Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Bantu Pengembangan RPB Sekaligus Pengenalan Sphere dan Operasi Tanggap Darurat Bencana

INANTA Gelar Dua Pelatihan untuk Masyarakat Pakuli dan Kawalara

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

SIGI-Yayasan Inovasi Ketahanan Komunitas (INANTA) terus melakukan pendampingan terhadap masayarakat di Kabupaten Sigi. Kali ini, masyarakat Desa Pakuli dan Kawalara yang didampingi. Ada dua pelatihan yang digelar untuk membantu pengembangan Rencana Penganggulangan Bencana (RPB) di Desa Pakuli dan Kalawara, sekaligus mengenalkan sphere project dan operasi tanggap darurat bencana untuk tim siaga penanggulangan bencana desa.

Kedua pelatihan dilakukan pada 29 dan 30 Januari 2021 serta 1 hingga 3 Februari 2021, di Café and Resort D’Kalora, Palu-Sigi. Dalam pelatihan yang digelar oleh Yayasan INANTA bekerja sama dengan BPBD Kabupaten Sigi, dan didukung oleh Peace Winds Japan serta Japan Platform tersebut, diikuti oleh 20 warga yang merupakan perwakilan dari Desa Pakuli dan Kalawara.

Pelatihan yang dibuka langsung oleh Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sigi, Asrul Repadjori SSos MM. Dalam sambutannya, Asrul mengapresiasi terlaksananya dua kegiatan tersebut. Pasalnya, pelatihan yang digelar membantu dalam menyiapkan masyarakat Sigi baik secara mental maupun keterampilan dalam penganggulangan bencana.

Asrul kemudian menyampaikan terima kasihnya kepada Yayasan INANTA yang tetap semangat dalam membimbing dan melatih masyarakat khususnya, masyarakat Desa Pakuli dan Desa Kalawara. Di mana nantinya peserta pelatihan peserta akan memiliki tugas dan tanggung jawab sebagai fasilitator di desa masing-masing.

“Sebelumnya telah dibentuk Forum Pengurangan Risiko Bencana (F-PRB) untuk tingkat Kabupaten Sigi, yang dipimpin oleh Bapak Syaidul Taslim yang melibatkan seluruh stakeholder, NGO dan tim. Kemudian sekarang dibentuk Forum PRB di tingkat desa., yang diharapkan nantinya kedua elemen ini dapat bersatu ketika terjadi bencana,” ungkapnya.
Asrul menambahkan terbentuknya Rencana Penanggulangan Kedaruratan Bencana (RPKB) yang diketuai oleh bupati dan stakeholder, diharapkan dapat memudahkan koordinasi antara tingkat kecamatan dan kabupaten, bila terjadi bencana di wilayah masing-masing.
Sementara itu, Henry selaku fasilitator pelatihan, menjelaskan pelatihan pertama yang dilakukan pada 29 dan 30 Januari ditujukan untuk membantu Desa Pakuli dan Kawalara untuk mengembangkan RPB. Dimana RPB merupakan suatu kebijakan yang dikembangkan oleh desa dengan difasilitasi oleh INANTA, agar desa bisa membuat perencanaan dan upaya apa saja dalam rangka penganggulangan bencana. Termasuk dalam fase pasca bencana, saat bencana terjadi dan sebelum bencana terjadi sesuai dengan Perka BNPB No. 4 tahun 2008.
“Nah, kita harapkan nantinya bahwa RPB ini bisa terintegrasi dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes) yang kemudian bisa setiap tahunnya masuk di dalam Rencana Kerja Pemerintahan Desa (RKPDesa). Dokumen ini diharapkan bisa selesai dalam satu bulan, sekitar februari akhir atau awal Maret dokumen ini bisa disepakati dengan Kepala Desa dan BPBD untuk bisa menjadi dokumen atau kebijakan penanggulangan bencana di kedua desa ini,” ungkapnya saat ditemui Selasa (2/2).
Untuk pelatihan kedua yang digelar pada 1-3 Februari 2021, Henry menjelaskan para peserta diberikan pelatihan tangap darurat dan pengenalan terhadap Sphere Project, yaitu Standar Minimum dalam Tanggap Darurat Kemanusiaan. Nantinya, diharapkan terbentuk Tim Siaga Bencana di desa dan mereka telah memiliki kemampuan dalam melakukan kaji cepat dan menentukan target yang akan dibantu pada saat terjadi bencana. Tentunya berdasarkan standar global yang berlaku umum dan diharapkan bisa dikolaborasikan dengan kearifan lokal yang ada.
“Jadi proses yang terjadi selama tiga hari itu, selain memperkenalkan mereka tentang sistem tanggap darurat dan standar-standar minimum, juga akan dibantu oleh Tim dari Basarnas tentang bagaimana upaya penyelamatan dan pencarian korban, pada saat terjadi bencana, dan juga akan didukung oleh PMI di dalam melakukan tindakan-tindakan pertolongan pertama pada kegawatdaruratan,” jelas Henry.
Dalam pelatihan tersebut, peserta juga memperoleh informasi dan pemahaman tentang trauma healing yang dibutuhkan oleh masyarakat saat pascabencana. Narasumber didatangkan dari lembaga terkait.(uq/adv)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.