Belajar Menjaga Nyawa dan Melindunginya dari Bencana Perlu Usaha Kolektif Satu Bangsa

Catatan Perjalanan dalam Program Belajar UNESCO Disaster Prevention & DRR Strategy (9)

- Periklanan -

Ada penyesalan besar setelah kejadian The Great East Japan Earthquake and Tsunami 2011. Besarnya korban jiwa yang mencapai 15.897 orang dari 3 prefektur di wilayah Tohoku, dipercaya tidak perlu terjadi. Ya, sebagai negara dengan sejarah bencana panjang, Jepang sejatinya sudah mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk mengurangi risiko bencana. Namun, masih besarnya jumlah kematian, membuka mata banyak pihak bahwa ada yang salah dan tidak boleh terulang di masa depan. Apa itu?

LAPORAN: Nur Soima Ulfa

- Periklanan -

INTISARI ini saya dapatkan setelah tim kami menetap di Kota HigashiMatsushima di Perfektur Miyagi. Selama dua hari dari lokasi ini, kami belajar dan mengunjungi banyak tempat serta bertemu orang-orang penting, terkait masa pemulihan dan rekonstruksi pascabencana gempa dan tsunami 2011 di wilayah Tohoku. Bukan hanya di Kota HigashiMatsushima tapi juga di Kota Sendai, kota metropolitan yang merupakan Ibukota Prefektur Miyagi.

Satu dari dua hari penting dalam program Belajar UNESCO Disaster Prevention & DRR Strategy itu, yakni di hari kedua dari penghujung perjalanan kami. Pada Jumat (23/1), seperti biasanya, kami berangkat pagi-pagi. Kali ini kami berkendara dari Kota HigashiMatsushima sejauh 43 kilometer dengan waktu tempuh kurang dari satu jam menggunakan mobil. Tujuannya adalah Tohoku University yang letaknya di atas ketinggian gunung Aobayama di Kota Sendai.

Di tengah salju yang turun kami pun tiba dan berlari cepat-cepat ke dalam gedung International Research Institute of Disaster Science (IRIDes) Tohoku University. Di tempat ini kami disambut oleh tiga associate professor muda, yakni Anawat Suppasri, Akihiro Shibayama, dan Sebastien Penmellen Boret. Ketiganya berbeda kewarganegaraan dan latarbelakang keilmuan tetapi sama-sama fokus dalam penelitian kebencanaan.

Kejadian gempa dan tsunami di Kota Palu dan sekitarnya pada 28 September 2018 masuk dalam studi mereka. Sebab itu, kami bertemu. Bahkan Wakil Museum Sulteng Wakil Kepala Museum Sulteng Drs Iksam Djahidin Djorimi MM berkesempatan mempresentasikan Sejarah Bencana Gempa Bumi: Pengetahuan Lokal tentang Bencana dan Penanggulangan Dampaknya terhadap Warisan Budaya di Sulteng.

Dari pertemuan itu diharapkan ada proses pertukaran informasi: kami mendapatkan informasi penting tentang hasil riset mereka dan mereka bisa mendapatkan masukkan dari kami untuk keperluan studinya. Khususnya, masukkan untuk pembangunan infrastruktur bagi Kota Palu dan sekitarnya pada masa rehabilitasi dan rekonstruksi. Sebab IRIDes Tohoku University turut serta dalam bantuan tim JICA untuk pemulihan Kota Palu dan sekitarnya.

Kala itu, Anawat Suppasri, yang berkebangsaan Thailand dan berlatarbelakang sebagai insinyur sipil, memaparkan hasil studi mereka tentang gempa dan tsunami di Kota Palu dan sekitarnya. Dia menyebutkan gempa Palu cukup unik karena terjadi dua sesar bergeser vertikal. Sedangkan, tsunami terjadi akibat longsoran sedimen lama yang terbentuk akibat tsunami sebelumnya. Dari penjelasan itu, Suppasri menekankan bahwa gempa maupun tsunami di Teluk Palu adalah bencana berulang. Sama halnya yang terjadi di Jepang.

Sifat bencana yang berulang itu, terang Suppasri, membuat bencana bisa diprediksi meski tidak akan ada yang tahu secara persis kapan terjadi. Namun prediksi, memungkinkan untuk melakukan berbagai upaya pengurangan risiko bencana, mulai dari penyiapan infrastruktur yang tahan bencana, mempermantap teknologi mitigasi bencana sampai dengan memperkuat Bosai atau edukasi mitigasi bencana di masyarakat.

Dalam konteks sederhana, upaya ini berujung pada tujuan bagaimana bisa menyelamatkan lebih banyak nyawa saat bencana terjadi. Termasuk prediksi gempa besar yang akan terjadi di garis Pantai Barat Jepang pada 40 tahun mendatang. Suppasri mengungkapkan saat ini pihaknya juga mempersiapkan diri untuk menghadapi bencana itu, sembari menuntaskan pekerjaan rekonstruksi dan rehabilitasi pascabencana 2011.

