Portal Berita Online koran Harian Umum Radar Sulteng. Berbasis di Palu, Sulawesi Tengah dan merupakan Jaringan Media Jawa Pos National Network (JPNN)

Akan Tanam Bawang Merah dan Sayur-mayur

Bantuan Pembaca Pontianak Post Jadi Solusi 

SIGI – Giliran kelompok petani yang ada di desa Kotarindau dan Langaleso langsung bersemangat setelah mereka menerima bantuan sumur buatan dilengkapi mesin Alkon dari pembaca Pontianak Post,

Yayasan Bakti Suci dan dompet ummat pada akhir Juni lalu.

Adalah Ahmad Sholeh dan Syafii alias Pingi yang mewakili kelompoknya menerima bantuan sumur dilengkapi alat pompa air (Alkon). ”Terimakasih  telah membantu para petani di Kabupaten Sigi. Kami akan  gunakan semaksimal mungkin biar petani cepat bangkit. Semoga kebaikan pembaca Pontianak Post dibalas yang maha kuasa ,” kata Ahmad Sholeh yang ditemui Radar Sulteng, Sabtu (29/6).

 

Sholeh bersama Pingi biasa rekannya memanggil  tampak semringah begitu mesin alkon bisa menyedot air di lahan pertanian yang kering akibat gempa bumi dahsyat 28 September 2018 lalu. Kata Sholeh, lahan pertanian miliknya berjarak dengan lokasi likuifaksi desa Jonooge. Kecamatan Biromaru sekira 6-8 kilometer. ”Lokasi ini di bagian bawah dari tempat likuifaksi desa Jonooge,” katanya sambil menunjuk arah yang dimaksud.

 

Masih kata Sholeh dan Pingi, Program pembuatan sumur pompa pakai Alkon yang diprakarsai pembaca Pontianak Post dinilai tepat. Lahan yang lama tidak diolah dipastikan segera digarap. Bahkan mereka menyarankan Radar Sulteng untuk memantau perkembangan para  petani yang ada di Kecamatan Dolo tersebut.

”Saya akan tanam bawang merah. Kebetulan punya bibit siap tanam. Tanah di sini sangat cocok untuk sayur mayur dan palawija,” kata Sholeh.

 

Untuk membuat sumur pompa di desa Kotarindau dan Langaleso dibutuhkan pipa minimal 3 batang dengan kedalaman sekira 18 meter. Sedangkan di lokasi lain seperti dusun Solowe dibutuhkan sekira 4-5 pipa dengan kedalaman 24-30 meter.

”Setiap wilayah kedalaman sumur pompa berbeda-beda. Bahkan ada lokasi yang banyak mengandung pasir dan batu cara membuatnya harus pindah-pindah. Kalau gagal ya pindah lokasi,” ungkap Mohamad pembuat sumur asal Desa Bora Kabupaten Sigi kepada Radar Sulteng.

Sementara Pingi juga menjelaskan, setelah lahan pertaniannya bisa dialiri, pihaknya segera menanam tomat. Tanaman ini diyakini, Pingi tidak terlalu banyak membutuhkan air dan memiliki nilai jual yang bagus. ”Harga tomat di Palu mahal. Jadi saya mau tanam tomat biar segera merasakan hasilnya,” ungkapnya.

Selain tanaman tomat dan sayur- mayur yang harganya mahal di pasaran, juga bawang merah. Apa saja yang ditanam petani saat ini katanya, punya nilai ekonomis yang bagus. ”Mulai tanaman  jagung, cabe, tomat dan sayur- mayur (kankung dan bayam) harganya bagus di pasar,” tegasnya.

 

Sebelumnya Khairul Rahman perwakilan manajemen Pontianak Post yang datang langsung ke lokasi bencana mengatakan, program pembuatan sumur pompa (Alkon) dilakukan setelah pihaknya melakukan survei langsung ke wilayah Kabupaten Sigi. Luasnya lahan pertanian di kabupaten Sigi pasca terjadinya musibah gempa bumi menjadi lahan tidur akibat kekeringan. Satu-satunya sumber air dari Irigasi Gumbasa tidak bisa lagi berfungsi akibat rusak berat. Sepanjang jaringan irigasi terbelah-belah dan membutuhkan waktu lama untuk perbaikan.

”Atas usul dan masukan para petani akhirnya pembuatan sumur pompa dilakukan agar para petani bisa menggarap kembali lahan miliknya,” demikian ungkap Khairul saat ditemui di Palu. (Ndr)

 

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.