Banjir Dampala Diduga Akibat Aktivitas Penambangan

- Periklanan -

MOROWALI- Terhitung dua tahun berturut-turut, Desa Dampala Kecamatan Bahodopi dilanda musibah banjir. Pada Juni 2019 lalu, Desa Dampala diterjang banjir bandang yang mengakibatkan beberapa rumah warga mengalami kerusakan parah bahkan ada yang hanyut dibawa derasnya arus sungai.

Pada Juli 2020, Desa Dampala kembali diterpa banjir. Puncaknya, terjadi pada Kamis kemarin (16/7). Sekitar pukul 09.30 wita, sungai Dampala telah meluap karena intensitas hujan yang cukup tinggi dalam kurun waktu beberapa hari terakhir ini.

Alhasil, Jalan alternatif dibuat lumpuh total. Pada sore hari, volume air di sungai Dampala semakin meningkat. Alhasil, air sungai masuk kedalam pemukiman penduduk dan merendam hampi semua bangunan rumah di Desa Dampala tersebut.

Berdasarkan data yang ada, untuk Desa Dampala rumah yang terendam dari luapan air sungai kurang lebih 70 unit. Selain itu, luapan sungai juga merendam satu Masjid dan satu bangunan sekolah. Selain Dampala, luapan sungai juga merendam beberapa rumah warga beserta kantor Desa Lele yang lokasinya bersebelahan dengan Desa Lele.

Terjadinya bencana banjir selama dua tahun berturut-turut ini, menimbulkan pertanyaan. Diduga, penyebab meluapnya sungai Dampala ini dikarenakan adanya aktivitas pertambangan di hulu sungai. Pasalnya setiap kali terjadi hujan lebat, warna air sungai tersebut langsung berubah menjadi warna cokelat kemerahan. Ditambah lagi ketika volume air sungai meningkat karena hujan lebat terus mengguyur, berbagai jenis batang kayu hanyut dari bagian atas sungai.

Menanggapi terjadinya bencana banjir yang melanda Desa Dampala selama dua tahun beruntun ini, Wasekjen DPP Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Wazir Muhaemin menyatakan bahwa pihak Kepolisian harus melakukan investigasi untuk mengungkap penyebab meluapnya sungai Dampala hingga merendam pemukiman penduduk ini.

“Atas kejadian ini, semoga pelaku penambangan yang arogan dan semena-mena dalam melakukan aktivitas tampa mengindahkan SOP penambangan bisa segera diproses secara hukum yang berlaku,”tegas pria yang akrab disapa Wazir saat dikonfirmasi Kamis kemarin.

- Periklanan -

Diketahui pasca banjir bandang 8 Juni 2019 silam yang melanda tiga Desa di Kecamatan Bahodopi termasuk Desa Dampala, kelompok masyarakat yang terdampak langsung melakukan investigasi untuk mencari tahu penyebab terjadinya banjir bandang. Dari hasil investigasi itu, ditemukan titik lokasi pertambangan tepatnya di blok 8 PT Bintang Delapan Mineral (BDM) yang diduga kuat penyebab utama tiga Desa direndam air banjir.

Dugaan itu diperkuat dengan adanya aktivitas pertambangan pengambilan material Ore, yang disertai dengan adanya aktivitas pembalakan kayu yang juga diduga kuat berlangsung secara ilegal.

“Jadi berdasarkan hasil investigasi tersebut, besar kemungkinan penyebab kembali meluapnya air sungai Dampala ini dikarenakan sudah gundulnya gunung. Itulah yang menjadikan debit air yg mengalir dari gunung bertambah banyak, hingga aliran air di sungai tidak dapat menampung debit air yang banyak tersebut. Penyebab gundulnya gunung tersebut, tentunya dikarenakan pelaku penambang belum melakukan penghijauan diareal pertambangannya hingga hari ini (kemarin,red),”ungkapnya.

Sementara itu terkait luapan sungai tersebut, salah satu warga yang terdampak banjir bernama Asrar berharap agar kondisi cuaca ekstrim ini bisa segera berakhir.

“Masyarakat yang terdampak harus bisa lebih bersabar tinggal dipengungsian, sekalipun kondisi yang serba terbatas sampai situasi sudah benar-benar aman sesuai hasil analisa Pemerintah. Pasalnya sampai hari ini (kemarin,red), kita masih trauma dengan kejadian tahun lalu,”jelas Asrar saat dikonfirmasi Kamis malam kemarin.

Dengan kondisi yang terjadi saat ini, Asrar selaku ketua Aliansi Masyarakat Menggugat (Armet) Kabupaten Morowali menitip harapan kepada Pemkab Morowali agar melakukan analisa yang benar-benar akurat sebelum memutuskan atau menyampaikan bahwa situasi di lapangan telah aman dari banjir.

“Adapun soal kritikan saya pribadi sadar melihat cuaca yang sangat buruk ini, menjadi salah satu potensi terjadinya banjir sekalipun mungkin ada fakta-fakta lain yang terjadi di lapangan. Saya melihat beberapa statemen yang dilayangkan kawan-kawan aktifis atau pemerhati lingkungan sudah cukup mewakili kondisi Desa Dampala dan Lele serta di sekitarnya. Saya pribadi selaku warga yang terdampak sangat mengapresiasi teman-teman Basarnas, TNI, Kepolisian, Satpol PP serta awak media dan pekumpulan motor trail (relawan,red) yang belum sempat kami sebutkan namanya yang telah langusung terjun kelokasi membantu evakuasi dan memberi rasa aman dan perlindungan secara psikologis kepada masyarakat yang sedang menghadapi bencana banjir,”tutupnya.(fcb)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.