Bandar Sabu Keluar Sarang, BNNP Sulteng Sergap

- Periklanan -

PALU – Menindaklanjuti hasil tangkapan anggota TNI dari Yonif 711 Raksatama, Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) yang melakukan penyidikan terkait kasus ini, akhirnya hanya bisa menetapkan dua orang sebagai tersangka.

Kepala BNNP Sulteng, Andjar Dewanto (kiri) bersama Danyonif 711 Raksatama, Fanny Pantouw memperlihatkan sejumlah sabu-sabu yang telah terbungkus usai diperiksa di BPOM Palu. (Foto: Agung Sumandjaya)

Sementara Sembilan orang lainnya, tidak bisa dilanjutkan ke ranah pidana karena tidak memenuhi unsur, seperti adanya barang bukti sabu-sabu.

Kepala Bandan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sulteng, Brigjen Pol Andjar Dewanto mengungkapkan, bahwa yang memang memenuhi unsur hanya ada dua tersangka. Yakni Irfan alias Ate serta Ahmad alias Cuplis, yang menyimpan kurang lebih 7,10 gram narkotika jenis sabu-sabu. “Ada sembilan orang lainnya yang diamankan anggota Batalyon saat penggerebekan di wilayah Tatanga, namun tidak ada yang ditemukan barang bukti sabu dari mereka,” kata Andjar yang didampingi Komandan Batalyon Infanteri (Yonif) 711 Raksatama, Letkol Inf Fanny Pantouw, saat memberikan keterangan pers, Rabu (9/5) kemarin.

Memang diakui Kepala BNNP, dari kedelapan orang yang tidak ditetapkan tersangka itu, positif menggunakan sabu-sabu. Tapi dari hasil assessmen yang dilakukan, kedelapan orang yang masih terbilang berusia produktif tersebut, diarahkan untuk menjalani rehabilitasi. Sedangkan satu orang lainnya dikembalikan kepada keluarga, karena dari hasil pemeriksaan, dinyatakan mengalami gangguan jiwa. “Untuk Irfan alias Ate dan Ahmad alias Cuplis kami jerat dengan pasal 112 ayat (2), pasal 114 ayat (2) junto Pasal 132 ayat (1) dengan ancaman pidana penjara maksimal 20 Tahun,” tegas Andjar.

- Periklanan -

Penangkapan ini sendiri dilakukan anggota Yonif 711 Raksatama pada Sabtu 28 April yang lalu, sekitar pukul 22.00 wita. Sebelumnya, penyelidikan dilakukan anggota Yonif ke wilayah Tatanga, yang berada tidak jauh dari markas Yonif 711, untuk mengetahui adakah anggota Yonif 711 Raksatama yang terlibat di tempat itu. Saat penyelidikan itu lah, tepatnya di Jalan Jati, Lorong Siranindi, Kelurahan Tavanjuka, petugas melihat adanya pesta sabu-sabu. “Kami sangat mengapresiasi apa yang telah dilakukan Yonif 711 ini untuk membantu memberantas penyalahgunaan narkotika di wilayahnya,” sebut Kepala BNNP.

Bahkan kata jenderal bintang satu ini, adanya penggerebekan yang dilakukan Yonif 711 Raksatama ini, membuat sejumlah bandar sabu di dalam wilayah Tatanga keluar sarang. Hasilnya, di waktu yang hampir bersamaan, tepatnya di Jalan Puebongo, petugas BNNP Sulteng mendapat informasi adanya aktifitas penyalahgunaan narkotika. “Di tempat itu ternyata sedang kumpul Bandar Narkoba atas nama Herianto alias Heri bersama tiga orang anak buahnya yang keseluruhannya wanita,” terang Andjar.

Herianto merupakan Bandar yang juga kerap beraktifitas di dalam wilayah Tatanga. Dia dibantu tiga orang wanita, masing-masing Sri Rahayu yang berperan sebagai bagian pencatatan bisnis haram ini, mulai dari keluar-masuk stok sabu hingga pada pencatatan keuntungan hasil penjualan. Sedangkan dua orang lainnya, yakni Dewi Sartika serta Aminah berperan sebagai sales atau pengedar dengan paket-paket kecil. “Mereka ini semua pemain di dalam Tatanga, karena takut ada penggerebekan dari BNN makanya mereka keluar dari Tatanga, di situ lah kami berhasil amankan,” tandasnya.

Sementara itu, Danyonif 711 Raksatama, Fanny Pantouw mengungkapkan, jika penggerebekan yang dilakukan pihaknya di wilayah Tatanga, merupakan spontanitas atas laporan masyarakat yang menyebut bahwa tidak jauh dari markas Yonif 711 sering transaksi Narkoba. “Kami juga ingin mencegah dan memastikan ada tidak anggota 711 yang terlibat. Makanya saat kami lakukan penyelidikan dan lihat langsung aktifitas tersebut, kami langsung amankan dan serahkan ke BNNP,” ujar Danyonif.

Saat penggerebekan sendiri, awalnya anggotanya turun dengan menggunakan pakaian preman. Setelah dipastikan bahwa ada aktifitas terlarang, maka pihaknya turun dengan kekuatan 45 personel. Meski ada perlawanan, pihaknya tetap membawa 11 orang warga di tempat itu ke Markas Yonif. “Apa yang kami lakukan ini, semata-mata untuk mencegah agar yang terjadi di wilayah berjarak 2 kilometer dari markas kami, tidak berpengaruh ke lingkungan kami (Yonif 711),” tandas Fanny, sembari mengungkapkan hingga saat ini belum ada anggotanya yang terindikasi terlibat. (agg)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.