Belajar Metode Penyimpanan Koleksi dan Arsip Sejarah Anti Bencana di Tohoku History Museum

Catatan Perjalanan dalam Program Belajar UNESCO Disaster Prevention & DRR Strategy (10/Habis)

- Periklanan -

Kebudayaan tidak bisa dilepaskan dari Jepang. Negara ini dikenal dengan kebudayaan yang kuat dan menjadi identitas bangsanya. Sebab itu, ketika terjadi bencana gempa dan tsunami melanda wilayah Tohoku, museum menjadi aset negara yang harus cepat-cepat diselamatkan. Hal yang sama juga diharapkan terjadi di Sulawesi Tengah.

LAPORAN: Nur Soima Ulfa

- Periklanan -

AKHIRNYA kami sampai di penghujung perjalanan dalam program Belajar UNESCO Disaster Prevention & DRR Strategy dan akhir dari tulisan ini. Tempat belajar terakhir kami sebelum harus kembali ke Sulawesi Tengah (Sulteng) adalah Tohoku History Museum atau Museum Sejarah Tohoku. Museum ini terletak di Kota Tagajo, masih di Prefektur Miyagi, wilayah regional Tohoku.

Meski jadwal belajar hari itu hanya ke satu tempat saja, tapi kami masih harus pagi-pagi memulai perjalanan. Dari penginapan kami di Kibotcha, Nobiru, Kota HigatshiMatsushima kami diantar ke stasiun Stasiun Nobiru yang baru. Dari stasiun ini, bersama barang bawaan, kami naik kereta JR Line selama kira-kira 42-45 menit. Perjalanan yang mengesankan karena baru semalaman salju turun lebat dan menyisahkan tumpukan salju di sepanjang jalan. Sabtu pagi (26/1) itu pun salju masih turun.

Tiba di stasiun Kokofu-Tajago, kami langsung menuju pintu keluar. Belakang museum ini tepat berada di depan stasiun, sehingga kami tinggal jalan kaki saja. Jaraknya dekat sekitar 30-50 meter, tetapi salju yang menumpuk menyisahkan gumpalan es beku di bawahnya. Jika hilang konsentrasi, bisa-bisa terpeleset. Belum lagi suhu begitu dingin. Aplikasi di HP saya menunjukkan suhu drop ke minus 11 celcius tadi malam.

Setelah menemukan pintu belakang, kami langsung dipersilahkan masuk oleh security. Sepertinya kedatangan kami sudah dinantikan karena kami bukan masuk lewat pintu depan layaknya pengunjung biasa, tetapi layaknya staf museum.

Ya, sebentar lagi kami akan belajar tentang metode penyimpanan koleksi dan arsip anti bencana, meski sebelumnya kami juga telah mengunjungi di Museum Sejarah Jomon Oku-Matsushima di Kota HigatsiMatsushima pada Kamis siang (24/1). Namun, di museum ini kami lebih banyak belajar tentang sejarah gempa dan sedikit melihat proses pemulihan museum pascabencana 2011. Tidak begitu detil.

Dari pintu belakang kami disambut satu staf berjas rapi dan mengantar kami ke ruang tamu di bagian kantor museum. Sepanjang perjalanan kami menyusuri koridor dengan dinding beton kokoh di kanan-kiri-atas-bawah tanpa jendela. Seperti berasa di dalam kastil atau penjara, tapi dalam arti baik ya. Kami menduga gedung ini sengaja dibuat kokoh sebagai bangunan tahan gempa. Prediksi ini terjawab kemudian dan ternyata kami benar.

Jawaban ini kami dapatkan saat dibawa tur ke gudang penyimpanan koleksi dan ruangan restorasi museum. Tur dimulai setelah tim kecil kami diterima sekitar 5 pejabat museum, dua di antaranya adalah wakil kepala museum sisanya adalah kepala bidang. Ono Toshinori, salah satu wakil kepala museum, menyambut kami sekaligus meminta maaf jika kepala museum berhalangan hadir. Padahal dirinya lah yang menjamin visa kami, agar bisa melakukan perjalanan belajar di Jepang.

