Banjir Bandang Diakui yang Terparah

500 Unit Rumah di Desa Bangga Rusak

- Periklanan -

SIGI – Desa Bangga, Kecamatan Dolo Selatan, Sigi, menjadi desa terparah disusul desa Balongga, Pulu, Wisolo dan Sambo yang rusak akibat dilanda banjir bandang pada Minggu (28/4) malam. Dari data kecamatan ada sekitar 500 unit rumah warga desa Bangga tersebar di Dusun I, II dan III yang rusak berat serta tertimbun pasir hingga yang hanya terlihat bagian atapnya saja. Menurut warga, air memang sudah terlihat dari sore hari, tetapi masih kecil dan bercabang. Sesudah magrib air besar yang membawa akar dan batang pohon pun datang dengan cepat.

“Kami hampir 100 orang berada di satu atap rumah, sekitar 6 sampai 8 jam di atas atap, ketika air sudah tidak ada kami merangkak ke tempat yang aman,” kata Narvin, salah seorang warga desa.

Camat Dolo Selatan, Jalil SP menjelaskan,
sekitar jam 4 sore air sudah mulai terlihat dan belum terlalu parah, masih saling berganti arah. Tetapi begitu sekitar jam 7 sudah datang air yang luar biasa. Kata dia, sebagian warga ada juga memang sudah ada dalam posisi mengungsi di tenda sebelah barat desa Bangga. Sebagiannya lagi saat banjir datang yang tidak sempat lari, memilih naik ke loteng rumah.

“Tadi pagi ada dua anak kecil berusia 4 tahun yang kita keluarkan dari loteng dengan lansia,” kata Jalil.
Warga desa kata Jalil banyak yang mengalami trauma. Dari data yang berhasil dia kumpulkan sekitar 500 unit rumah rusak parah karena tertimbun lumpur. Meskipun banjir juga sampai di desa tetangga yaitu Walatana, tetapi hanya berdampak pada beberapa rumah saja.

“Lahan pertanian di Bangga itu terdampak 300 hektar, sampai lahan pertanian di Walatana,” sebutnya.

Menurutnya, pemerintah daerah akan mengevakuasi dulu masyarakat di desa Bangga ke Walatana. Didirikan tenda dan dapur umur khususnya bagi ibu-ibu dan perempuan. biarlah laki laki yang mengevakuasi barang yang masih diselamatkan.
Senin pagi, Jalil mengakui masih mengirim makanan sekedarnya saja karena banyak masyarakat yang mengeluh kelaparan dan kehausan yang tentunya belum cukup.

“Untuk alat berat ada dari Dinas PU yang akan dikerahkan, apalagi Bupati Sigi dari semalam kejadian sudah berada di lokasi,” jelasnya.

Disinggung soal dugaan penebangan liar, kata Jalil dia memaklumi kejadian penebangan tetapi itu sudah terjadi 30 tahun yang silam. Banjir ini juga kata dia dipicu setelah pascagempa wilayah Dolo Selatan gunung-gunungnya semua runtuh dan terbentuk kubangan – kubangan air.

“Setelah curah hujan tinggi jadi kubangan itu mungkin sudah tidak bisa lagi menahan, jadi jebol,” tuturnya.

Saat ini kata dia, warganya membutuhkan pakain bekas, karena rata-rata tidak ada yang bisa diselamatkan, kemudian makanan, logistik dan obat obatan serta tenda.
Untuk korban jiwa kata Jalil tidak ada, hanya ternak warga mungkin ada yang hilang karena hanyut tadi malam, dan kendaraan banyak yang tertimbun.

“Ada mobil pick up memuat beras dua ton yang terjebak semalam sempat ditarik dengan gerobak, tapi terlambat air datang dan hanyut sampai ke kebun masyarakat karena terbawa arus,” sebutnya.

- Periklanan -

Jalil juga sangat menyayangkan ada penjarahan di rumah-rumah warga terdampak banjir. Dia mengakui ada beberapa orang warga melaporkan kehilangan kilometer listrik saat terjadi banjir di malam hari.

“Mungkin sudah ada 10 orang yang melapor. Kami akan berkoordinasi dengan pihak aparat untuk berjaga karena banyak warga pasti tidak berada di rumahnya,” jelasnya.

