Angka Kematian Ibu Melahirkan di Parimo Masih Tinggi

- Periklanan -

Ilustrasi (@jabar.pojoksatu.id)

PARIMO-Bupati Parigi Moutong (Parimo), Samsurizal Tombolotutu memberikan penilaian rapor merah kepada Kepala Dinas (Kadis) Kesehatan, dr Revi Tilaar.

Penilaian itu disebabkan masih tingginya angka kematian bayi dan ibu saat melahirkan di Kabupaten Parimo. Bahkan menurut Samsurizal, angka kematian bayi dan ibu melahirkan itu merupakan yang tertinggi di Provinsi Sulawesi Tengah.

“Ini rapor merah bagi Kepala Dinas Kesehatan. Namun karena dr Revi baru setahun menjabat sebagai Kepala Dinas Kesehatan, maka saya masih memberikan kesempatan kepada saudara untuk melakukan pembenahan-pembenahan. Angka kematian bayi dan ibu melahirkan di Kabupaten Parigi Moutong masih diatas target provinsi maupun nasional. Saya harap tahun depan tidak ada lagi penilaian rapor merah untuk Dinas Kesehatan. Ini PR bagi dr Revi,”ujar Samsurizal ketika menyampaikan sambutan pada acara Musrenbang RKPD di aula rumah sakit Anuntaloko baru-baru ini.

Terkait hal itu, Samsurizal meminta agar persoalan angka kematian bayi dan ibu saat melahirkan ditangani secara serius sehingga predikat terburuk di bidang kesehatan yang disandang Kabupaten Parimo dapat dihilangkan.  Samsurizal meminta Kepala Dinas Kesehatan bersama jajarannya turun langsung ke bawah untuk menangani persoalan yang menjadi penyebab masih tingginya angka kematin bayi dan ibu melahirkan di Kabupaten Parimo.

- Periklanan -

“Saya minta tolong dr Revi lebih banyak turun ke lapangan. Demikian pula para kepala rumah sakit di Parigi, Tinombo dan rumah sakit Moutong saya minta meningkatkan pelayanannya agar angka kematin bayi dan ibu melahirkan yang dirawat di rumah sakit bisa ditekan,”tegasnya.

Sementara itu sebelumnya Kepala Dinkes Parimo, dr Revi Tilaar mengatakan, untuk mengatasi angka kematian bayi dan ibu melahirkan tersebut untuk jangka pendek pihaknya akan melakukan srceening (penyaringan) risiko-risiko tinggi baik terhadap ibu hamil maupun terhadap bayi yang akan dilakukan oleh dokter ahli yang akan turun ke Puskesmas-Puskesmas.

Upaya lain kata Revi, pihak Puskesmas akan memberdayakan pos yandu dan melakukan kunjungan ke rumah-rumah penduduk untuk melakukan penyuluhan kesehatan khususnya soal risiko tinggi ibu hamil dan bayi serta melakukan pendekatan-pendekatan kepada pemerintah desa termasuk RT dan RW tentang kiat-kiat menurunkan angka kematian bayi dan ibu melahirkan serta meningkatkan harapan hidup.

Menurutnya beberapa faktor yang menjadi penyebab kematian ibu saat melahirkan adalah, terlambat mengambil keputusan untuk merujuk pasien ke rumah sakit, terlambat masyarakat mengenal risiko tinggi bagi ibu hamil, terlambat penanganan di rumah sakit dan kekurangan darah.

“Dalam penanganan ibu yang akan melahirkan harus ada koordinasi yang cepat antara masyarakat dengan bidan, pihak Puskesmas dan pihak rumah sakit sehingga ketika pasien harus dirujuk ke Puskesmas atau Rumah Sakit, semuanya sudah siap mengantisipasinya termasuk kebutuhan darah bagian pasien bila terjadi pendarahan,” jelas Revi

Dia berharap dengan berbagai upaya itu akan menurunkan angka kematian bayi dan ibu melahirkan di Kabupaten Parimo. (aji)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.