Belajar Landasan dan Filosofi Hidup Orang Jepang di Kuil Buddha dan Shinto Sampai Rumah Teh

Catatan Perjalanan dalam Program Belajar UNESCO Disaster Prevention & DRR Strategy (1)

- Periklanan -

Radar Sulteng diberikan kesempatan emas untuk ikut dalam program belajar Disaster Prevention dan Disater Disaster Risk Reduction (DRR) Strategy yang disponsori oleh UNESCO di Jepang selama sepekan. Ada banyak pengalaman dan catatan penting yang bisa dibawa pulang ke Tanah Air. Khususnya bagi Kota Palu dan sekitarnya di masa tanggap darurat ini. Berikut laporan wartawan Radar Sulteng, Nur Soima Ulfa.

SETELAH terbang non stop 9 jam 20 menit di atas ketinggian dengan menggunakan pesawat All Nippon Airways (ANA) dari Teriminal 3 International Bandara Soekarno-Hatta, saya bersama Wakil Kepala Museum Sulteng Drs Iksam Djahidin Djorimi MM, akhirnya menapakkan kaki di Terminal 1 Narita International Airport di Chiba, Jepang. Kala itu waktu menunjukkan pukul 15.40 waktu Jepang (JST/Japan Standard Time), hari Minggu, 20 Januari 2019.

Di terminal tempat ini kami dijemput oleh Amaluddin Amir Tarawe, seorang mahasiswa tahun pertama magister di Tokyo University of Foreign Studies (TUFS). Dia akan menjadi penerjemah kami selama perjalanan.

Tempat pertama yang kami tuju setelah dari terminal adalah hotel kami di Kota Fujisawa, Prefektur Kanagawa. Di kota yang bersebelahan dengan daerah Tokyo ini, kami dijadwalkan akan mengunjungi beberapa tempat penting dan bersejarah. Namun karena tiba di Fujisawa malam, maka diputuskan untuk menginap lebih dulu di Shiosai Hotel.

Di tempat kami menginap ini ternyata berlokasi di tempat wisata pantai terkenal dan bisa melihat Gunung Fujiyama di samping jajaran hotel. Pulau Enoshima yang terkenal itu berada tepat di depan hotel kami. “Orang Tokyo biasa reakreasi di sini. Ini kayak Bogor-nya orang Jakarta. Hanya bedanya di sini pesisir pantai,” terang Amir, sesaat kami tiba di Fujisawa.

Perkataannya terbukti saat matahari terbit ke esokkan harinya. Kami termasuk beruntung karena pagi itu langit Fujisawa cerah berwarna biru, meski suhu udara drop ke 3 derajat celcius. Ini memungkinkan kami mendapatkan sedikit kehangatan dari matahari yang tidak tertutup awan. Hal itu juga memungkinkan kami melakukan observasi tanda-tanda evakuasi jika terjadi tsunami di sepanjang pantai Fujisawa, dengan sedikit nyaman tanpa perlu merasa beku.

Ya. Kota Fujisawa yang terletak di pesisir pantai dan menghadap langsung ke Samudera Pasifik, sangat rentan tersapu tsunami jika gempa besar melanda. Padahal lokasi ini adalah tempat wisata lokal maupun internasional, yang terkenal dengan wisata surfing dan beberapa situs sejarah.

Pasca bencana gempa besar dan tsunami terjadi di wilayah Tohuko (pesisir timur bagian utara) Jepang terjadi pada 11 Maret 2011, banyak kota di sepanjang pesisir timur Jepang lebih bersiaga. Salah satu mitigasinya adalah memasang banyak petunjuk peringatan tsunami. Seperti arah evakuasi ke tempat yang telah ditetapkan pemerintah sebagai lokasi evakuasi. Misalnya gedung sekolah, kuil di atas bukit atau fasilitas publik lainnya, yang memiliki ketinggian tertentu yang dianggap aman.

Tanda arah evakuasi ini memberikan petunjuk jelas kemana harus berlari dan sejauh berapa meter kita lari, sebelum akhirnya tiba di tempat evakuasi yang dimaksud. Misalnya, tanda evakuasi yang kami temukan saat menuju ke stasiun Koshigoe.

Di dalam tanda yang berwarna hijau yang terletak di persimpangan jalan ini, tertera jelas instruksi harus berlari sepanjang 400 meter ke tempat evakuasi, yang berlokasi di ketinggian 4,5 meter di atas permukaan laut. Informasi ini ditulis dalam aksara Jepang maupun bahasa Inggris yang penting bagi turis. Tanda evakuasi ini sangat berbeda dengan tanda evakuasi yang kita miliki di sepanjang Teluk Palu; tanda evakuasi berwarna orang sederhana dengan simbol lari dari ombak beserta tulisan “Arah Evakuasi”.

