alexametrics Akademisi : Data Semrawut Penyebab Lambatnya Penanganan Bencana – RADAR SULTENG
Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Akademisi : Data Semrawut Penyebab Lambatnya Penanganan Bencana

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

PALU – Penanganan bencana di Kota Palu, Sigi dan Donggala belum tuntas. Dua tahun berlalu, tapi masih menyisakan sejumlah persoalan. Akademisi Untad, Dr Irwan Waris MSi angkat bicara mengenai masalah ini. Kata dia, kesalahan penanganan bencana dua tahun lalu itu sebabkan pendataan yang dilakukan di awal-awal. Menurutnya, pemerintah daerah sangat tidak siap dengan kondisi yang ada. Hal itu terbukti setiap instansi yang memiliki pegangan data masing-masing.

Padahal sambungnya, jika ada sinkronisasi data, bisa saja penanganan bencana bisa terasa lebih cepat.
Irwan menjelaskan, di awal-awal bencana, pemerintah pusat langsung menyiapkan anggaran untuk membantu penyintas. Hanya saja dalam penyalurannya, memang membutuhkan data yang valid dan akurat, bukan data rekayasa.

“Masalahnya sekarang yang kita lihat itu, data seringkali berbeda-beda. Sehingga pihak pusat bingung, data mana yang kita mau pegang. Memang ada carut-marut. Nah kebiasaan kita di daerah kalau saya lihat, kalau mendapatkan bantuan, data yang mau dibantu itu, bengkak,” kata Irwan Waris.

Pembengkakan data ini kata dia yang dikhawatirkan dan membuat proses lebih lama. Karena saat diverifikasi, jumlah yang didata tidak sesuai dengan data pegangan awal. Sehingga selalu mengalami pengulangan dan membuat prosesnya semakin lama dan panjang. Dia mengungkapkan, dalam pendataan untuk bantuan seperti ini, tidak bisa dipungkiri seringkali disisipi “bandit” yang memanfaatkan situasi untuk menggelembungkan data.

“Sebetulnya, kalau mau bagus, data itu hanya ada satu. Kenapa tidak menugaskan Badan Pusat Statistik (BPS), jadi semua instansi mengambil data dari BPS. Tinggal BPS diberi data untuk mendata. Jadi misal butuh data bencana, minta ke BPS. Pasti valid. Tapi ini berbeda-beda,” jelasnya.

Irwan Waris juga menyoroti beberapa pembangunan yang sebenarnya tidak prioritas. Baru-baru ini, Pemkot membangun patung Presiden Pertama RI, Ir Soekarno. Selain itu, Pemkot juga sedang merenovasi Taman Kota yang berada di depan Gedung Juang. Diakuinya, pemerintah juga harus memerhatikan pembangunan pascabencana. Untuk mendorong ekonomi masyarakat kembali normal. Namun di satu sisi, pembangunan yang dilakukan harusnya hanya yang masuk skala prioritas saja.

“Perlu ada skala prioritas. Pemerintah membangun harus ada skala prioritas. (Jangan) hanya karena mau dilihat. Sementara kita ini lagi susah,” terangnya.

Akademisi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Untad itu mengungkapkan, dari kacamatanya, selama dua tahun ini sudah kelihatan progres penanganan bencana meski agak lambat. Dia menyarankan, pemerintah saat ini harusnya fokus pada penuntasan Huntap bagi seluruh penyintas yang berhak mendapatkan Huntap. Baru selanjutnya, melakukan pemberdayaan masyarakat yang sedang berada di Huntap untuk diberi pelatihan sehingga dapat mandiri.

“Sehingga mereka (penyintas) bisa keluar dari persoalannya,” pungkasnya. (saf)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.