Asrama Haji Transit Palu Mangkrak

Proyek Beranggaran Rp 43,6 Miliar

- Periklanan -

PALU – Ketua umum Pengurus Besar Lingkar Studi-Aksi dan Demokrasi Indonesia (PB LS-ADI) Sulteng, Rully S Alim, memaparkan, lembaga yang dipimpinnya telah melakukan gerakan aksi damai untuk mengentaskan kasus korupsi di Indonesia, khususnya mangkraknya pembangunan Asrama Haji Transit Palu. “Mestinya kasus dugaan korupsi proyek Asrama Haji harus dituntaskan, “ tegas Rully S Alim, kepada Radar Sulteng, Kamis (11/4).
Karena menurutnya, sebelumnya proyek ini yang telah ditentukan jangka waktu pekerjaannya dari 27 Juni 2017-31 Desember 2017. Namun sampai dengan Januari tahun 2018 proyek beranggaran kurang lebih Rp 43,6 miliar, dengan Nomor Kontrak proyek B-3328/Kw.22.3/04/KU.02.2/06/2017, tanggal 22 Juni 2017 ini tidak dapat diselesaikan.
“Bahkan progress pekerjaannya hanya 25 persen di tahun 2018. Makanya kita melakukan gerakan agar supaya bagaimana semua instansi pemerintah itu bersih dari kasus-kasus terkait permufakatan jahat ini,” tegasnya.
Dikatakan Rully, LS ADI Sulteng sudah berkali-kali melakukan gerakan aksi damai ke lembaga-lembaga hukum seperti Kejati Sulteng, Polda Sulteng, dan lembaga legislatif DPRD Sulteng untuk menyampaikan aspirasi masyarakat Sulteng agar melakukan yang sama untuk menekan Kementerian Agama (Kemenag) Sulteng sebagai pelaksana proyek pembangunan Asrama Haji berlantai lima tersebut, agar mempercepat dan menuntaskannya.
“Tekanannya tentu saja pencegah perbuatan permufakatan jahat ini, “ sebutnya.
Tetapi Rully menyayangkan dalam aksi damai yang pernah disampaikan kepada institusi hukum dan anggota legislatif Sulteng, tidak merespon aspirasi damai itu. “Bahkan ketua umum kami saat itu Farianto Masuama diinterogasi sama kejaksaan (Kejari) saat itu, pada bulan Maret dan April 2018. Setelah itu kami mendapat kabar, semua berkas penanganan kasus dugaan korupsi telah dilimpahkan di Polda Sulteng. Karena itulah kami sering menuntut ke Polda sampai dengan akhir tahun 2018 pasca bencana,” ungkapnya.
Pihaknya juga menyesalkan sejauh ini belum ada satu pihakpun yang ditetapkan sebagai tersangka, padahal kasusnya sudah ditangani Polda Sulteng. “Makanya sampai dengan sekarang, kita mencoba kembali untuk menyuarakan lagi, setelah daerah kita ini mulai stabil pasca bencana,” tuturnya.
Pada saat aksi tahun yang lalu, saat Kanwil Kemenag Sulteng masih dipimpin Drs H Abdullah Latopada, pihaknya sempat menanyakan pencopotan dari Kakanwil yang kemudian dimutasi, tetapi Abdullah Latopada tidak mau dan mengajukan pensiun dini. Hingga Kanwil Sulteng dipimpin Dr H Rusman Langke MPd.
“Gerakan kita bukan untuk mengganti Abdullah Latopada semata. Kalau dia terindikasi dugaan kasus korupsi karena saat itu ditahun 2017 dia yang menjabat Kakanwil Kemenag Sulteng, maka yang kami inginkan adalah Abdullah Latopada harus diproses secara hukum. Bila terbukti, maka dia harus ditangkap, ditahan, dipenjarakan. Itu yang kita inginkan, “ tandasnya.
Bahkan, tambah Rully, sampai sekarang tidak ada tindak lanjut atau keterangan daripada kasus ini. Diketahuinya, proyek pembangunan Asrama Haji ini beranggaran Rp 43,6 miliar, yang diambil dari APBN yang dikerjakan oleh perusahaan PT Tirta Dhea Addonnics Pratama dengan Direkturnya Gunawan Setiawan dari Jakarta. Diduga kuat, Gunawan mendapatkan proyek ini dari orang-orang dekat dengan “penguasa” di Kemenag pusat.
“Gunawan Setiawan ini kita tahu siapa orangnya, dekat dengan siapa. Sehingga bagi kami ini jadi kasus yang amat berat diinvestigasi, karena kemampuan lembaga kami ini tidak punya pengaruh apa-apa. Menyuarakan berkali-kali pun belum tentu didengar, “ sergahnya.
Pasca terjadi Operasi Tangkap Tangan (OTT) jual beli jabatan di Kemenag Jawa Timur dan Kemenag pusat, isu soal dugaan korupsi di Asrama Haji Transit Palu merebak kembali.
“Kami jadi semangat mengangkat kembali kasus ini. Apalagi kami melihat dari dekat bangunan Asrama Haji Transit Palu ini tidak layak disebut bangunan yang kokoh. Kualitas bangunannya dipertanyakan. Kami lihat bangunannya tidak kuat, sebagaimana layaknya bangunan yang beranggaran wah Rp 43,6 miliar. Disana sini bangunannya banyak yang rusak terbelah-belah, hanya dibungkus fiber untuk mengelabui saja. Kualitas bangunan yang rendah ini, kami lihat sebelum gempa bumi terjadi di Kota Palu, ” ucapnya.
Dikonfirmasi, Kamis malam tadi, Kakanwil Kemenag Sulteng, Dr H Rusman Langke MPd, menyatakan yang pertama, selaku pimpinan merasa prihatin bila kasus ini benar adanya, terjadi tindak pidana korupsi. Kedua kata Rusman, Negara kita adalah negara hukum, yang menganut asas praduga tak bersalah. “Kita serahkan kepada penegak hukum kalau memang terindikasi ada tindak pidana korupsi di dalamnya,” ujarnya.
Ketiga lanjutnya, kalau ingin mendapatkan penjelasan lebih mendetail kami serahkan langsung kepada PPK dan KPA yang waktu itu menangani langsung proyek itu untuk menjelaskannya.