“Saya dan segenap jajaran Museum Sejarah Tohoku mengucapkan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya atas peristiwa bencana gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah, “ ucap Ono, mengawali sambutan. Dengan keramahan yang khas, dia pun berharap kunjungan belajar kami di institusinya itu dapat berguna bagi proses recovery Museum Sulteng yang juga sedang berjalan.

Usai penyambutan hangat itu, tur kami resmi dimulai. Kami pun diserahkan kepada Moriya Aya, staf museum sekaligus ahli konservasi benda pusaka, dan tiga staf laki-laki lainnya. Moriya akan menjadi mentor kami selama berada di Museum Sejarah Tohoku.

Tur kami dimulakan dengan mengunjungi gudang koleksi museum. Area ini sejatinya adalah area tertutup. Tidak semua staf bahkan pejabat museum memiliki akses masuk. Moriya satu di antara yang orang sedikit itu dan kami turut menjadi orang luar beruntung bisa masuk gudang. Namun sebelum masuk, demi keamanan, Moriya meminta kami untuk tidak memotret objek koleksi museum. Kecuali diizinkan.

Di Museum Sejarah Tohoku, ada 6 gudang koleksi yang berisi lebih dari 110 ribu benda koleksi dan dilengkapi dengan keamanan level tinggi. Pintu gudang dibuat layaknya brankas uang. Pintunya baja dan dilengkapi dengan pintu kombinasi angka. Perlu kartu khusus juga untuk membukanya.

Saat gempa terjadi pada 2011 silam, dinding gudang aman dari retakan tapi pintu gudang agak bergeser tapi tidak begitu rusak parah. Meski begitu, pihak museum sempat khawatir terjadi kerusakan pada koleksi karena mesin mengatur suhu ruangan dan kelembapan mati karena listrik sempat padam. Sementara kala itu musim salju.

“Tapi ternyata tidak berpengaruh banyak. Suhu hanya bergeser beberapa angka dan koleksi masih terbilang aman,” terang Moriya. Dia menyebut desain ruang dan material kayu yang dipakai di dalam ruangan turut membantu kestabilan suhu dan kelembapan udara.

Moriya lantas memperlihatkan rak susun dan boks penyimpan benda koleksi. Semua didesain anti gempa. Ada boks penyimpanan dan juga pajangan koleksi yang didesain untuk getaran ke samping kiri dan kanan yang disebut dengan Meisindai-Butsu. Kekurangannya, boks ini tidak didesain untuk getaran atas-bawah, pola getaran gempa yang kita rasakan di Palu dan sekitarnya pada 28 September 2018 lalu.

“Kalau untuk gerakan ke atas dan bawah kami masih memikirkannya. Tapi untuk sementara kami bisa menggunakan karet atau per untuk pengamannya, tapi harganya agak lebih mahal,” jelasnya.

Moriya mengungkapkan gempa yang terjadi berulang-ulang di Jepang, membuat dirinya bersama staf lain juga turut belajar bagaimana mengamankan benda koleksi. Menurutnya sejak gempa Kobe pada tahun 1995, pihaknya belajar untuk memakai papan penghalang di depan rak penyimpan agar benda tidak berjatuhan. Utamanya bagi benda berbahan keramik. Papan penghalang atau pengganjal ini kemudian disebut dengan stopper.

Saat tur ke gudang ini Wakil Kepala Museum Sulteng Drs Iksam Djahidin Djorimi MM terlihat begitu serius. Sangat jelas dirinya menyimak dan merekam semua informasi tersebut di kamera action miliknya. Kepada Moriya dirinya banyak berdiskusi karena ternyata Museum Sulteng menderita banyak kehilangan koleksi keramik. Termasuk dua koleksi masterpiece-nya.

