Bayi Jumbo Asal Sigi dengan Bobot 6,4 Kilogram dengan Persalinan Normal

Selama Hamil Ibunya Suka Makan, Makan Sayur Kelor, Daun Ubi, dan Terong Bersantan Hingga Lamale

- Periklanan -

Siti Mariam (39), seorang ibu asal desa Balane, Kecamatan Kinovaro, Kabupaten Sigi, tak pernah menyangka bakal melahirkan bayi jumbo. Bayangkan saja, anaknya lahir dengan berat mencapai 6,4 kilogram. Tentu menjadi proses kelahiran yang penuh perjuangan melebihi ibu pada umumnya yang melahirkan secara normal. Meskipun begitu, sakitnya saat melahirkan setengah mati, rasa itu terobati dengan kemunculan sang jabang bayi perempuan yang benar-benar istimewa.

LAPORAN : MUGNI SUPARDI

Bayi jumbo itu sedang asyik merasakan hawa sejuk di atas pangkuan Mariam, di kursi teras pondok bersalin desa (Polindes) desa Porame, Kecamatan Kinovaro, Sigi, pukul 07.00 wita, Rabu (24/6). Dari kejauhuan pipinya terlihat begitu montok, kulit putih kemerahan dan rambutnya hitam cantik.

Sesekali Mariam mengelus-elus pipinya mencoba mengajak bicara, sang bayi seakan merespon dengan memberikan senyuman yang begitu manis. “Pagi sekali datangnya pak, masih bersih-bersih ini. Nanti selesai mandi bayinya, baru wawancara yah pak,” kata Ni Ketut Hendriani AMD Kep, bidan yang membantu persalinan Mariam, saat kedatangan wartawan Radar Sulteng.

Tak berselang lama, bayi jumbo itu sudah selesai mandi, Ni Ketut dan Mariam siap berbagi kisah dari proses persalinan yang cukup menegangkan itu. Bayi yang lahir di usia kehamilan 39 minggu ini memiliki berat di atas rata-rata 6,4 kilogram, panjang 50 centimeter, pada Selasa (23/6), pukul 10.53 wita.

Umumnya bayi yang terlahir normal dengan berat antara 2,9 kilogram hingga 3,6 kilogram. Sehingga bobot bayi milik Mariam ini pun dikatakan lebih layak dimiliki oleh bayi berusia empat bulan atau lebih. Bahkan ada bayi yang sudah berusia satu tahun memiliki berat badan 6,3 kilogram. “Jadi tergantung dari asupan gizinya,” jelas lulusan Akademi Kebidanan (AKbid) Cendrawasih Palu Angkatan II ini.

Mariam merasakan kontraksi pertama pada kandungannya pukul 03.00 wita, Selasa subuh. Saat itulah, dia merasa persalinannya telah tiba. Pada awalnya bukan Ni Ketut, bidan yang rencana menangani persalinan Mariam. Tetapi bidan yang berada di desa Balane itu sendiri, tapi karena bidan itu sedang mengidam dan jatuh sakit, sehingga Mariam diarahkan ke Ni Ketut. Mariam didampingi suaminya, Mujiono kemudian bersiap dan berangkat dari Balane ke Porame, dengan menempuh perjalanan sekitar satu sampai dua kilo dengan sepeda motor.

Pada 19 Juni lalu, Mariam sempat memeriksakan kandungannya ke bidan di desa Balane. Sang bidan kala itu telah memperkirakan bayi di perutnya akan berbobot 3,2 kilogram dan lahir di tanggal 22 Juni.

Setelah itu Mariam masih saja beraktivitas seperti biasa, seperti memasak sampai mencuci. “Jika ditahu berbobot 6 kilogram mungkin operasi, tapi nanti nampak kepalanya keluar saya bilang ini pasti besar, jadi posisi nariknya itu sampai pakai kuda-kuda, kalau tidak begitu nanti saya yang jatuh dari ranjang,” cerita Ni Ketut berbagi pengalaman pertamanya selama mengabdi sebagai bidan.

Ni Ketut sudah tidak bisa menggambarkan bagaimana posisi kakinya di atas ranjang ketika itu. Tangannya juga sesekali gemetar. Dia tidak sendirian kala itu, ada tiga orang yang turut membantu yaitu adik dari Ni Ketut, satu bidan lain dan ipar dari Mujiono. Dua orang posisinya membantu memegang kaki kiri dan kanan, satunya lagi membantu mendorong perut.