“Informasi soal evakuasi, seperti arah kemana maupun tempat lokasinya, juga dapat mudah ditemukan di papan informasi di tempat publik. Lihat, seperti ini,” tunjuk Prof Isamu Sakamoto kepada kami. Dia menunjuk tanda evakuasi tsunami yang ditempel tepat di samping mesin tiket kereta stasiun Kashiogoe.

Saat itu kami hendak menuju Kamakura Daibutsu Temple dengan menggunakan kareta di atas jalur Enoshima Electric Railway Line. Lokasinya terletak di Kota yang sama dan hanya memakan waktu 15 menit sampai di Stasiun Hase. Dari titik ini kami berjalan kaki dari stasiun ke arah bukit sejauh 950 meter untuk tiba di kuil Buddha ini. Di stasiun Hase ini saya juga menemukan tanda peringatan evakuasi tsunami.

PRINSIP JEPANG
Sikap orang Jepang memaknai bencana dan bersiap untuk itu, termasuk memasang begitu banyak tanda peringatan, bisa ditelaah dari landasan (pondasi) dan filosofi hidup mereka. Sederhananya, melihat lebih dekat ajaran agama dan budaya yang dianut oleh mayoritas bangsa Jepang. Begitu juga dengan sejarahnya yang panjang.

Untuk itulah, Sakamoto Sensei-panggilan akrab Prof Isamu Sakamoto selaku programmer study tour DRR Strategy- merancang hari belajar pertama kami dengan kunjungan ke kuil bersejarah, baik kuil Buddha maupun Shinto, dan juga ke Museum of ART (MOA) di Kota Atami, Prefektur Shizouka. Kunjungan ini penting untuk memahami sikap perilaku bangsa Jepang dalam memaknai bencana alam.

Jadi perjalanan ini bukanlah semata kunjungan wisata ke tempat bersejarah. Sakamoto sensei kerap mengatakan kami bukanlah turis tapi “siswa” dalam program belajar. Meski sesekali dirinya membiarkan kami merasakan Japan Experience sebagai turis. Seperti apa itu? Nanti saya ceritakan kemudian.

Di Kamakura Daibutsu Temple, kami belajar tentang agama Buddha dan sejarahnya di Jepang. Termasuk peninggalannya. Misalnya, patung Buddha raksasa atau The Great Buddha Kamakura yang ada di kuil itu. Agama Buddha masuk ke Jepang dari para biksu yang berasal dari daratan China.

Agama Buddha sempat mendominasi dan turut memengaruhi agama asli Jepang yakni Shinto yang sudah lebih dulu ada. Karena itu ada banyak kesamaan. Salah satunya bisa dilihat dari arsitektur kuil keduanya, tapi tetap ada perbedaannya. “Yang membedakan Jinja (kuil Shinto, red) dan Otera (kuil Buddha, red) adalah Jinja punya gerbang berwarna merah atau ada ornamen unik kertas di gerbangnya,” terang Sakamoto Sensei.

Terkhusus Kamakura Daibutsu Temple punya sejarah yang berkaitan dengan kebencanaan. Patung Buddha berbahan perunggu dengan tinggi 11,4 meters yang dibuat pada Tahun 1252, dulunya berada di dalam ruangan. Namun ruangan itu hancur karena diterjang serangkaian angin topan pada abad ke-14 dan tsunami pada abad ke-15. Setelah itu, diputuskan untuk membiarkan patung berada di tempat terbuka tanpa gedung.

Pembelajaran lainnya, kami dapatkan di Tsurugaoka Hachimangu. Sebuah kuil Shinto (jinja) yang punya sejarah dan peran penting di Kota Kamakura, Prefektur Kanagawa. Wilayah kuil ini di bangun pada Tahun 1063 di atas area sepanjang 1,8 kilometer, jika dihitung dari gerbang paling depan. Selain menjadi tuan rumah berbagai festival dan ritual keagamaan, kuil ini juga memiliki museum di dalamnya.

Kami pun kembali belajar sejarah di tempat ini dan berkesempatan memasuki Shrine Museum serta kuil utama yang merupakan area bebas kamera. Tidak diperkenankan memotret di sini.

Soal inti ajaran agama Shinto kami tidak menemukannya di tempat ini. Hanya saja, dari kunjungan itu kami tahu bahwa penganut Shinto mempercayai banyak dewa dan juga adanya roh jahat. Untuk itu mereka harus banyak berdoa atau memberikan persembahan untuk mendapatkan keselamatan hidup kepada dewa dan terhindar dari roh jahat. Misalnya, saya menemukan puluhan gentong sake dengan ukiran cantik disusun di samping kuil, yang ternyata adalah persembahan sebuah perusahaan sake agar diberkahi.

