Balai Disabilitas Nipotowe Palu, Gunakan Layanan Art Therapy

- Periklanan -

Wujudkan Disabilitas Intelektual Mandiri Financial

PALU – Memiliki anak disabilitas tentunya memerlukan pemahaman yang benar dalam memberikan pengasuhan yang tepat sesuai dengan kebutuhan mereka. Art Therapy merupakan salah satu contoh therapy yang dapat dilakukan untuk mengenal kompetensi anak disabilitas melalui metode sensasi. 

Balai Disabilitas  “Nipotowe” di Palu bekerjasama dengan Art Therapy Center Widyathama Bandung, melaksanakan Workshop Art Therapy  pada Sabtu, (23/01) di salah satu hotel di Palu. 

Peserta yang mengikuti kegiatan merupakan petugas pelaksana pelayanan langsung terhadap penyandang disabilitas, sejulah 36 orang peserta, yang terdiri dari pegawai BRSPDI Nipotowe di Palu, dan juga perwakilan dari LKS penyandang disabilitas yang ada sekitar Kota Palu dan Sigi. 

“Kita ingin memberikan pelayanan terbaik terhadap penyandang disabilitas melalui kegiatan Art Therapy, ” Kata Syaiful selaku Kepala Balai Nipotowe saat pembukaan kegiatan workshop Art Therapi,” dalam rilisnya kepada Radar Sulteng, kemarin.  

“Kegiatan Art Therapi ini nantinya dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan kompetensi penyandang disabilitas intelektual melalui program Atensi Sosial sehingga diharapkan dapat menghasilkan nilai jual ke depan dan mereka bisa mandiri secara finansial,” Ujar Syaiful Samad menambahkan. 

Anne Nurfarina, selaku narasumber kegiatan dari Art Therapy Center Widyatama, yang juga merupakan lulusan S1-S3 Fakultas Seni Rupa dan desain ITB menyatakan bahwa Art therapy dapat diterapkan oleh siapapun sebagai metode dalam merangsang kemampuan penyandang disabilitas. 

“Art therapy murah dan mudah dilaksanakan oleh siapa saja terutama orang tua, serta dampak perkembangannya cepat diketahui,” ujar Anne Nurfarina. 

- Periklanan -

“Art Therapy memiliki tujuan dan fungsi untuk memperbaiki kondisi-kondisi psikologis tertentu. Art Therapy digunakan untuk membangun Behaviour dan Skill disabilitas intelektual,” tambah Anne Nurfarina. 

Agar layanan therapy dapat berhasil dilakukan, maka yang pertama diberikan adalah pemahaman orang tua terhadap anak disabilitas intelektual. 
“Orang tua dapat  membangun pemahaman anak disabilitas intelektual melalui art therapy, dimulai dari pemahaman terhadap diri sendiri, keluarga Inti (Ibu, ayah, kakak, adik), Ruang lingkup dimana anak tinggal, dan masyarakat lebih luas,” ungkap Anne.

Lebih lanjut, Anne menjelaskan bahwa sebelum melaksanakan layanan therapy, ada 3 hal yang perlu diketahui. Pertama, Pra therapy yaitu mengindentifikasi  kondisi anak disabilitas, mengetahui karakter orang tua (latar belakang), dan basic knowledge yang diketahui oleh anak. 
Kedua, Proses Therapy yaitu membentuk Behavior dan Skill yang akan berdampak pada social behaviour anak. Ketiga, pasca therapy yaitu Kemampuan insdustrial behaviour sehingga nantinya dapat mandiri secara finansial. 

“Untuk melaksanakan Art Therapy, kita menggunakan Metode sensasi yaitu Uncondition Stimulus dan condition stimulus,” Ungkap Anne. 

“Anak disabilitas intelektual pada kenyataannya sering mengalami uncondition stimulus (stimulus yang tidak dikondisikan) sehingga sering dibiarkan tanpa tujuan,” Kata Anne. 

“Yang perlu dilakukan adalah identifikasi subjek (Audio atau visual), berikan stimulus natural sesuai dengan hasil identifikasi, dan lakukan stimulus bentukan (visual/audio),” tambah Anne.

Pada kesempatan yang sama, Indra Surya yang berpengalaman dalam design grafis menyatakan bahwa untuk melaksanakan Art Therapy, contohnya mengajarkan anak  menggambar, maka mulai lah dari hal yang sederhana, yang dapat dipahami anak. 

“Biarkan anak menggambar secara natural. Gambar digunakan sebagai media terapi, tetapi dapat berpotensi menjadikan anak mandiri secara finansial,” jelas Indra Surya.

“Setelah anak menggambar, maka tugas selanjutnya adalah orang tua dan pendamping berperan membantu agar hasil gambar anak disabilitas menjadi nilai jual, sehingga mereka dapat mandiri secara finansial,” ungkapnya.

Kegiatan Art Therapy ini selanjutnya akan diterapkan oleh Balai Nipotowe di Palu melalui layanan Day Care terhadap penyandang disabilitas intelektual.

“Kita akan membuka layanan Day Care, sehingga orang tua yang memiliki disabilitas intelektual terutama yang ada di sekitar Kota Palu, Sigi, Donggala dan Parimo dapat mengakses layanan yang diperlukan melalui Atensi Sosial, contoh kegiatanya melalui Art Therapy,” jelas Syaiful, sebagaimana disampaikan oleh Humas Balai Nipotowe di Palu kepada Radar Sulteng. (*/lib)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.