Bandar Kendalikan Narkoba dari Lapas Palu

- Periklanan -

Ilustrasi (@Iwank Daenk)

PALU – Peredaran narkotika jenis sabu sabu banyak yang dikendalikan dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) besar Indonesia. Ternyata Lapas Klas II A Kota Palu juga menjadi “surga” peredaran narkoba yang dikendalikan sejumlah nama.

Hal itu terungkap dari pengakuan terdakwa di sidang perkara narkotika di Pengadilan Negeri (PN) Klas IA Palu.

Seperti perkara narkotika dengan terdakwa Aprin Kristiawan yang berlangsung, Rabu (13/9). Hari itu sidang terdakwa narkotika tangkapan Tim BNNP Sulteng  beberapa waktu lalu itu, agendanya pemeriksaan saksi dari Jaksa Penuntut Umum (JPU). Sidangnya dipimpin I Made Sukanada SH MH sebagai Ketua Majelis Hakim. Tiga saksi dihadirkan JPU adalah tim BNNP Sulteng yang pernah menangkap terdakwa, saat beraksi di Jalan Towua Kota Palu.

Terungkap dari ketiga saksi bahwa terdakwa Aprin adalah pelaku yang dikendalikan Aswan salah satu warga binaan Lapas Klas IIA Palu yang kini sementara menjalani hukuman. “Kita ketahui terdakwa Aprin dikendalikan oleh Aswan setelah penangkapan, dan itu dari pengakuan terdakwa yang mulia,” kata saksi tim BNNP Sulteng kepada Majelis Hakim. Saat penangkapan tim berhasil mendapati barang bukti sabu dengan jumlah sekitar berat 50 gram. Serta mengamankan Handphone berisikan SMS terkait rangkaian tindak pidana narkotika antara terdakwa dan Aswan “Terdakwa mengaku dikendalikan oleh Aswan yang mulia dari dalam Lapas,” ungkap saksi lagi yang mengaku melakukan penangkapan terdakwa.

Aswan yang mengendalikan terdakwa diketahui sedang menjalani hukuman di Lapas Klas IIA Palu. Keterangan saksi tidak dibantah, bahkan terdakwa mengakui dikendalikan Aswan via SMS atau via telepon saat akan melakukan tindak pidana narkotika. “Ia yang mulia dia yang (Aswan, red) kendalikan lewat SMS, juga biasa lewat telepon,” kata terdakwa Arpin saat diminta oleh Majelis Hakim menyanggahi keterangan para saksi.

Terungkap dipersidangan rangkaian tindakan yang dilakukan terdakwa semua karena perintah Aswan. Mulai dari mengambil narkotika  di beberapa titik di Kota Palu khususnya di wilayah Jalan I Gusti Ngurah Rai dan Towua, kemudian mengedarkan. Tempat atau titik barang haram tersebut disimpan diberitahu kepada terdakwa karena arahan dan petunjuk dari Aswan.

Terdakwa sempat berbelit belit di dalam persidangan, termasuk mengelak sebagian bukti SMS di handphone miliknya yang telah disita sebagai barang bukti. “Jujur saja, kita juga tidak mungkin mau menghukum orang yang tidak bersalah. Di persidangan ini fakta yang akan kita ungkap. Terdakwa sebelumnya kan sudah pernah saya sidangkan untuk kasus yang sama,” tutur I Made Sukanada menyikapi alasan dan pengelakan terdakwa dipersidangan.

Soal Aswan, ternyata saksi dari Tim BNNP Sulteng mengaku telah melakukan pengembangan hingga ke Lapas Klas IIA Palu. Hanya upaya yang dilakukan tim tidak sampai berhasil bertemu Aswan. “Karena kita terbentur sistem keamanan di Lapas  akhirnya upaya untuk bertemu Aswan tertunda sebulan. Saat akan ditemui, Aswan dikabarkan sakit,” kata saksi dari tim BNNP Sulteng.

Karena itulah asal muasal barang tersebut tidak diketahui oleh tim, selain hanya perbuatan terdakwa dalam melancarkan aksinya karena kendali atas nama Aswan.