Lebih lanjut, Suppasri mengungkapkan dari segi teknologi untuk mengurangi risiko bencana di Jepang, tidak ada masalah. Ada bangunan tahan gempa, banyak lokasi evakuasi yang dibangun, early warning system berfungsi baik, hingga pada penerapan perlindungan berlapis: tanggul, jalan yang ditinggikan dan lain-lain. Tapi ternyata itu tidak cukup, jika yang dilindungi (masyarakat, red) justru mengabaikan bahaya yang ditimbulkan oleh bencana.

“Bisa saja membangun tanggul tingginya 10 meter untuk melindungi warga dari tsunami. Tapi ini bukan jaminan, ketika masyarakatnya tidak sadar. Tidak segera lari ke tempat evakuasi. Malah, mungkin saja tanggul 10 meter ini bisa saja runtuh dan justru membahayakan nyawa masyarakat,” ujar Suppasri.

Jawaban yang lagi-lagi bermakna sama, yang dulu pernah saya dengar langsung dari Prof Fumihoko Imamura dari Tsunami Engineering Laboratory Disaster Control Research Center Universitas Tohoku saat bertemu di Teluk Kesennuma. Imamura Sensei, yang memiliki latar belakang keilmuan Sains dan Teknologi untuk Mitigasi Tsunami itu, juga berpendapat teknologi dan infrastruktur pelindung tidaklah cukup untuk menyelamatkan nyawa. Kalau begitu apa yang bisa?

Pertanyaan Suppasri berikutnya, memberikan saya gambaran jelas bahwa sekelas ilmuwan dan insinyur di Jepang, percaya bahwa kesadaran dan kepekaan terhadap bahaya masyarakat lah, yang bisa membantu. Dia secara khusus menyebut edukasi mitigasi bencana sepenuhnya akan membantu. Sebab untuk teknologi mitigasi di negara sekelas Jepang, tidak perlu diragukan lagi fungsinya.

PENYIMPAN KENANGAN
Adanya human error, menjadi jawaban kunci dari banyaknya jumlah kematian akibat gempa dan tsunami yang terjadi di wilayah Tohoku 2011. Hiroki Sugawara seorang kurator di Museum Sejarah Jomon Oku-Matsusgima, mengungkapkan saat bencana terjadi banyak yang warga meninggal adalah mereka tidak lari ke tempat yang telah ditetapkan sebagai tempat evakuasi.
Sugawara mengungkapkan daerah di KotaHigashiMatsushima yang terkena tsunami adalah laut yang menjadi daratan akibat sedimentasi yang dibawa oleh tsunami pada 3.000 tahun silam. Dulu sebelum tsunami 2011, daerah pesisir kota memiliki tanggul setinggi 4 meter dengan barisan pohon matsu (pinus) yang tumbuh sampai di rumahnya. Namun toh ternyata tidak menjadi pelindung saat tsunami datang.

Dia menceritakan satu kisah yang akan tetap dikenang dan menjadi pembelajaran seluruh bangsa. Sugawara menerangkan saat kejadian ada sekitar 20 warga yang lari ke gedung olahraga sekolah. Gedung ini hanya punya satu lantai, padahal dekat gedung ini ada bangunan sekolah sebagai lokasi evakuasi yang memang dirancang untuk itu: bertingkat tinggi dan dibangun kokoh tahan gempa.

Namun karena merasa aman dan berpikir tsunami tidak akan sampai ke gedung olahraga. Tapi kenyataan berbicara lain. Gelombang tsunami datang dan menggulung warga. Semuanya ditemukan tewas setelahnya. “Banyak orang yang percaya diri tsunami tidak akan mengenai mereka. Sebab itu mereka hanya lari ke gedung olahraga. Menanggap tidak bahaya itu ternyata fatal,” ujar Sugawara.

Untuk mematahkan rasa percaya diri tanpa dasar, seperti cerita di atas, maka edukasi Bosai digalakkan. Edukasi mitigasi bencana atau disebut sebagai Bosai, memang tidaklah asing di telinga saya sejak awal program ini. Kami diperkenalkan dengan Bosai dan dilakukan oleh hampir semua elemen. Bukan hanya sektor pendidikan saja, yang menjalankan tugas penting ini. Petugas kebakaran sekalipun memiliki program Bosai. Begitu pun dengan surat kabar.

Ya. Surat kabar yang notabene adalah lembaga pemberitaan yang lepas dari pengaruh pemerintah sekali pun, mengambil peran dan tanggungjawab untuk mengedukasi masyarakat dengan Bosai. Bukan sekadar dari pemberitaan dan artikel yang ditulis di koran. Tapi punya program Bosai tersendiri.

Praktik cerdas Bosai yang dimotori oleh para jurnalis ini saya temukan saat tim kami mengunjungi kantor redaksi Kohoku Shimpo pada sore hari, setelah kunjungan di Tahoku University. Di kantor surat kabar lokal terkemuka ini yang terletak di Kota Sendai ini, kami disambut langsung oleh Shinichi Takeda, seorang jurnalis senior peraih penghargaan sekaligus Kepala Kantor Pengurangan Risiko Bencana dan Proyek Edukasi Kahoku Shimpo Publishing.