Moriya kemudian memberikan tips agar menambahkan pengaman pada rak penyimpanan dan juga mengikat koleksi jika diperlukan. Dirinya juga melakukan itu dengan menambahkan ikatan ekstra pada setiap koleksi. Moriya mengaku memakai tali pengaman khusus seperti tali senar untuk koleksi keramik dan memakai kain khusus untuk koleksi tembikar dan juga perunggu atau berbahan metal lainnya.

“Tidak banyak kerusakan yang terjadi saat gempa dan tsunami karena benda koleksi kami ikat, terutama menggunakan kain putih khusus,” jelasnya.

Moriya mengungkapkan kerusakan koleksi akibat tsunami terjadi di lantai 1 dan lantai 2 gedung. Namun yang terparah ada di lantai 1. Di lantai ini koleksi rusak akibat terjangan air, apalagi di dekat museum ada pabrik kertas, sehingga limbah kertas ikut masuk ke dalam museum dan menjadikan pekerjaan restorasi lebih berat.

Nah, untuk melihat sejauh mana proses restorasi dilakukan pada koleksi, Moriya juga mengajak kami ke laboratorium. Di tempat ini dirinya memperlihatkan dokumen sejarah berbahan kertas sedang diperbaiki. Ribuan dokumen seperti ini juga dipulihkan oleh pihak museum dari kerusakan akibat tsunami. Menariknya, dokumen-dokumen sejarah itu bukan sepenuhnya milik museum tetapi milik perorangan. Moriya menyebut ada satu warga yang memiliki 73 ribu koleksi warisan budaya. Pihak museum turut membantu memperbaiki koleksi warga tersebut.

“Kami turun langsung mengevakuasi dan membawa ke sini (museum, red) untuk diperbaiki. Meski bukan milik museum, tetapi benda ini adalah warisan budaya yang juga harus dilindungi dan itu tugas kami,” terang Moriya. Dia kemudian menyebut besar harapan pihaknya agar warga tersebut mau menghibahkan ke museum secara sukarela.

Usai belajar di laboratorium, kami dibawa Moriya ke ruangan restorasi khusus koleksi berbahan logam dan perunggu. Nah, saat tsunami terjadi, koleksi berbahan ini juga rentan mengalami oksidasi dan dikhawatirkan akan rusak. Di ruangan ini Moriya dan rekan-rekannya sedang melakukan penelitian untuk menemukan teknik pengeringan terbaik untuk koleksi dengan alat yang disebut Kazoki. Sebab tidak bisa memberikan perlakukan yang sama terhadap koleksi dengan lembap biasa, lembap karena banjir dan lembap karena tsunami. Begitu pun dengan cara penyimpanannya.

“Kazoki ini semacan alat pengering, tetapi tidak menggunakan api. Hanya suhunya saja yang diubah-ubah,” ungkapnya

Sembari melakukan penelitian itu, Moriya juga bekerja keras untuk menemukan cara merawat koleksi benda-benda yang diambil dari wilayah terdampak gempa dan tsunami 2011. Sebab perlu cara khusus mempertahankan tanah atau lumpur kering yang melekat pada benda. Hal itu dilakukan agar benda terjaga keasliannya dan dapat dipamerkan kepada generasi selanjutnya dalam waktu yang lama. Penelitian ini masuk dalam program penelitian disaster prevention atau Kitsai-Butsu, yang dikerjakan oleh Moriya dan timnya di Museum Sejarah Tohoku.

Mendengar penjelasan Moriya tersebut lantas mengingatkan saya pada pajangan benda di Museum Seni Rias Ark di Kota Kesennuma. Perjalanan belajar di museum seni ini sudah saya tuliskan pada dua edisi sebelumnya.