- Periklanan -

Sebelumnya pernah diberitakan Radar Sulteng di PN Klas IA/PHI/Tipikor Palu, pernah disidangkan terdakwa atas nama Aswan mantan anggota Polri yang terjerat narkotika dengan barang bukti hampir mencapai dua kilogram. Aswan saat itu diadili dan telah dihukum 15 tahun penjara, kini telah berada di Lapas Palu. Dari data yang dihimpun Radar Sulteng kasus narkotika yang dikendalikan dari Lapas Klas IIA Palu, tidak hanya terjadi kali ini. Narapidana kasus narkotika yang sedang menjalani hukuman di LP tersebut beberapa di antaranya kembali terjerat kasus yang sama dan kembali diadili di PN Klas IIA Palu.

Yang terbaru adalah terdakwa Yahya Ang alias Ko Ade. Selasa (12/9) baru-baru ini terdakwa menjalani sidang tuntutan dan dituntut pidana 14 tahun dan 10 bulan penjara. Yahya Ang alias Ko Ade adalah terpidana kasus narkotika yang sementara menjalani hukuman di LP Palu. Sebelumnya dia dihukum pidana 7 tahun penjara. Terdakwa sekaligus terpidana ini, adalah orang yang mengendalikan terpidana Ko Adi dan terpidana Abdillah alias Opo dari dalam LP. Karena kendalinya terpidana Ko Adi dan Opo yang telah dihukum diatas 10 tahun penjara itu mudah melancarkan aksinya, hingga akhirnya tertangkap oleh tim BNNP Sulteng di Jalan Patimura Kota Palu April Lalu.

Pengembangan dari Ko Adi dan Opo kemudian diketahui kalau peredaran narkotika yang dilakukan keduanya dikendalikan oleh terdakwa atau terpidana Yahya Ang alias Ko Ade.

Dari situ tim BNNP Sulteng menjerat kembali terpidana Ko Ade. Selain Ko Ade, perkara narkotika seberat 4 kilogram lebih yang terjadi di salah satu hotel di Kota Palu. Perkara ini menjerat terdakwa Ilham alias Illang dan salah satu anggota polri nonaktif yakni terdakwa Syamsul Rizal alias Ijal. Sidang perkara kedua terdakwa ini masih berproses di pengadilan.

Fakta yang terungkap dalam perkara ini, bahwa terdakwa Syamsul Rizal alias Rijal yang tertangkap setelah mengambil sabu di salah satu kamar hotel di Kota Palu itu, setelah mendapat perintah dari seseorang atas nama H Topan.

Diketahui seseorang yang bernama H Topan tersebut saat ini juga sedang berada di Lapas Klas IIA dan sementara menjalani pidana. Tim yang menangkap kedua terdakwa telah melakukan interogasi kepada H Topan, hasilnya H Topan mengaku tidak tahu soal perkara yang menjerat Ilham dan Syamsul Rijal.

Ada juga terpidana LP yang pernah kembali diadili dipersidangan yakni Zaki Alias Jaki. Terpidana ini kembali terjerat perkara dugaan narkotika bersama terpidana Warga Negara Asing (WNA) asal Malaysia yakni Alimuddin Bin Moh Ajay alias Abang . Zaki alias Jaki lah yang mengendalikan WNA tersebut bersama satu terpidana lagi yakni Kautsar.

Terpidana Zaki alias Jaki kala itu sementara menjalani pidana 5 tahun atas kasus yang sama, Kembali terjerat bersama WNA asal Malaysia itu dia kembali mendapatkan tambahan hukuman 12 tahun penjara. Sementara WNA asal Malaysia tersebut 11 tahun Penjara, dan terpidana Kautsar 8 tahun penjara.

Terakhir data yang dihimpun Radar Sulteng adalah Abdul Rahim alias Aim, terpidana dua kasus sekaligus yakni, kasus narkotika dan korupsi penyalahgunaan hasil pengelolaan Wisma Donggala.

Ketika sementara menjalani proses sidang korupsi, Abdul Rahim yang lebih dulu berstatus terpidana narkotika, dihadirkan sebagai saksi untuk perkara narkotika dengan tiga terdakwa Munardi, Omy Fitriandi dan Abdul Aziz. Fakta persidangan, menurut para terdakwa bahwa keterlibatan Abdul Rahim alias Aim adalah orang yang diduga mengendalikan transaksi narkotika yang menjerat ketiganya. (cdy)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.