Belajar Bosai dari Petugas Kebakaran, Siratkan Edukasi Mitigasi juga Sepenting Penyelamatan

Catatan Perjalanan dalam Program Belajar UNESCO Disaster Prevention & DRR Strategy (2)

- Periklanan -

Jepang dan Sulawesi Tengah tidak jauh beda: sama-sama rentan dengan bencana alam. Keduanya punya sejarah panjang dengan gempa dan tsunami. Juga sama-sama pernah menderita karenanya. Tapi dalam menyikapi bencana alam, keduanya jauh berbeda. Bangsa Jepang jauh lebih unggul dan karena itulah mengapa kami jauh-jauh belajar ke sana.

Laporan: Nur Soima Ulfa

- Periklanan -

HARI kedua Program Belajar Disaster Prevention & DRR Strategy yang disponsori oleh UNESCO, tidaklah main-main. Tidak ada Japan Experience terkait wisata sejarah dan budaya seperti hari pertama. Yang ada adalah hanyalah pelajaran intensif tentang Bosai. Intisari dari hampir seluruh perjalanan kami di Jepang selama sepekan ke depan.

Bosai adalah istilah Jepang yang merujuk pada mitigasi bencana atau teknik melindungi diri dari bencana. Kata Bo berarti pencegahan dan Sai, yang artinya bencana alam. Tapi bukan berarti mencegah datangnya bencana. Tapi bermakna bagaimana seluruh bangsa Jepang harus memiliki pengetahuan dan kesadaran terhadap bencana alam. Utamanya dalam meminimalkan korban jiwa, kerusakan, dan kemunduran yang disebabkan oleh bencana. Mitigasi bencana mereka tidaklah main-main dan berlaku dalam seluruh aspek kehidupan.

Di suhu udara yang hampir mendekati nol derajat, pada Selasa pagi (22/2), kami berjalan cepat sekali dari Stasiun Takamatsu, Kota Tachikawa, Prefektur Tokyo. Tujuannya adalah gedung Tachikawa Fire Departemen. Kami memang telah berpindah kota setelah mengunjungi Museum of Art di Kota Atami. Malam hari sebelumnya kami sudah menginap di kawasan ibukota negara ini.

Perlu waktu sekitar 13 menit untuk sampai di kompleks gedung dengan bentuk kotak-kotak minimalis dengan tinggi 6 hingga 10 lantai. Namun, apa yang dilihat dari luar kompleks, rupanya menipu mata. Kecanggihan dan lengkapnya fasilitas baru terlihat ketika memasuki gedung.

Di tempat ini, rombongan kecil kami, ternyata sudah dinantikan. Ada sekitar 4 petugas berbaju jas biru rapi, sudah menunggu di balik pintu masuk gedung. Mereka dengan sopan membungkuk dan menyambut kedatangan kami. Saya kemudian sadar mengapa tadi kami harus jalan cepat sekali; kami tidak ingin berlaku tidak sopan kepada tuan rumah yang sudah sangat tepat waktu.

Kami pun dibawa ke Earthquake Simulation Room oleh chief (kepala) Life Safety Learning Center. Ya, ternyata gedung ini bukanlah markas pemadam kebakaran biasa. Tapi juga gedung edukasi Bosai bagi masyarakat, yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas dan ruangan khusus sesuai kegunaannya. Misalnya, ruang area belajar dan diskusi, ruang simulasi bencana alam, ruang teater, ruangan permainan yang berkenaan dengan Bosai, ruangan simulasi kebakaran, hingga perpustakaan mini. Begitu lengkap dan canggih.

“Banyak warga yang datang ke sini dan membagikan cerita pengalaman mereka selamat dari bencana, secara sukarela kepada warga lainnya. Cerita-cerita ini sangat baik untuk membangun kewaspadaan dan kesadaran. Kami sangat terbantu untuk menyelamatkan lebih banyak nyawa,” terang si chief.

Belajar Bosai di tempat ini jauh dari membosankan. Jangan kira seperti belajar di sekolah atau kuliah yang penuh dengan teori. Pembelajaran dilakukan langsung dengan simulasi dan panduan praktis oleh para ahlinya. Nah, karena tahu asal kami dari Kota Palu, maka kami dibawa ke Earthquake Simulation Room.

Di sini kami disuguhkan video singkat bencana gempa yang terjadi di Kota Oshima, yang terletak di pulau vulkanik Izu Oshima dan berada di 36 km arah selatan Tokyo. Video itu berakhir di scene menampilkan kompleks perumahan yang rusak parah. Ada satu rumah yang disorot dan terlihat hanya tinggal atapnya yang bersisa. Mirip pemandangan Kota Palu dan sekitarnya pascagempa 28 September.

