alexametrics Belajar Diplomasi Sederhana dan Persahabatan Lintas Negara – RADAR SULTENG
Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Belajar Diplomasi Sederhana dan Persahabatan Lintas Negara

Siswa SMA Negeri Model Terpadu Madani Pertukaran Pelajar ke Texas USA (3)

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

ADA kisah sedih. Ada cerita bahagia. Ada pula pelajaran hidup yang tak ternilai. Mungkin untuk bekal hidup, nanti. Itulah yang membuat Novrani Erryztafitri, merasa kuat untuk bertahan di Texas, United States of America (USA).

Sebagai pelajar Indonesia yang sekolah dan akan tinggal di keluarga Amerika selama setahun. Selama lebih tiga bulan di Texas, Tita sapaan akrab siswa SMA Negeri Model Terpadu Madani itu, belum pernah bertemu dengan orang Indonesia. Pertengahan Agustus lalu, ia berpisah dengan rekan-rekannya di Hilton Hotel,  Washington DC.

Mereka lalu menyebar ke berbagai negara bagian yang ada di USA. “Sejak itu saya belum pernah bertemu orang Indonesia dan mendengar Bahasa Indonesia langsung,” katanya. 

Hari pertama tiba di Houston, ia dijemput di bandara oleh seorang volunteer AFS, organisasi yang memfasilitasi program pertukaran pelajar yang diikutinya. Dari bandara, ia dibawa ke rumah milik sang volunteer. Tapi sebelum itu, tuan rumah menawarkan makan siang untuk Tita. Ia dipersilakan memilih makanan dan restorannya.

“Di tempat Anda biasa makan dan tidak terlalu jauh dari sini,” jawabnya. Pengalaman pertama ini lantas diceritakan ke orang tuanya di Palu. “Ayah saya memuji. Kamu sudah mempraktikkan pelajaran diplomasi sederhana,” tutur Tita menirukan pujian sang ayah lewat WA. 
Pelajaran diplomasi berlanjut di rumah sang volunteer.

Siang itu, petir tetiba berdentum keras. Dua binatang peliharaan di dalam kandang merontah ketakutan. Pasangan suami isteri tuan rumah saling bertatapan. “Saya meminta mereka melepas binatang peliharaannya. Kata ayah saya, ini juga pelajaran diplomasi. Menguji kepekaaan dan pengambilan keputusan secara cepat,” kata lagi.

Suatu hari, ia dan Maria, temannya dari Iceland, mampir ke cafetaria Rice University di Houston. Maria adalah salah satu temannya yang terdekat. Maria yang selalu memeluknya jika ada masalah. Mereka lantas memperkenalkan diri sebagai orang baru. Memesan masakan yang recommended di café tersebut. “Selamat datang di Houston, kalian tidak perlu membayar,” kata Tita mengutip ucapan pelayan Café. Kali ini, ia menerapkan cara diplomasi mengirit isi kantong.
Selama di Texas, Tita telah berkunjung ke kota-kota terdekat, sepeti Ketty dan San Atonio. 

Terakhir ia ke Austin, ibukota Texas. Mengunjungi Texas University, Texas State History Museum, dan tempat wisata di kota itu. Sekalian berfoto di bawah Texas Symbol. Di Houston, ia telah mendatangi gereja terbesar di kota itu. Taman-taman di Medical Centre dan NASA. “Lumayan untuk foto-foto di IG,” kata Tita yang kerap berbagi cerita melalui channel Youtube Rahmat Bakri Official, miliknya ayahnya, Dr Rahmat Bakri SH MH, dosen Fakultas Hukum UNTAD.         

Menurutnya, mengikuti program pertukaran pelajar mengenalkan banyak hal baru. Termasuk lingkaran pertemanan lintas daerah dan lintas negara. Sejak mengikuti proses seleksi di Indonesia, Tita telah banyak mengenal teman-teman baru dari seluruh nusantara. “Saat proses seleksi, saya sudah punya teman dari Papua sampai Aceh, mereka anak-anak yang berprestasi di daerahnya,” katanya.

Sampai akhirnya, Tita bersekolah di dua sekolah di Texas. Jangkauan pertemanannya kini makin luas lagi. Sesama anak pertukaran pelajar dari berbagai negara, seperti Italia, Jerman, Hongaria, Turky, Iceland, Jepang, Austria. Belum lagi dengan teman-teman barunya di sekolah.

Menurutnya berteman dengan anak-anak sebayanya dari berbagai daerah dan negara merupakan aset yang tidak ternilai. “Minimal kalau saya ke daerahnya atau ke negara teman saya di luar negeri,  sudah ada yang kenal dan bisa membantu”.
“Hari ini saya homesick, rindu ke Palu tapi suatu hari mungkin Hosuton ini akan menjadi kota yang saya rindukan. Selalu ada alasan untuk kembali suatu saat. Dan waktu satu tahun mungkin tidak cukup untuk mengenal dan mengambil banyak hal dari kota ini,” tutupnya. (tim/habis)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.