Baby Sitter Qool_it Tewas, DPRD Sulteng dan Polda Didemo

- Periklanan -

Salah seorang massa aksi membawa selembar karton yang bertuliskan desakan untuk pengungkapan meninggalnya seorang baby sitter di tempat pencucian mobil Qool It di Jalan S.Parman Palu. (Foto: Wahono)

PALU – Massa yang mengatasnamakan Koalisi Rakyat Anti Korupsi (KRAK) Provinsi Sulteng, Selasa (18/4), menggelar aksi damai dengan delapan poin tuntutan di Kota Palu.

Tujuh poin tuntutan mereka menyangkut dugaan korupsi yang ada di wilayah Sulteng. Sementara satu poin tuntutan lagi meminta kepada Kapolda Sulteng Brigjen Pol Rudy Sufahriadi untuk memerintahkan jajarannya agar mengusut ihwal tewasnya perempuan bernama Korlina Kubu di lantai 4 pencucian mobil Qool It di Jalan S.Parman pada 7 Desember 2016. Sampai saat ini belum ada kepastian hukumnya, karena masih mengendap di meja penyidik Polres Palu.

Desakan tersebut bukan kali pertama disuarakan oleh publik. Sebelum-sebelumnya sejumlah pihak telah mempertanyakan kasus ini, yang pengungkapannya terkesan tak diseriusi polisi. Padahal kasus ini pidana murni, bukan bersifat delik aduan.

Selasa kemarin, gaung desakan itu kembali terdengar. Para pendemo dari KRAK Sulteng, meminta supaya kasus kematian baby sitter di lantai 4 tempat cuci mobil Qool It diungkap motifnya. Apakah benar korban bunuh diri dengan cara yang ganjil seperti data kepolisian di lokasi kejadian, atau meninggal secara tidak wajar. Massa KRAK juga mengungkapkan, ada dugaan keterkaitan kasus ini dengan anggota legislatif DPRD Sulteng yang mencoba memback up kasusnya sehingga tidak diproses hukum. “Ada oknum yang coba memanfaatkan kasus ini,”seru beberapa orator aksi.

- Periklanan -

Dalam aksi damainya kemarin, massa KRAK yang berjumlah belasan orang, berorasi di depan kantor DPRD Sulteng Jalan Sam Ratulangi. Setelah itu mereka masuk ke dalam kantor perwakilan rakyat tersebut. Di hadapan wakil rakyat, massa aksi berharap agar kasus Qool It tetap diusut dan jangan ada yang “diamankan atau di 86”.

“Mesti diungkap sampai jelas duduk masalah kasusnya. Polisi mesti segera menjelaskan ke publik, kenapa sampai sekarang tidak jelas kasusnya. Justru sengaja ditutup-tutupi,” ungkap Arsomo, selaku Korlap KRAK. Saat di kantor DPRD Sulteng, massa aksi diterima oleh anggota Komisi III, Zainal Abidin Ishak dan Sony Tandra.

Selanjutnya masa aksi bergerak ke Kantor Polda Sulteng yang juga berada di Jalan Sam Ratulangi. Massa meminta Polda agar kematian baby sitter di Qool It diteruskan kasusnya. Karena kematiannya diduga tak wajar dan bukan mengarah ke gantung diri. “Kami menduga itu dibunuh,” kata Arsomo saat berorasi di depan kantor Polda Sulteng.

Apalagi arah pemberitaan dan investigasi sejumlah media massa di Palu, yang mensinyalir ada yang tidak beres dengan proses penyelidikan kasus Qool It.“Ini penting sehingga masyarakat di Kota Palu tidak menduga-duga dan mengira-ngira motif kematian korban. Olehnya itu, aparat hukum harus transparan dengan kasus kematian baby sitter di Qool It ini,”tambah sang korlap. Mereka menyerahkan beberapa dokumen dan poin-poin tuntutan kepada pihak Polda yang diwakili oleh KSPKT Polda Sulteng, AKBP Sakka.

Kepada massa aksi, AKBP Sakka berjanji akan meneruskan dokumen tersebut kepada orang nomor satu di Polda Sulteng. “Yang jelas, tuntutan kalian ini akan diteruskan kepada bapak Kapolda,” tuturnya di hadapan pendemo. (cr3)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.