Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Basarnas Siap Back Up Perburuan Buaya Berkalung Ban

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Buaya berkalung ban atau B3 kembali muncul di Muara Sungai Palu, Sabtu (12/5). (Foto: Mugni Supardi)

PALU – Keterlibatan Basarnas DKI Jakarta dalam memburu buaya muara di Tanjung Priok, Jakarta Utara, bersama dengan instansi terkait seperti Ditpolair Polri, TNI Angkatan Laut ditanggapi Kepala Basarnas Kantor Pencarian dan Pertolongan Palu, Basrano.

Menurutnya, Basarnas Kantor Pencarian dan Pertolongan Palu siap untuk membackup, mendukung dan hadir bersama-sama seandainya dibutuhkan baik di kegiatan-kegiatan SAR sendiri maupun di luar dari tupoksi SAR.

“Ini adalah bagian dari kerjasama antar stakeholder yang lain. Namun kami tidak bisa menginisiasi, saya berharap dari pemerintah Kota atau Provinsi menginisiasi kegiatan ini, apakah mengadakan rapat khusus terkait dengan masalah penanganan buaya di Palu,” kata Basrano kepada Radar Sulteng, Senin (18/6).

Di Kota Palu, Sulawesi Tengah, buaya muara seakan sudah menjadi hal biasa ditonton setiap harinya khususnya di Sungai Palu yang merupakan habitatnya sejak lama. Jumlahnya sampai puluhan yang dewasa, itu belum yang masih kecil-kecil. Kalau berbicara tentang korban sudah banyak berjatuhan, bahkan sampai nyawa menjadi taruhannya.

Di samping itu, salah satu buaya muara di Palu juga terkenal hingga ke media internasional karena berkalung dengan ban motor matik. Beberapa waktu lalu sempat dilakukan upaya penyelamatan oleh tim Jawa Pos dan Radar Sulteng bersama Panji Petualang terhadap buaya yang diberi julukan B3 ini. Akan tetapi belum berhasil meski upaya tersebut sampai ke dunia lain.

“Kalau bicara tupoksi merupakan kewenangan BKSDA, tetapi terkait di wilayah kita sendiri ini menjadi pekerjaan rumah bagaimana memberikan rasa aman kepada masyarakat, khususnya yang setiap hari melaksanakan aktivitasnya, terkadang memancing di Sungai dan Teluk Palu,” lanjut Basrano.

Basrano juga mengakui, buaya ini akan menjadi salah satu ancaman seandainya tidak ditangani segera. Disisi lain reptil ini memang juga dilindungi oleh undang-undang, tetapi juga harus ada pengelolaan yang tepat. Karena kapan kata Basrano, salah pengelolaannya pasti ini akan menjadi persoalan.

“Bukan hanya masyarakat kita yang terancam, tetapi termasuk kita sendiri yang mungkin terancam. Contohnya anggota kami dan Lanal Palu sudah melihat ada buaya berkeliaran di Watusampu,” ungkapnya.

Dengan penampakan ini, sebut Basrano, tidak menutup kemungkinan pantai Talise banyak warga yang berwisata pada hari libur, buaya juga akan menyeberang ke lokasi tersebut.

Dia menyampaikan, Basarnas siap mendukung ketika misalnya dibutuhkan dengan kekuatan yang ada dan akan disesuaikan sepanjang tidak bertabrakan dengan tupoksi mereka.

“Kalau pun tabrakan kita akan sesuaikan sajalah, intinya kita siap untuk membackup, apakah itu menolong si buayanya sendiri, atau menolong keluarga kita yang terkena atau yang terancam,” terangnya.

Dia juga menambahkan, ketika penyelamatan B3 mengapa Basarnas Palu tidak secara langsung menurunkan rubber boat karena memang anggotanya sudah memantau di sekitar lokasi.

“Kami melihat situasinya, pada saat kapan kita harus turun dan pada saat kapan kita tidak turun,” jelasnya.

Terpisah, Kepala Seksi Wilayah I Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Sulteng. Haruna menyatakan sudah pernah melakukan koordinasi dengan pihak Basarnas Palu dan mereka siap membantu bila diperlukan. Khususnya untuk B3, kata Haruna, anggotanya memantau B3 sempat terlihat di jembatan II dua hari menjelang lebaran lalu.

“Iya anggota saya juga lapor, saya sudah tugaskan mereka pantau. Untuk kerjasama dengan Basarnas itu bagus, kami akan koordinasikan,” sebutnya.

Sementara itu, dari pantaun Radar Sulteng Senin (18/6) sekitar pukul 17.00 wita, B3 terlihat sedang berada di muara Sungai Palu. Akan tetapi, hanya bagian kepalanya yang muncul dari dalam air, masih terlihat juga ban dilehernya. Ada beberapa buaya berukuran sedang juga naik ke delta sungai. Kondisi ini juga sempat menarik perhatian dari masyarakat sekitar Jembatan Palu IV. (acm)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.