Sementara itu, Bupati Sigi, Irwan Lapata yang turum ke lokasi mengungkapkan, kalau berbicara kewenangan adalah kewenangan pusat dalam hal ini Balai Wilayah Sungai tetapi sebagai pemerintah daerah dia juga harus bertanggung jawab dan mengkoordinasikan dengan beberapa instansi seperti Balai Wilayah Sungai, PUPR pusat dan PUPR Provinsi. Menurutnya sebelum dilanda banjir yang besar dari sebelum-sebelumnya ini telah dibuat rencana detail desa Bangga dalam hal berkerjasama dengan kawan kawan JICA yang membantu menyusun desaiannya.

“Ini rencana baru ingin diperbaiki semua, tetapi sudah keburu hujan lagi dan akhirnya terjadi lagi,” kata Irwan Lapata.

Solusi yang pertama kata Bupati akan membuat dapur umum di Walatana dan Bangga, yang kedua masyarakat disini harus direlokasi untuk sementara ke Bangga ujung atau Walatana. Koordinasi juga dia lakukan dengan Dandim Donggala dan Kapolres Sigi yang direncanakan akan membuat camp di sekitar lokasi.
Dia mengakui kalau penanganan sementara Pemda sangat terbatas sekali untuk alat berat, tetapi dia sudah berkoordinasi dengan Badan Bencana dan PUPR Provinsi semoga bisa cepat penanganannya.

“Kami punya alat itu ada empat satu di Uwenuni, Pulu, Bangga, dan Salua. Hari ini (kemarin, red) juga di Salua dan Gumbasa putus jalannya, jadi saya berharap dari pemerintah pusat dan provinsi bisa membantu, karena kalau anggaran Pemkab ini tidak akan cukup dan bisa secepatnya dilaksanakan perbaikannya,” jelasnya.

Banjir ini kata Bupati, salah satu pemicunya adalah sungai yang di Kecamatan Dolo Selatan ini memiliki kerawanan kalau sudah diguyur hujan dengan intensitas tinggi. Namun disi lain juga Bupati mengimbau kepada masyarakat mungkin karena banyaknya pohon-pohon bekas, sehingga penebangan liar dapat dihentikan. Di programnya menurut Bupati itu setiap desa ada penanaman 5000 pohon, tetapi dia akui belum mencakup semua desa terlaksana.
Olehnya itu, kepada masyarakat dia minta bersabar karena mungkin ini cobaan yang diberikan Allah dengan cuaca yang ekstrem.
“Bukan hanya Sigi, tetapi semua daerah seperti di Jawa dan daerah lain di Sulawesi,” sebutnya.
Dia menambahkan, programnya Sigi hijau itu pertama untuk menjaga kawasan-kawasan hutan dari penebangan-penebangan liar. Kemudian pembangunan sekolah itu tidak lagi menggunakan kayu tapi dari rangka baja saja, sehingga tidak lagi menebang pohon.

“Saya tidak menuduh, yah mungkin masih ada juga orang yang jualan kayu di pinggir jalan berarti itu kayu dari mana, tidak mungkin dari Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan, tetapi paling dari sekitar sini. Memang saya tahu disitu ada mata pencarian, tapi kalau menebang pohon saya pikir jangan,” tegas Bupati.

Bupati mengaku tidak menuduh, tetapi dia menduga karena buktinya ada batangan- batangan pohon baik akar maupun yang sudah terpotong-potong, sehingga membuat banyak yang bertanya-tanya ada apa disana.

“Mungkin juga tergerus ketika bencana gempa saat tanah bergerak hujan datang sehingga terhempas oleh air,” ujarnya.

Dia meminta baik camat maupun Kepala Desa melaporkan berapa saja rumah yang rusak agar ada tindakan selanjutnya seperti perbaikan.

“Sejak tadi malam melalui camat dan kepala desa semua laporan sudah masuk tetapi saya belum mengecek langsung, tetapi data itu sudah ada, rumah rusak berat dan tertimbun harus dibuat tindakan, karena terkait dengan bencana pasti ada perbaikan- perbaikan,” tutup bupati. (acm)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.