Sesaat setelah video berhenti. Tiba-tiba screen atau layar putih tempat video tadi diputar menggulung otomatis ke atas. Lalu memperlihatkan satu ruangan sepanjang 4 meter kali 3 meter yang tersembunyi di balik layar.
Ruangan ini betul-betul membuat kami berdecak kagum. Di dalamnya terdapat satu rumah yang di-setting hancur dan hanya bersisa atap genteng. Agar terkesan nyata, di belakang dan sisi kanan-kiri rumah ditempeli wallpaper bergambar kompleks perumahan yang hancur. Begitu terasa nyata. Ruangan ini mengingatkan saya pada studio mini Opera Van Java, tapi mungkin dengan episode bertema gempa bumi.

Si chief, yang notabene adalah salah satu pejabat, tidak sungkan menjadi instruktur kami saat itu. Dia menerangkan skenario saat itu adalah penyelamatan kakek yang terjebak di bawah reruntuhan atap. Si kakek masih hidup dan bisa saja meninggal dunia jika tidak ditolong segera. Di sinilah peran warga dibutuhkan untuk pertolongan pertama, katanya. Sebab jika menunggu petugas kebakaran atau tentara datang, maka bisa saja si kakek dan korban lainnya yang bisa saja hidup, tapi terlambat diselamatkan.

Dia pun menerangkan ketika kita bernasib seperti si kakek, maka yang harus dilakukan adalah meminta pertolongan agar diselamatkan. Tapi bukan dengan berteriak yang justru akan menghabiskan tenaga.

“Yang paling sederhana memukul-mukul kayu pada tiang atau benda apa saja yang ada di sekitar,” terangnya.

Namun ketika kita, selaku orang biasa dan berperan sebagai penolong pada situasi itu, maka layaknya mengetahui beberapa cara pertolongan. Pertama, ketahuilah posisi korban. Karena, si kakek berada tepat di bawah atap, maka buatlah lubang besar di atap. Dengan begitu, kita bisa mengetahui kondisi si kakek dan bisa memutuskan cara evakuasi terbaik.

Si Chief pun menyarankan agar evakuasi menggunakan alat-alat yang tersedia di sekitar lokasi. Tidak perlu alat canggih, yang perlu adalah mengetahui teknik mengubah alat yang terbatas dan sederhana menjadi alat yang berguna untuk evakuasi. Misalnya, menggunakan tiang kayu sebagai tuas pengungkit untuk mengangkat reruntuhan besar atau mengubah jaket atau pakaian lengan panjang sebagai tandu. Teknik-teknik seperti ini diajarkan di Life Safety Learning Center.

Di ruangan simulasi ini juga terdapat ruangan dengan setting kamar tidur dan ruangan kantor. Sama seperti reruntuhan rumah, skenario di dua ruangan ini berantakan setelah gempa terjadi. Yang bisa diambil pelajaran adalah benda-benda apa saja yang berbahaya dan berpotensi membunuh, harus diamankan. Seperti lemari pakaian atau mesin foto copy kantor, harus dipaku ke dinding.

Adanya begitu banyak pelajaran yang bisa diterapkan untuk mencegah kematian saat terjadi bencana di
Life Safety Learning Center, menyiratkan luasnya kesadaran bangsa Jepang bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati. Meskipun sejatinya peran pemadaman kebakaran adalah penyelamatan sesaat setelah terjadi bencana (emergency response), namun edukasi Bosai bagi pihak Fire Departemen di Jepang dipandang sama pentingnya.

Mereka sadar bahwa pencegahan jatuhnya korban jauh, jauh, jauh lebih baik ketimbang penyelamatan korban di lapangan, meski mereka sangat ahli dan betul-betul hebat. Ini dibuktikan dengan adanya pasukan khusus elit yang menyebut dirinya Hyper Rescue Task Force Team. Di akhir kunjungan, kami berkesempatan melihat latihan dan simulasi yang dilakukan oleh tim elit ini. Pengalaman yang langka karena tidak setiap orang diizinkan untuk melihat.

Untuk pelajaran hyper rescue ini, tim kami didampingi langsung oleh First Assistant Chief Commander Tokyo Fire Departemen, Mitsuo Yamamoto dan beberapa staf humas. Kapten Yamamoto, begitu dirinya kerap disapa, menjelaskan lebih dalam tentang peran penyelamatan (rescue) di Tokyo Fire Departemen. Khususnya di kantor Tachikawa Fire Departemen. Penjelasannya itu, diterangkan saat melihat secara langsung simulasi hyper rescue yang dilakukan di lapangan luas belakang gedung kantor.

Berada di tempat terbuka dengan suhu udara nyaris nol derajat dan terjangan angin bertiup kencang, sungguh tidak mudah bagi kami yang datang daerah tropis khatulistiwa. Angin dingin betul-betul terasa sampai ke tulang. Padahal kami sudah memakai pakaian berlapis-lapis dan diberikan pinjaman jaket khusus dari Fire Departemen. Tapi brrrrr.., tetap saja merasa beku.