Takeda mengungkapkan sebelum menjalankan program Bosai, Kohoku Shimpo telah banyak menulis tentang mitigasi bencana dalam bentuk artikel berita. Harapannya bisa mengedukasi pembacanya tentang kewaspadaan terhadap bencana. Kahoku Shimpo memiliki tiras sebanyak 450 ribu untuk koran pagi, sedangkan 70 ribu untuk koran sore. Dengan tiras sebesar itu, maka jumlah pembacanya juga tidaklah sedikit.

Namun setelah bencana 2011 terjadi, Takeda mengungkapkan pihaknya tercengang dengan begitu banyaknya korban jiwa. Itu membuat dirinya dan rekan-rekannya patah hati. Sebab menurut Takeda, Kahoku Shimpo sudah berupaya maksimal.“Ternyata menulis artikel di koran tidak cukup. Kita harus terjun langsung ke masyarakat,” tegas Takeda.

Program Bosai yang dijalankan Kahoku Shimpo ada tiga bentuk, yakni Musubi-Juku yang berupa workshop Bosai, Jisedai-Juku berupa seminar bagi generasi muda, dan Roundtable Discussion. Tiga program Bosai ini, jelas Takeda, dimungkinkan terjadi karena memanfaatkan kekuatan jaringan yang dimiliki oleh media. “Yang diperlukan hanya kesadaran kita sebagai media, bisa memainkan peran yang lebih dalam mengedukasi masyarakat tentang bencana. Bukan hanya bisa menuliskannya di koran,” jelasnya.

Untuk program Musubi-Juku yang dimulai sejak Mai 2012 itu, dilakukan dengan cara turun ke daerah-daerah terdampak bersama dengan para ahli gempa, ahli pembangunan dan lainnya. Workshop Bosai ini ditujukan untuk komunitas warga, sekolah hingga perusahaan. Isi workshop seputar sharing tentang bencana secara detil. Kegiatan ini dilakukan sebanyak 83 kali dan diliput setiap saat. Banda Aceh beruntung pernah mendapatkan workshop ini.

Program selanjutnya adalah Jisedai-Juku, berupa kursus yang mempersiapkan generasi muda untuk menghadapi bencana di masa depan. Para pengajarnya adalah para penyintas bencana tahun 2011 dan peserta kursus ini diharapkan bisa mejadi penyimpan kenangan (memory-keeper). Atas tujuan itu maka peserta program adalah mahasiswa yang turut didampingi oleh dosen. Program ini dimulai April 2017 dan sudah melatih 130 mahasiswa sebagai memory-keeper.

“Mengapa program ini ada? Karena 4 sampai 5 tahun kenangan ini bisa dilupakan. Tapi dengan adanya memory-keeper, mereka bisa menyampaikan ke generasi muda dan diteruskan ke generasi selanjutnya,” jelas Takeda.

Dia kemudian mengungkapkan kekhawatiran terbesar adalah hilangnya kewaspadaan terhadap bencana, pada generasi yang lahir setelah bencana 2011. Pasalnya, generasi ini tidak melihat langsung bencana dan merasakan penderitaan. Sebab itulah program Jisedai-Juku diharapkan mampu menjawab kekhawatiran tersebut.

Program terakhir adalah Roundtable Discussion, yang melibatkan kolaborasi banyak pihak untuk saling bertukar pikiran dan saling memberikan masukkan tentang pencegahan dan pengurangan risiko bencana. Utamanya dalam berkoordinasi. Kolaborasi ini melibatkan pihak universitas, pemerintah, media dan pemangku kepentingan lainnya. Hingga kini ada 180 orang dan 90 organisasi yang bergabung dalam program ini. Termasuk Prof. Prof Fumihoko Imamura dari Tohoku University.

“Yang ingin dibangun adalah kesepahaman. Ada banyak pihak punya tujuan yang sama-sama baik. Karena itu harus punya point of view yang sama untuk memulai koordinasi dalam upaya mengurangi kerusakan dan membangun kembali setelah bencana,” tegas Takeda.

Kunjungan belajar hari itu lantas membuat mata saya terbuka bahwa menjaga nyawa dan melindunginya dari bencana perlu usaha kolektif satu bangsa. Sebab selain petugas kebakaran, akademisi dan jurnalis, saya menemukan sebuah penginapan yang juga menjalankan edukasi Bosai. Ceritanya akan saya sisipkan di catatan berikutnya.(bersambung)

FOTO: NURSOIMA/RADAR SULTENG
TUKAR INFORMASI: Sesi diskusi bersama tiga associate professor muda (jajaran kanan) di gedung International Research Institute of Disaster Science (IRIDes) Tohoku University, pada Jumat pagi (25/1).

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.