APDP Desak PT. Poso Energy Hentikan Pengeboran Batuan Dasar Sungai Poso

- Periklanan -

POSO-Sekelompok warga yang tergabung dalam Aliansi Penjaga Danau Poso (APDP) memprotes kegiatan pengeboran batuan di sungai Poso oleh PT. Poso Energy, sebuah perusahaan yang mengelola Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).

Yombu Wuri, dari APDP, mengatakan kegiatan pengeboran dapat berdampak pada kelestarian cagar budaya Gua Pamona yang berada di pinggir sungai. Karenanya mereka mendesak aktifitas pengeboran tersebut dihentikan.

“Kami mengingatkan jangan lakukan itu, karena watu moali itu berhubungan dengan Gua Pamona,” ungkapnya, saat melakukan aksi protes. Watu Moali dalam bahasa setempat berarti batu berukuran lebar dan besar menyerupai tikar yang terbentang di dasar sungai Poso. “Kami melihat kegiatan (perusahaan) ini semakin menakutkan, semakin memprihatinkan, semakin mengerikan, kami melihat watu moali mulai dibor,” ujar pria sepuh 64 tahun ini.

Menurutnya watu moali merupakan atap dari bagian rongga Gua Pamona yang berada di bawah dasar sungai Poso.
Gua Pamona merupakan peninggalan dari tradisi penguburan gua masa lalu. Balai Pelestarian Cagar Budaya Gorontalo menyebutkan Gua Pamona merupakan gua alam yang terbentuk dari batuan karst (bukit kapur). Gua itu memiliki rongga yang besar serta memiliki stalaktit dan stalakmit sebagian besar masih aktif untuk membentuk pilar gua yang baru. Rongga gua memiliki panjang kurang lebih 100 meter dan rongga di dalamnya terbagi kurang lebih lima rongga yang membentuk menyerupai ruang kamar. Setiap rongga tersebut tidak tertutup kemungkinan masih memiliki sejumlah rongga lainnya yang tidak bisa dicapai disebabkan luasnya gua dan terbatasnya peralatan penelusuran gua serta penerangan di dalam gua.

Bukti dan sisa-sisa aktivitas penguburan di dalam gua pamona yang masih dapat ditemukan saat ini hanya berupa sebaran anatomi kerangka manusia, beberapa fragmen kayu yang diduga bagian wadah kubur, cangkang keras serta temuan manik-manik yang berasosiasi dengan beberapa bagian rangka dan gigi manusia.

Desakan penghentian penghancuran batu dasar sungai diarea gua Pamona
juga disampaikan Majelis Sinode Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST). Kepada wartawan, pendeta Jetroson Rense, mengatakan pihaknya telah melayangkan surat resmi kepada PT Poso Energy pada 16 Februari 2021 untuk meminta perusahaan menghentikan aktivitas pengeboran yang dapat mengancam kelestarian cagar budaya gua Pamona serta merusak lingkungan di sungai Poso.

Menurutnya, soosialisasi yang dilakukan pihak perusahaan di awal pengerjaan pengerukan sungai hanyalah melakukan pengerukan sedimen pasir dan lumpur demi lancarnya pergerakan air, bukan penghancuran batu-batu di dasar sungai.

- Periklanan -

“Berdasarkan hal tersebut, Majelis Sinode meminta kepada pimpinan PT. Poso Energy untuk menghentikan pemboran batu-batu di area Gua Pamona,” bilang Jetroson Rense.

Masih Jetroson, batu-batu di dasar danau/sungai area Gua Pamona patut diduga memiliki keterkaitan erat dengan batu-batu dinding Gua Pamona yang bila tidak diperhitungkan dengan baik akan mendatangkan dampak kerusakan yang besar terhadap situs cagar budaya.

Terpisah, Pejabat Pelaksana Harian (Plh) Bupati Poso, Yan Edward Guluda menjelaskan pemerintah kabupaten Poso melalui Dinas Lingkungan Hidup sedang melakukan peninjauan di lokasi untuk mencari tahu kebenaran adanya aktivitas pengeboran batu berdasarkan laporan yang diterima dari Majelis Sinode GKST.

“Saya sudah perintahkan kepada Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Poso untuk melakukan peninjauan di lokasi. Apabila itu benar dilakukan itu berarti terjadi kesalahan karena kesepakatan yang dilakukan Poso Energy bersama Pemerintah Daerah bahwa yang akan dikeluarkan dari dasar sungai itu hanya sedimen-sedimen yang membuat danau itu menjadi dangkal,” kata Yan.

Sementara itu, PT. Poso Energy yang dikonfirmasi mengatakan pihaknya telah mengirimkan surat balasan kepada GKST. Dalam surat per 17 Februari itu dijelaskan, dilakukan kegiatan pengeboran investigasi yang bertujuan untuk mengetahui ketebalan batuan outlet danau Poso. Data yang diperoleh bermanfaat sebagai data dasar perencanaan untuk pengembangan area dredging (pengerukan) sungai Poso.
Kegiatan pengeboran dilakukan selama dua minggu lima hari berturut-turut pada Sta 0+800 hingga Sta 0+900. Kegiatan itu disebut sudah melalui kajian teknis geologi.

“Dimana dalam pelaksanaan pengeboran softrock sungai seperti yang terlihat di sekitar Gua Pamona saat ini adalah bukan untuk kegiatan blasting (peledakan) seperti yang diberitakan di berbagai media,” jelas PT Poso Energy dalam surat yang ditandatangani Achmad Kalla, Direktur Utama perusahaan.

Direncanakan akan dilakukan pertemuan melibatkan berbagai pihak untuk menjadi ruang perusahaan itu menjelaskan secara rinci data teknis geologi dan pelaksanaan penataan sungai Poso di area sekitar gua Pamona yang menjadi kekhawatiran warga Tentena dan sekitarnya.

PT. Poso Energy sejak 2019 melakukan kegiatan penataan sungai Poso yang bertujuan untuk meningkatkan debit air bagi kepentingan operasional dua Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Kegiatan itu akan mengeluarkan sekitar 2,5 juta meter kubik material pasir dan lumpur dari dasar sungai sepanjang 12,8 kilometer.(bud)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.