Ini yang membuat saya terheran-heran melihat sekitar 20-an petugas pemadam kebakaran dengan semangat tetap melakukan latihan. Ada yang sibuk mengoperasikan mobil kebakaran dengan berbagai bentuk, jenis, dan tipe. Ada pula yang berbaris rapi sembari mendengarkan instruksi dari komandannya. Tak lama kemudian mereka melakukan latihan fisik di tempat. Seperti scot jump, jumping jack, hingga push up untuk pemanasan, dengan hanya menggunakan satu lembar jump suit orange khas petugas kebakaran. Tanpa jaket tebal.

Kapten Yamamoto dengan bersemangat menerangkan alat-alat canggih yang mereka miliki. Katanya, setiap mobil punya peran khusus yang disesuaikan untuk tipe bencana. Bukan hanya untuk kebakaran, kecelakaan lalu litas, gempa bumi, angin topan, dan lainnya, tapi juga ada mobil khusus untuk bencana kebocoran nuklir yang dilengkapi dengan robot serta petugas khusus.

Biar punya gambaran utuh betapa canggihnya mobil-mobil ini, Kapten Yamamoto menerangkan spesifikasi dari 21 mobil yang mereka miliki. Tapi, biar tulisan ini tidak kepanjangan, maka saya akan menceritakan beberapa mobil saja.

Ada mobil yang bisa mengeluarkan air 4.000 liter, 5.000 liter, hingga 8.000 liter per menit. Ada mobil yang di dalamnya didesain khusus sebagai rumah sakit darurat lengkap dengan alat medis dan dua ranjang di dalamnya. Ada mobil isinya hanya selang tapi panjangnya 2 kilometer untuk setiap sisinya. Ada mobil yang menyemburkan busa dan memiliki baling-baling raksasa di dalamnya. Ada mobil yang digunakan untuk mensterilkan korban yang terkena radiasi nuklir atau cemaran kimia lainnya. Ada juga helikopter lengkap dengan landasan helipad di samping gedung. Lengkap.

Agar tetap siap siaga bencana, setiap hari semua petugas wajib melakukan latihan dengan skenario yang berbeda setiap hari. Latihan ini terus diulang dan tidak boleh ada kata bosan atau lengah. Termasuk latihan menguji ketahanan tubuh seberapa tahan dengan panasnya api.

Untuk latihan ini ada mesin khusus seperti oven raksasa yang ditaruh di belakang kantor. Menurut Kapten Yamamoto, setiap petugas akan diuji seberapa tahan mereka dengan panasnya api. Alat itu akan di-setting dari level panas terendah sampai dengan tinggi. Kapan tes berhenti? Ketika si petugas berteriak sudah tidak tahan lagi.

Kesiapsiagaan juga terlihat dari jadwal shift. Dari 21 petugas yang seluruhnya adalah laki-laki, dibagi dalam 3 tim. Setiap tim wajib stand by di kantor selama 3 hari, bekerja 24 jam nonstop. Setelah shift selama 3 hari, mereka bisa istirahat.

“Setiap petugas, termasuk saya, punya tas yang berisi perlengkapan darurat. Tas ini akan kami bawa ketika ada panggilan tugas darurat di lapangan. Jadi semuanya harus dipersiapkan, harus serba cepat,” jelas Kapten Yamamoto yang memiliki misi penyelamatan international saat gempa di New Zealand pada 2016 silam .

Meski kerjanya ekstrem dan harus bekerja keras, jangan harap bisa dengan mudah melamar menjadi anggota tim elit ini. Petugas pemadam kebakaran di Jepang sekalipun tidak bisa dijamin bisa masuk tim ini. Ada seleksi ketat dan berjenjang, walaupun tim ini terbuka bagi mereka yang ahli di bidangnya (non petugas kebakaran). Misalnya, pecinta alam profesional atau mereka yang ahli dalam misi penyelamatan.

Menurut Direktur Tachikawa Fire Departemen, Yasumoto Hata, yang menerima kami di ruangannya beserta pejabat lainnya, bahwa timnya termasuk yang terbaik dari fire departemen lainnya di Tokyo. Hyper Rescue Task Force Team adalah andalan bagi institusi ini dan terlibat langsung dalam misi penyelamatan saat gempa dan tsunami besar melanda Tohoku Region pada 3 Maret 2011.

“Khusus untuk kejadian bencana di Palu, petugas dari Tokyo Fire Departemen ada yang terlibat dalam misi penyelamatan. Tapi bukan dari kantor ini. Karena itu kami merasa senang anda sekalian bisa datang dan belajar banyak di tempat ini,” ungkapnya.(bersambung)

FOTO: ISAMU SAKAMOTO UNTUK RADAR SULTENG
CANGGIH: Kapten Yamamoto menerangkan tentang spesifikasi yang dimiliki mobil armada milik Tachikawa Fire Departmen. Ada 21 unit armada dengan spesifikasi berbeda dan serba canggih mendukung kerja mereka dalam misi hyper rescue.

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.