Aksi Teroris Di Masa Depan Semakin Canggih

- Periklanan -

JAKARTA – Sebanyak 32 Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) se Indonesia membahas kearifan lokal dan diyakini dapat mencegah paham radikal di era milinial.
Kegiatan yang dibuka sekretaris utama Marsekal Muda TNI Dr Asep Adang Supriyadi ST MM mewakili kepela BNPT Komjen Pol Suhardi Alius. Tampak hadiri Deputi I Pencegahan BNPT, Mayjend TNI Enri P Lubis, Direktur Pencegahan Brigjen Pol Hamli, dan kasubdit Pemberdayaan Masyarakat Dr H Intang Dulung MHi.

Dari penelitian Sestama BNPT Asep Adang Supriyadi, diketahui ada empat kota besar di Indonesia yang terpapar dan satu terbukti meledak (terjadi ledakan) yakni Kota Surabaya. ”Saya tidak sebutkan tiga kota yang lain. Nanti bapak bapak tidak mau tinggal di kota yang saya maksud,” tegas Sekretaris Utama (Sestama) BNPT Marsekal Muda TNI, Asep Adang Supriyadi saat memaparkan penelitiannya dihadapan pengurus FKPT se Indonesia di Jakarta (11/12).

- Periklanan -

Menurut jenderal bintang dua yang juga ahli penerbang itu, ke depan para teroris mungkin tidak lagi gunakan bom bunuh diri menggunakan panci atau bom di perut seperti bomber-bomber yang sudah terjadi, akan tetapi bisa gunakan drone atau pesawat tanpa awak yang kecil. Benda ini menjadi potensial sebagai alat pembunuh dan penebar ketakutan terhadap masyarakat.

Drone karanya, akan menjadi alat pengebom dan penghancur yang membuat cemas tanpa perlu ada teroris yang bunuh diri. “Harganya murah dan sangat mudah digunakan,” tegas Sestama BNPT Asep Adang Supriyadi.

Masih menurut Sestama, upaya penyelamatan masa depan anak-anak bangsa agar tidak terus menerus muncul ketakutan-ketakutan dan kengirian atas perbuatan para teroris itu.

“Sesuai etimologi, teror berasal dari bahasa latin terrere yang berarti menggetarkan atau membikin pihak lain gementar dan rasa ketakutan,” kata Asep.

Dengan makin canggihnya teknologi penghancur, katanya, haruslah semakin canggih juga kita menangkal dan mencegah terjadinya teror.

Di Indonesia, penanggulangan itu tidak saja ada dalam bentuk penindakan sebagaimana dilakukan antiteror seperti Densus 88, pasukan militer antiteror dan sebagainya, melainkan ada dua hal yang cukup berat yakni pencegahan dan deradikalisasi.

Pencegahan, kata Asep Adang Supriyadi, adalah upaya preventif untuk mencegah orang terpapar paham radikal. Radikalisme lebih banyak berakhir ke terorisme yang dipicu oleh para mentor teror. Para mentor teror ini dalam keseharian BNPT disebut tim inti yang merupakan orang-orang pemicu para radikalis agar mau ‘berjihad’ dan menjadi militan tanpa rasa takut.

Pencegahan dengan pendekatan soft approach memang sengaja dipilih untuk diterapkan di Indonesia. Ini merupakan salah satu program deradikalisasi yang terbaik di dunia,

Upaya pencegahan yang juga diupayakan BNPT adalah ‘melunakkan kembali’ hati para tokoh teroris yang sudah tertangkap dan dihukum serta para anggota keluarganya. “Banyak anak mantan teroris yang memendam dendam terhadap aparat keamanan dan ini sangat berpotensi untuk dipicu oleh para mentor teroris agar mereka melaksanakan dendamnya dengan melanjutkan aksi-aksi yang dilakukan oleh orang tua maupun almarhum orang tua mereka,” katanya.

Untuk semua itu katanya, tidak mungkin hanya dilakukan oleh BPNPT dan FKPT saja, melainkan memerlukan kerjasama yang dijalin dalam program sinergitas Kementerian/Lembaga. “Saat ini da 36 K/L yang terkoordinasi guna melakukan pencegahan terhadap radikalisme dan terorisme,” kata Sestama BNPT itu.

Sistem Informasi dan Monitoring Sinergitas Antar K/L (Simonsikat) pun akhirnya dilahirkan oleh Satuan Tugas yang diketuai oleh Sestama BNPT ini. Dalam Simonsikat ini tersaji apa saja yang bisa disentuh oleh anggaran K/L untuk membantu menurunkan tensi radikalisme bagi masyarakat yang terpapar dan para keluarga keluarga mantan teroris.

Selain menggalang sinergitas dengan K/L juga dilakukan sinergitas dengan pondok-pondok pesantren dan pendidikan keagamaan di berbagai daerah di Indonesia.
Sementara itu Kasubdit Pemberdayaan Masyarakat BNPT, Dr. Andi Intang Dulung MHi mengatakan bahwa sebagian dari upaya pencegahan itu diemban oleh Subdit Pemberdayaan Masyarakat melalui FKPT di 32 Provinsi. Tahun ini antara lain ke 32 FKPT di Indonesia sudah menyelesaikan sosialisasi kepada para penyuluh agama, pegiat media sosial, tokoh masyarakat, aparat desa, pemuda dan perempuan. “Tahun depan tetap akan dilaksanakan dan materinya terus ditingkatkan kualitasnya serta kelompok sasaran mungkin diperluas cakupan dan diperbanyak pesertanya,” kata Andi Intang Dulung. (Lib)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.