- Periklanan -

Di sisi lain, posisi Mariam semakin merontah dan tidak tahan dengan rasa sakit. Saking sakitnya, di tengah persalinan Mariam sudah ingin menjepit kedua pahanya, namun Ni Ketut kembali menendang kaki Mariam agar masih terbuka. Ni Ketut sampai bertanya-tanya apakah bayi ini bisa lahir dengan selamat. Pertanyaannya pun terjawab, setelah hampir 30 menit dibalut ketegangan dan susah payah berjuang di ruang persalinan. “Kan bahunya bayi ini besar, sempat melintang, jadi kita harus putar, dan tidak bisa menunggu lama karena nanti terjepit dan tidak bisa bernapas,” ujar mantan bidan di Puskesmas Moutong ini.

Jika dipikir secara logis dan merujuk ke dunia medis, Ni Ketut mengakui dengan bobot bayi 6,4 kilogram tidak mungkin bisa lahir normal, pasti rahimnya robek, tetapi tidak bagi Mariam yang hanya robek seperti persalinan normal. Bahkan jika tidak meronta mungkin hanya lecet biasa. Untuk menguatkan berat badan si bayi 6,4 kilogram, saat menimbang dia sempat mengabadikan dengan video dan memostingnya di medsos. “Hanya ada lima jahitan, tangan saya masih gemetar saat menjahit,” sebutnya.

Menurut Ni Ketut, tidak ada yang perlu dikhawatirkan terkait kondisi si bayi, karena dalam kondisi yang sehat, yang terpenting penanganan saat persalinan itu cepat tanggap. Ni Ketut berani menolong karena Mariam tidak memiliki penyakit bawaan, jika ada maka mereka tidak berani.

Meski dengan usia 39 tahun yang memiliki resiko, tapi tidak semua dengan usia begitu juga tidak bisa mereka tangani sendiri. Ni Ketut sudah berkonsultasi dengan pihak dokter di Puskesmas Kinovaro dan Dinas Kesehatan Sigi untuk mengabarkan kondisi terkini bayi jumbo itu pasca persalinan. “Gula darahnya normal kok,” terang bidan yang sudah 10 tahun mengabdi di Polindes Porame ini.

Mariam pun menceritakan pengalamannya yang gemar makan dengan menu yang sering seperti sayur kelor, daun ubi dan terong yang dimasak santan disajikan bersama lamale (udang kecil dalam bahasa suku Kaili). “Kalau tidak dicampur dengan lamale, tidak terasa enak,” singkat Marian yang mengaku juga sering minum pop ice ini.

Mujiono beserta anaknya heran dan sampai bosan karena selalu dihidangkan dengan menu itu-itu saja. Bahkan jika Mujiono sudah mengomel soal menu, Mariam sampai berinisiatif untuk pergi membelinya sendiri. Menu-menu yang memiliki kandungan tinggi dan gizi yang baik bagi tubuh ini yang diduga menjadi penyebab bayi memiliki bobot super.

Di sisi lain juga diduga ada pengaruh dari tinggi dan berat badan dari Mariam yang juga turut melancarkan persalinan secara normal. “Saya akui bidannya hebat. Setelah selesai saya sempat berpikir kalau bukan karena bidannya mungkin anak saya tidak tertolong,” jelas Mariam.

Anak Mariam yang dilahirkannya sebelumnya dari suami pertama ada dua orang, yang cewek itu 3,3 kilogram sedangkan cowok 3,7 kilogram. Sedangkan Mujiono yang kesehariannya sebagai tukang sayur keliling sangat menginginkan anak perempuan, karena dengan istri pertamanya dikarunia empat orang anak semuanya laki-laki.

Kelahiran bayi perempuan ini juga membuat kebahagian tersendiri baik dari pihak keluarga Mariam dan Mujiono. Sanak keluarganya ada yang kaget mendengar berat badan dari si bayi, bahkan sampai tidak percaya bisa dengan persalinan normal. “Ada keluarga dari bapak di Mamuju sampai menangis video call, sudah janji belikan sesuatu buat bayinya, nanti mau datang, mungkin tidak sabar lihat langsung,” cerita Mariam, wanita suku asli Jawa ini.

Sedangkan Mujiono mengaku masih merasa takut untuk menggendong bayinya sendiri, dia juga belum memberi keputusan apa nama yang tepat. Meski ada satu saran nama dari pihak keluarganya, tapi dia masih menimbang-nimbang nama yang tepat buat bayi perempuan yang selama ini dinanti-nantikannya. “Namanya masih disiapkan bapak,” tutup Mariam. (*)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.