- Periklanan -

Hasil pantauan Radar Sulteng, kemarin (11/4), proses Pembangunan asrama haji transit Palu yang berada di Jalan WR Supratman sudah tidak tersentuh lagi beberapa bulan terakhir. Pihak kontraktor, PT Tirta Dhea Addonnics Pratama sudah tidak berada di lokasi pengerjaan lagi, begitu pun dengan pekerjanya. Tidak ada aktivitas yang tampak di lokasi. Kondisi bangunan juga terlihat rusak di beberapa sisi. Reruntuhan bangunan dari pantauan media ini, juga belum dibersihkan. Pembangunan yang memakan anggaran hampir Rp 44 miliar ini, berasal dari APBN tahun 2017. Namun hingga dua tahun berselang, pembangunannya belum selesai. 2018 lalu, sempat ada protes dari para pekerja yang gajinya tidak dibayarkan. Pasca kejadian itu, pekerjaan asrama haji yang sempat terhenti karena protes para pekerja kembali dilakukan.
“Pas gempa lalu itu semua sudah lari pekerjanya sampai sekarang tidak ada lagi dilanjut kerjanya,” kata salah satu pengelola Badan Pengelola Asrama Haji (BPAH) yang ditemui media ini, kemarin (11/4).
Kata dia, pekerjaan asrama haji ini memang sudah berlangsung cukup lama. Namun sambungnya, hingga kini belum bisa digunakan. Apalagi diakuinya, secara kasat mata, kondisi bangunan yang belum sempurna itu sudah ambruk di beberapa sisinya karena gempa September lalu.
“Kemenag langsung yang tangani itu. Cuma kalau pekerjanya memang sudah tidak ada yang datang sampai sekarang,” pungkasnya.
Bangunan asrama haji yang pembangunannya kembali mandek ini, di bagian pintu masuknya tampak tergembok. Keliling bangunan juga ditutupi seng pembatas sehingga tidak bisa dimasuki hingga ke dalam bangunan lokasi. (mch/saf)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.