Soal filosofi hidup bangsa Jepang lainnya, kami temukan di Museum of ART (MOA). Masih di hari yang sama, kami berpergian naik kereta sepanjang 53 kilometer ke arah selatan menuju Kota Atami di Prefektur Shizouka. Kota ini juga kota pesisir sama seperi Fujisawa. Bedanya adalah pesisir pantainya pendek dan langsung berhadapan dengan penunungan. Konturnya mirip Kota Donggala di Kecamatan Banawa. Konturnya ya, bukan isi kotanya. Hehehehehe..

Di MOA ini, kami belajar salah satu prinsip hidup sehari-hari bangsa Jepang, yakni Wabisabi alias Simple is The Best. Ya. Sederhana adalah yang terbaik. Prinsip ini lahir dari salah satu tradisi dan budaya penting Jepang, yakni upacara minum teh. Meski pada awalnya, upacara ini tidaklah sederhana.

Sejarah minum teh kami pelajari di MOA. Tempat ini adalah satu-satunya museum, yang memiliki replika The Golden Tea Room. Sebuah ruangan teh emas portabel yang dibuat oleh Toyotomi Hideyoshi di Istana Kekaisaran di Kyoto pada Tahun Baru 1586. Sama seperti namanya, peralatan minum teh terbuat dari emas.

Menurut sejarah upacara minum teh di Jepang berasal dari Cina. Alat yang digunakan terbuat dari emas dan bahan lainnya. Hanya orang-orang kelas atas dan eksklusif yang bisa menikmatinya. Namun, dalam perkembangannya, bangsa Jepang menginginkan kesederhanaan alias simplicity. Maka Wabisabi muncul dan mengubah upacara minum teh mewah ke dalam Cha No Yuu, yang menerapkan kesederhanaan dalam upacara minum teh.

Kesederhaan bukan hanya soal hilangnya penggunanaan mangkok emas dan alat-alat lainnya dalam upacara minum teh. Namun juga soal munculnya makna sama sederajat dalam Cha No Yuu. Misalnya, pintu masuk ke ruangan upacara minum teh, sengaja dibuat kecil dan pendek agar orang yang masuk bersikap tunduk. Senjata tajam, juga dilarang masuk ke ruangan. “Di dalam raungan Cha No Yuu semua sederajat,” terang Amir, penerjemah kami.

Prinsip Wabisabi juga menyentuh estetika Jepang. Menurut Amir, prinsip ini paling bisa dilihat dari bangunan di Jepang. Umumnya, bangunan terlihat dari luar kecil dan sederhana. Tidak banyak ornamen untuk menghindari terganggungnya pemandangan dan keselarasan dengan alam. Namun, ketika masuk, terasa luas dan tidak seperti yang terlihat dari luar.

Nah, Wabisabi dalam Cha No Yuu ini, nyaris kami alami secara langsung. Di perkarangan MOA, ternyata ada Rumah Teh. Sakamoto Sensei rupanya ingin kami merasakan Japan Experience di tempat ini. Maka buru-burulah dirinya mengajak kami ke Rumah Teh, dengan harapan bisa ikut dalam jamuan upacara minum teh. Namun sayang, upacaranya telah selesai sore itu dan tidak ada pengulangan.

Sebagai alternatif, Sakamoto Sensei mentraktir tim kecil kami dengan jamuan teh hijau dan kue tradisional pendampingnya. Dia secara khusus meminta pelayan di rumah teh mendemonstrasikan cara membuat Ocha (teh hijau, red) dari bubuk matcha. Jadi sebagian teh kami tidak langsung jadi di mangkok.

Si pelayan mau-mau saja, setelah mendengarkan perkataan Sakamoto Sensei bahwa kami datang jauh-jauh dari Palu, Sulawesi Tengah, Indonesia dan ingin merasakan Japan Experience. Si pelayan pun dengan ramah mempraktikkan cara mengaduk matcha dengan chashaku, yaitu sendok kayu khusus.

Dengan cekatan dia mengaduk sampai tercampur dan sedikit berbusa, kemudian menyuguhkannya kepada kami dengan hati-hati. Kesederhanaan memang ada di dalam Ocha yang tawar, sedikit sepet namun terasa ringan di lidah. Kata Sensei, hari ini kami dipersilahkan merasakan sedikit saja sebagai turis. Tapi besok belajar tentang hal yang jauh lebih serius: penyelamatan jiwa.(bersambung)

FOTO: NUR SOIMA ULFA/RADAR SULTENG
LEBIH DETIL: Tanda peringatan evakuasi tsunami di sepanjang pesisir Kota Fujisawa, Prefektur Kanagawa. Tanda ini memuat informasi lebih detil tentang jarak arah evakuasi.

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.