BOSAI KHUSUS ANAK
Di Museum Sejarah Tohoku kami rupanya tidak hanya belajar soal metode penyimpanan koleksi dan arsip anti bencana, tetapi juga tentang edukasi mitigasi bencana atau Bosai khusus anak-anak. Bahkan Museum Sejarah Tohoku punya lantai dan ruangan khusus untuk itu, yakni di lantai 3. Kami pun dibawa ke tempat ini.

Sesampainya di lantai khusus ini, saya begitu gembira ketika kami diajak masuk ke ruang teater. Saya pikir akan hanya akan menonton video, tetapi justru diajak bermain game. Ruangan ini didesain berbentuk kubah setengah lingkaran sempurna dengan sekitar 50 -100 kursi. Kursi-kursinya bahkan memiliki tombol dan terhubung langsung ke layar teater.

Kala itu kami diminta mengikuti kuis, tetapi lebih dulu menonton video pendek. Oleh staf museum, kami diinformasikan bahwa video ini dirancang khusus untuk anak sekolah kelas 5-6 SD. Video edukatif tersebut memang menarik dan jauh dari membosankan. Apalagi di awal video kami dikenalkan dengan dua karakter kakak beradik dan menjadi ikon dari program Bosai Museum Sejarah Tohoku. Saya lupa namanya dan tidak pasti menebak apakah ikon ini wortel atau jenis sayuran berwarna orange lainnya.

Di akhir video kami diajak untuk mengikuti game dengan sejumlah pertanyaan. Cara menjawab adalah dengan menekan tombol angka di sandaran tangan kursi. Pertanyaan seputar mitigasi bencana, seperti apa yang kamu lakukan ketika gempa terjadi dan kamu berada di dalam kelas. Setiap pertanyaan benar akan mendapatkan point tertinggi. Menurut saya games menarik karena mengajarkan Bosai tanpa harus terkesan membosankan dan menggurui. Selain games dan ruang teater, museum juga memproduksi majalah Bosai khusus untuk anak-anak yang datang berkunjung.

Masih terkait program Bosai khusus anak-anak, sebagai penutup tulisan ini dan seperti saya janjikan sebelumnya, maka saya akan menceritakan sedikit tentang Kibotcha: sebuah vacation stay yang menjalankan pendidikan khusus mitigasi bencana untuk anak-anak.

Di tempat ini kami menginap selama dua hari dan mendapatkan pelajaran tentang bagaimana satu bangsa mengambil peran dalam pendidikan Bosai. Kibotcha, yang murni dijalankan oleh perusahaan swasta, mau terlibat untuk mengedukasi generasi penerus di Jepang agar bisa peka dan tetap waspada saat bencana terjadi di masa depan.

Kibotcha dulunya adalah bekas gedung sekolah dasar di Nobiru yang rusak dihantam tsunami. Oleh warga, gedung ini diputuskan tetap dipertahankan karena berusia 1.400 tahun. Gedung ini kemudian disewakan ke perusahaan dan diubah sebagai penginapan sekaligus pusat edukasi Bosai untuk anak-anak.

Kawasan Nobiru adalah kawasan wisata bahari. Namun rentan bencana. Nah, Kibotcha memiliki program khusus edukasi bagi anak-anak dan berbagai fasilitas untuk itu. Seperti ruang pameran dan teater dan yang utama adalah ruangan simulasi dan belajar tentang pertolongan pertama. Untuk mengakses semua fasilitas, setiap anak hanya dibebani biaya 200 yen atau sekitar Rp26.000 per anak. Biaya yang murah jika melihat manfaat untuk keselamatan nyawa di masa depan. (*)

FOTO: NURSOIMA/RADAR SULTENG
RUANG TEATER: Ini adalah ruang teater yang terdapat di Kibotcha, sebuah vacation-stay yang juga berfungsi sebagai pusat pendidikan Bosai khusus untuk anak-anak. Di tempat ini kami menghabiskan waktu selama dua malam menginap.

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.