alexametrics Bantu Peningkatan Pendapatan Warga, Laboratorium Pengembangan Kelor Dibangun di Palu – RADAR SULTENG
Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Bantu Peningkatan Pendapatan Warga, Laboratorium Pengembangan Kelor Dibangun di Palu

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

PALU- Peletakan batu pertama pembangunan Asean Moringa Learning Center Integrated Organic Moringa Farm dan Processing (AMLC) di Desa Kalora, Kecamatan Kinovaro, Kabupaten Sigi, Jumat (30/10). Terbangunnya AMLC guna menghadirkan pembelajaran kepada masyarakat tentang kelor, wisata edukasi kelor, dan kelor sebagai makanan dan minuman yang bisa menjadi penghasilan ekonomi. Dan akan melibatkan lebih dari 200 ribu petani pengolah tanaman kelor.

Owner dan Founder Moringa Organik Indonesia, Dudi Krisnadi, menjelaskan bahwa pohon kelor adalah salah satu tanaman yang paling luar biasa yang pernah ditemukan. Hal ini mungkin terdengar sensasional, namun faktanya memang kelor terbukti secara ilmiah merupakan sumber gizi berkhasiat obat yang kandungannya di luar kebiasaan kandungan tanaman pada umumnya. Sehingga kelor diyakini memiliki potensi untuk mengakhiri kekurangan gizi, kelaparan, serta mencegah dan menyembuhkan berbagai penyakit di seluruh dunia. Kelor benar-benar tanaman ajaib, dan karunia tuhan sebagai sumber bergizi dan obat penyembuhan bagi umat manusia.

Kelor di Indonesia, terutama di Sulawesi, telah tumbuh sejalan dengan peradaban dan perjalanan
sejarah kehidupan masyarakatnya, sebagai sebuah kearifan lokal yang diwariskan secara turun temurun.

Bahkan, kami meyakini bahwa sesungguhnya tanaman yang dikenal dengan nama latin Moringa oleifera ini berasal dari Sulawesi, bukan dari Himalaya India. Banyak bukti sejarah masa lampau yang dapat ditelusuri sejak zaman Sundaland, ketika Kalimantan, Jawa dan Sumatera masih bersatu dan kemudian terpisah, Pulau Sulawesi telah dan masih ada seperti bentuknya semula. Sayangnya, anugerah ini kemudian terlupakan karena perjalanan sejarah kehidupan Nusantara.
“ Kami meyakini, bahwa kelor akan kembali menjadi tanaman yang sangat penting bagi kesejahteraan umat manusia. Namun demikian, semua itu akan sangat tergantung pada bagaimana mempertahankan kandungan nutrisi dan senyawa aktif dalam Kelor pada saat pengolahannya. Proses belajar yang terus menerus telah mengantarkan kami pada penemuan, metode pengunci nutrisi daun kelor. Sebuah cara khas Moringa Organik Indonesia dalam mengolah daun Kelor dengan tetap mempertahankan nilai nutrisinya yang tinggi,” kata Dudi.

Dudi menjelaskan metode yang dilakukan adalah rangkaian perlakuan khusus yang saling terkait dalam pemanfaatan hasil panen tanaman Kelor, berupa daun, bunga dan biji, mulai dari budidaya, panen, pasca panen, pengolahan, pengeringan, penepungan daun, pemerasan biji, pengemasan, sampai dengan distribusi produk akhirnya. Perlakuan dimaksud tidak hanya terbatas pada tindakan, namun juga penggunaan alat dan peralatan yang digunakannya.

Terabaikannya potensi sosial ekonomi tanaman kelor, lebih karena ketidaktahuan bangsa kita dalam mengolahnya dengan benar untuk dapat dimanfaatkan sebagai Food (makanan dan minuman bernutrisi tinggi), Feed (Pakan Ternak yang berkualitas), Fertilizer (Pupuk alami yang menyuburkan tanah dan tanaman) dan Natural Skincare (Perawatan tubuh alami yang menakjubkan).
“ Oleh karena itu, kami merasa memiliki tanggung jawab moral untuk mendistribusikan pengetahuan kami tentang metode tersebut dengan mendirikan AMLC sebuah tempat dimana bangsa Indonesia, dan bahkan bangsa-bangsa lain di dunia, dapat saling berbagi pengetahuan tentang bagaimana mengolah tanaman kelor ini untuk kesehatan, kesejahteraan pada sumber pendapatan baru yang menguntungkan dan sumber devisa negara pada komoditas eksport unggulan.

“Besar harapan kami, dapat mengangkat potensi kelor organik Indonesia bagi sebesar-besarnya kemakmuran bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Para keloris dan petani pengolah kelor dimanapun berada, dapat dengan mudah menerapkan SOP MOI dan menjual hasilnya kepada kami dengan pola pendekatan silih asah, silih asih dan silih asuh. Khusus bagi masyarakat Sulteng, keberadaan nya akan melibatkan lebih dari 200 ribu petani pengolah tanaman kelor, dengan pola kerja sama, sehat dan sejahtera dengan bekerja di rumah. Hal ini dimungkinkan karena kearifan salah seorang tokoh pengusaha yang sangat peduli terhadap kesejahteraan dan perikehidupan petani Sulteng,” kata Owner dan Founder Moringa Organik Indonesia, Dudi Krisnadi.

Menurut hasil penelitiannya, daun kelor ternyata mengandung vitamin A, vitamin C, Vit B, kalsium, kalium, besi, dan protein, dalam jumlah sangat tinggi yang mudah dicerna dan diasimilasi oleh tubuh manusia. Bahkan, perbandingan nutrisi daun kelor segar dan serbuk, dengan beberapa sumber nutrisi lainnya), jumlahnya berlipat-lipat dari sumber makanan yang selama ini digunakan sebagai sumber nutrisi untuk perbaikan gizi di banyak belahan negara.

Tidak hanya itu, kelor pun diketahui mengandung lebih dari 40 antioksidan. Kelor dikatakan mengandung 539 senyawa yang dikenal dalam pengobatan tradisional Afrika dan India (Ayurvedic) serta telah digunakan dalam pengobatan tradisional untuk mencegah lebih dari 300 penyakit.

Potensi pangsa pasar agri kreatif kelor Suplemen gizi, pasar global senilai $ 93 miliar di tahun 2015, makanan ringan, industri senilai $ 374 miliar di seluruh dunia, minuman, industri teh global saja dihargai $ 15,4 miliar, perawatan pribadi organik, sebuah pasar diperkirakan mencapai $ 16 miliar di seluruh dunia pada tahun 2020. Total senilai lebih dari 1.200 triliun per tahun.

Nantinya AMLC yang dilakukan nantinya yakni pembelajaran masyarakat, wisata edukasi, kelor sebagai makanan dan minuman, kelor sebagai pakan ternak, kelor sebagai pupuk alami, kelor sebagai perawatan tubuh, pengolahan tanaman kelor, pengeringan daun dan bunga kelor, pembuatan minyak biji kelor penepungan daun kelor, pengolahan makanan dan minuman berbahan kelor, pembuatan kosmetik alami berbahan minyak biji kelor, pembuatan pakan ternak berbahan kelor, pembuatan pupuk organik berbahan kelor.
“Mendorong peningkatan kesehatan khususnya mengatasi stunting melalui propaganda penyadaran menjadikan Kelor sebagai asupan nutrisi harian, bangsa dan peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan menciptakan sumber pendapatan baru. Pelatihan, pendampingan dan pembelian hasil produksi,” tutup Dudi. (who)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.