Anggota ACT Alliance Indonesia Bersinergi Aksi Kemanusiaan di Sulteng

Mendorong Peran dan Kapasitas Daerah Mencapai Ketangguhan Bencana

- Periklanan -

PALU – Sudah selama dua tahun anggota ACT Alliance di Indonesia, yaitu Church World Service (CWS), Persekutuan Pelayanan Kristen untuk Kesehatan di Indonesia (PELKESI) dan YAKKUM Emergency Unit (YEU), telah memberikan layanan kemanusiaan bagi masyarakat terdampak gempa, tsunami dan likuefaksi di 58 desa di Kota Palu, Kabupaten Sigi dan Kabupaten Donggala. Saat ini proses pemulihan masih berjalan dengan harapan menciptakan masyarakat yang lebih mampu menghadapi dan mengelola bencana di masa mendatang.

Infokom PELKESI Dina dalam presskonfrens melalui daring, Senin (12/10) menjelaskan, gempa berkekuatan 7,5 skala Richter pada tanggal 28 September 2018 di Sulawesi Tengah, Indonesia, memiliki konsekuensi yang sangat menghancurkan, karena memicu tsunami dan fenomena likuefaksi di kawasan pesisir Kota Palu. Lebih dari 4.300 orang dilaporkan meninggal, lebih dari 200.000 orang terpaksa mengungsi dan hampir 70.000 rumah hancur. Fase penanggulangan bencana darurat dilakukan guna memberikan bantuan dasar hidup bagi penyintas bencana, seperti intervensi pengelolaan penampungan darurat, pemenuhan kebutuhan dasar kesehatan, air bersih, perlengkapan kebersihan dan sanitasi, perbaikan infrastruktur dan layanan publik.

- Periklanan -

Kata Dina lagi, pengalaman di awal masa tanggap darurat, ketiga lembaga merancang kegiatan respons untuk bisa memenuhi kebutuhan penyintas, serta melakukan koordinasi dengan pemerintah lokal, klaster dan pemerintah pusat, terkhusus dengan CWS telah memiliki perjanjian kemitraan dengan Kementerian Sosial Republik Indonesia (Kemsos). “Dalam pelaksanaan lanjutan, baik CWS, PELKESI dan YEU mulai menjalin kemitraan dengan institusi lokal, seperti dengan kader kesehatan, Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas), serta organisasi lokal seperti Yayasan Dangau dan Yayasan Inanta yang bermitra dengan CWS,” jelasnya.

Dina menambahkan, memasuki masa pemulihan, ketiga organisasi mengarahkan prioritas kepada pembangunan peran dan kapasitas masyarakat di beberapa sektor kunci kesehatan, air bersih dan sanitasi, pemenuhan hunian dan mata pencaharian. Semua dilakukan melalui proses panjang sosialisasi, pelatihan, praktik dan pengawasan dengan lebih menggali perspektif pengurangan risiko bencana. (*/ron)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.