alexametrics Ayo, Pakai Masker! – RADAR SULTENG
Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Ayo, Pakai Masker!

Oleh : Salihudin

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

BANYAK yang penasaran kapankah Covid-19 ini berakhir? Saya pun begitu. Dan sampai sekarang belum ada yang tahu. Pun ahlinya, ahli juga belum tau. Semua menanti kehidupan normal seperti dulu. Bukan new normal. Apalagi melihat trend data yang setiap hari diumumkan, jumlah positif masih selalu dalam jumlah 4 ribuan. Peningkatan data ini seiring dengan pertambahan jumlah test dan tracing yang dilakukan di seluruh Indonesia.

Para pejabat di Indonesia dulu sempat berbangga. Covid-19 ini tidak akan masuk ke Indonesia. Itu dulu. Saat banyak orang termasuk para pejabat banyak belum sadar dan ngeh. Tapi sekarang, semua sadar virus ini memang ada. Menjangkiti manusia jadi sakit dan akhirnya mati.

Tapi orang banyak tidak sepakat, apakah virus ini hasil dari alam. Jadi sendiri dan menular sendiri. Ataukah ini sengaja dibuat oleh sekelompok orang, hasil fabrikasi laboratorium entah dimana.

Penelitian memang masih terus berlangsung. Para ahli juga sangat penasaran. Mereka juga berdebat sendiri. Pertama kali dikatakan, sumber virus ini dari kota Wuhan. Tepatnya dari sebuah pasar binatang liar. Tertuduhlah kelelewar. Diyakini, kelelewar adalah sumber virus. Tapi berbagai bantahan kemudian muncul.

“Kelompok pertama infeksi dikaitkan dengan pasar – itu adalah bukti yang tidak kuat,” kata Prof. James Wood dari University of Cambridge seperti di kutip BBC London. Binatang seperti kelelewar hanya patogen, bukan asli sumber virus. Ini salah satu cluster yang menyakini virus ini sumbernya dari alam atau binatang.

Tapi kemudian banyak juga yang percaya virus penyebab Covid-19 ini hasil buatan laboratorium. Misalnya, Li-Meng Yan. Dia menuding virus tersebut dibuat di Laboratorium selama enam bulan berdasarkan riset yang dia lakukan bersama dengan dua orang temannya. Ini cluster lain. Cluster ini percaya teori konspirasi. Dibalik ini ada tujuan ekonomi dan bisnis dan bahkan politik.

Saya tidak mau masuk ke arah perdebatan itu. Dan memang itu tidak penting. Konsen saya dengan kenyataan bahwa virus penyebab Covid-19 ini memang benar-benar ada. Entah sumbernya dari alam atau sengaja dibuat di laboratorium. Konsen kita bagaimana pencegahan dan juga penyembuhan bisa lebih efektif. Agar tidak banyak orang mati dengan sia-sia termasuk para tenaga kesehatan.

Dalam satu point dari enam renungannya, Dr. Zainal Abidinsyah Siregar, mantan Ketua PB IDI mengatakan, sesungguhnya musuh kita bukan Covid-19 tetapi manusia itu sendiri. Sang virus Covid-19 “hanya cari tempat bertahan hidup” di paru-paru nya manusia. Jadi manusialah yang membawa dan menyebabkan perpindahan virus antar manusia. Terutama manusia atau kita yang bandel dan sombong serta tidak disiplin menjalankan protokol kesehatan.

Melihat kenyataan dilapangan, Dr. Zainal Abidin saya kira benar. Karena bila kita jalan-jalan di tempat umum, pasar, pusat belanja, kantor, rumah ibadah, dan seterusnya masih sangat banyak yang tidak mematuhi protokol kesehatan.

Inilah sekarang yang menjadi fokus pemerintah. Penerapan protokol kesehatan secara ketat musti dilakukan dengan menerapkan sanksi. Pengalaman selama ini, sudah banyak sekali imbauan. Namun masih sangat banyak yang tidak mematuhi. Dalam kondisi PSBB atau tidak. Mungkin karena sifatnya hanya mengimbau. Dijalankan boleh, tidak dilaksanakan juga tidak apa-apa. Hukumnya semacam sunnat, bukan wajib dalam hukum fikih. Maka saya mendukung bila pemerintah secara tegas menerapkan sanksi tegas berupa denda atau apalah, biar masyarakat patuh.

Lebih jauh bahkan pemerintah Sulawesi Tengah sangat memperketat pergerakan manusia dari daerah lain. Bila datang dari provinsi lain, harus ada hasil test swab/PCR. Bila hanya dari dan antar kabupaten cukup rapid test (dulu hanya cukup surat keterangan sehat yang bisa dibuat Puskesmas). Tidak ada surat tersebut jangan harap menginjakkan kaki di Sulawesi Tengah.

Tapi pengetatan ini musti juga diikuti dengan disiplin para petugas lapangan. Jangan mau disogok atau ditakut-takuti dengan apapun. Jangan ada ojek mencari jalan alternatif. Siapapun bila melewati portal harus punya kelengkapan dokumen yang disyaratkan. Integritas petugas di lapangan akan membantu pencegahan penyebaran Covid-19.

Bagi kita yang beraktivitas, kita patuhi saja protokol Covid-19. Pertama, pakai masker. Kedua, menjaga jarak. Ketiga, sering cuci tangan dengan sabun dan handsanitizer.

Imelda Liliana Muhidin -Arena Parampasi sebagai pasangan nomor 4 dalam Pilwalkot Palu menambahkan yang ke-4, makan makanan yang cukup dan bergizi dan olahraga yang teratur agar imun tubuh tetap terjaga.

*) Penulis adalah warga Kota Palu tinggal di Kelurahan Palupi.

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.