknologi yang digunakan untuk membuat tanggul. Imamura Sensei, lebih senang mengungkapkan cerita di balik pembangunan tanggul.
Menurutnya, tanggul di Kota Kesennuma tidak seperti di daerah lainnya. Tanggul di tempat ini jauh lebih rendah. Hal ini akibat terpecahnya pendapat di antara warga. Imamura Sensei hingga saat ini pembangunan tanggul di area itu masih diperdebatkan. Alasannya, tanggul dianggap mematikan ekonomi warga yang mayoritas adalah nelayan dan sisanya bergantung pada industri wisata. Kehadiran tanggul akan menutupi keindahan alam.

Adanya penolakan juga diperlihatkan oleh sikap pemerintah kota. Walikota meminta secara khusus agar tanggul tinggi tidak dibangun di sepanjang teluk. Pasalnya, warga tidak bisa melihat ke arah teluk jika gelombang tsunami datang. Itu hanya akan melemahkan kewaspadaan warga. Hmm.. masuk akal juga.

Sebab itu, Imamura Sensei mengatakan proses pembangunan berlarut-larut. Pengajuan proposal pembangunan tanggul memakan waktu 2-3 tahun. Tanggul baru bisa dibangun 6 tahun pasca bencana. Itu terjadi karena suara dan pendapat warga mendapatkan tempat dalam setiap proses pembangunan infrastruktur.

Adanya perdebatan dan lamanya proses pembangunan tanggul, dinilai Imamura Sensei bukanlah masalah. Sebab suara dan aspirasi warga menjadi bagian penting dalam setiap pengambilan keputusan. Ada banyak aspek yang perlu dipertimbangkan, bukan hanya soal perlindungan. Aspek ekonomi warga misalnya.

Mendengar masih adanya perdebatan soal perlu atau tidaknya dibuat tanggul, menggelitik saya untuk menanyakan pendapatnya. Sebagai ahli dan seorang akademisi, tentunya Imamura Sensei, terlibat dalam proyek pembangunan tanggul sebagai konsultan. Karena itu saya berharap jawaban yang keluar dari mulutnya adalah tanggul itu adalah jaminan keselamatan warga. Tapi jawaban yang saya mendapatkan menunjukkan bahwa saya keliru.

Imamura Sensei menjelaskan keberadaan tanggul juga tidak menjamin 100 persen perlindungan terhadap warga. Tanggul hanyalah melemahkan kekuatan gelombang dan memberikan waktu lebih banyak kepada warga untuk lari ke tempat evakuasi. Begitu pun dengan teknologi mitigasi. Tidak ada yang bisa memberikan perlindungan penuh. Namun, dia juga menggaris bawahi bahwa tanggul tetap dibutuhkan.“Untuk keamanan di sini butuh tanggul, karena di sini akhir dari gelombang (tsunami),” ungkapnya.

Ahli bencana yang juga terlibat dalam tim JICA untuk bantuan pemulihan Sulteng ini, juga menyinggung soal sistem keamanan lain. Menurutnya, selain pembangunan instruktur berupa tanggul dan tempat evakuasi, ada hal yang penting lainnya dan tidak boleh diabaikan. Yakni edukasi mitigasi bencana. Infrastruktur dan teknologi mitigasi bukan satu-satunya penyelamat. Tanpa pengetahuan dan kesadaran warga akan bahaya bencana, maka keberadaan tanggul, tempat evakuasi, hingga alarm, akan sia-sia. Sederhananya, jika warga tidak lari ke tempat evakuasi ketika alarm tsunami berbunyi, maka tidak ada artinya semua usaha pembangunan fisik yang dilakukan.

Kewajiban warga menyelamatkan diri sendiri dan mematuhi instruksi keselamatan, tanpa mengandalkan penuh keberadaan infrastruktur pelindung mereka dari bencana, bisa menjadi bahan bargening. Warga lokal dan pemerintah sama-sama punya posisi tawar dalam perdebatan tanggul. Pemerintah mau menurunkan tinggi tanggul, tapi dengan catatan warga juga harus bisa menyelamatkan diri sendiri saat bencana tiba. Tidak boleh ada yang meremehkan alarm.

Keterbukaan pemerintah dalam mendengar aspirasi warga juga terlihat dalam proses pembangunan tanggul di area pelabuhan feri. Imamura mengungkapkan dalam rencana rekonstruksi dan pemulihan, pelabuhan feri disarankan untuk ditutup karena kawasan itu akan ditanggul sepenuhnya. Sebab, kini ada jembatan yang menghubungkan kota dengan pulau itu. Tapi setelah berdiskusi dengan masyarakat, pelabuhan feri masih dibutuhkan warga untuk menyeberang ke Pulau Oshima. Pelabuhan feri juga masih dibutuhkan karena menjadi denyut nadi perekonomian toko, rumah makan dan penginapan di sekitar pelabuhan.

Dari diskusi itu muncul jalan tengah; pelabuhan feri tetap ada, tanggul juga tetap ada. Caranya, tanggul dibuat seperti gerbang masuk ke area feri. Lengkap dengan gapura yang cantik. “Jadi kesannya bukan seperti tanggul tapi pintu masuk, sehingga tidak merusak keindahan pemandangan di sekitarnya,” terang Imamura tersenyum. Ada raut puas di wajahnya.
Kejernihan konteks dari munculnya perdebatan antara pemerintah dan warga dalam memutuskan apa yang terbaik bagi perlindungan terhadap bencana di masa depan, boleh jadi saya menemukan dalam penyataan Fumio Kogure, seorang pengurus Urban Planning Community HigashiMatsushima. Saya bertemu dengannya keesokan harinya di Nobiru Community Center Kota HigashiMatsushima di Prefektur Miyagi.

Kogure mengatakan perdebatan adalah hal yang baik untuk memutuskan langkah terbaik. Namun warga maupun pemerintah harus sama-sama sadar keduanya memiliki tujuan yang sama-sama baik. “Harus dikonsiderasi antara kewajiban pemerintah melindungi warganya, dan hak warga untuk didengarkan pendapatnya. Contohnya, ketika pemerintah wajib melindungi warganya dengan mendirikan tanggul, tetapi warga juga harus kooperatif untuk lari jika ada tsunami,” ujarnya.(bersambung)

FOTO: NURSOIMA/RADAR SULTENG
BEGINI CERITANYA: Prof Fumihiko Imamura dari Tohoku Universitas (kanan) memperlihatkan video simulasi datangnya gelombang tsunami di Teluk Kesennuma.

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.