alexametrics Ada Rasa Risih dan Malu – RADAR SULTENG
Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Ada Rasa Risih dan Malu

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Oleh : Muhammad Khairil

MENARIK untuk memetik hikmah dari banyak diam dan menunjukan kerja daripada sekedar banyak bicara terlebih menyalahkan orang lain. Seolah dengan banyak bicara, inilah kerja. Ironis, andai mereka yang bekerja dalam diam, dinilai seolah tak bekerja.

Ibarat penonton dan pemain bola. Mereka yang hanya selalu duduk di bangku penonton, akan mudah berteriak dan menyalahkan pemain. Sebaliknya, bagi pemain, tentu karena mereka pemain maka yang bermain bukanlah mulut mereka tapi permainan mereka.

Andai para penonton ini diberi kesempatan untuk bermain, maka para pemain yang sesungguhnya mungkin melihat para penonton yang bermain ini tak lebih dari seorang “badut” yang lucu karena tidak paham pola permainan. Ironisnya, sudah duduk di bangku penonton masih saja tetap mereka merasa benar, merasa hebat dan seolah olah paling pandai bermain.

Inilah memang kelas penonton. Tentu sangat beda dengan kelas pemain. Pemain yang bijak akan paham bahwa karena kelas mereka adalah penonton, maka tak apalah andai mereka selalu berteriak dan menyalahkan pemain. Para pemain akan maklum bahwa namanya juga kelas penonton, mereka tidak akan bisa jadi pemain maka biarkanlah mereka mengambil peran sebagai seorang penonton.

Teringat sebuah cerita tentang seorang pasien di rumah sakit jiwa yang merasa dirinya telah meninggal. Maka ia lalu datang ke dokter dan berkata pada sang dokter. Dokter, saya ini sudah meninggal. Saya sudah jadi mayat. Dokter pun bingung bagaimana meyakinkan sang pasien agar ia merasa tetap hidup.

Sang dokter pun bertanya ke pasien, apakah saudara tahu kalau orang yang sudah meninggal itu tidak mengeluarkan darah lagi ? Ia dok, saya tahu bahwa mayat itu tidak lagi mengeluarkan darah. Lalu secara spontan sang dokter pun menusukan jarum suntik ke jari sang pasien. Jari itu pun mengeluarkan darah.

Rasa puas terpancar pada raut wajah sang dokter karena merasa seolah olah dia telah berhasil meyakinkan pasiennya. Dokter pun berkata, bagaiman, anda masih hidup kan ? Buktinya masih mengeluarkan darah.
Secara tak terduga pasien itu pun tersenyum dan dengan wajah layaknya pasien sakit jiwa lalu berkata, “betul dok, saya baru tahu sekarang ternyata mayat itu juga berdarah. Terima kasih, akhirnya saya sudah sadar bahwa saya ini sudah jadi mayat yang mengeluarkan darah”.

Cerita ini mengisyaratkan betapa sulit meyakinkan seseorang yang dalam pikiran dan hatinya hanya ada “merasa paling benar”. Apapun ragam perspektif yang ada, ia hanya selalu merujuk pada kebenaran dirinya sendiri. Ini akan senada dengan mereka yang selalu menggunakan istilah “pokoknya”. Pokonya saya benar dan anda salah. Bagaimana pun kita menjelaskan perspektif kebenaran, akan selalu tertolak dan hanya dirinya sendiri yang seolah “maha benar”.

Sungguh mengesankan andai orang orang yang selalu bersikap kritis, tetap terbuka dengan segala perbedaan. Rasanya kita penuh hormat pada mereka yang menyuarakan ide dan pikirannya namun juga menjadi teladan dengan contoh yang ada pada dirinya sendiri. Orang kritis yang “berisi”, selalu memiliki kedalaman ilmu dan pengetahuan, umunya jadi teladan dan panutan dimulai dari dirinya sendiri.

Sebaliknya, orang yang bersuara nyaring seolah kritis dengan menyalahkan orang lain, termasuk selalu membuka aib saudaranya sendiri, tak ubah tong kosong berbunyi nyaring. Sulit bercermin pada diri sendiri. Seolah mereka bagai sempurna hanya dengan modal kritis tapi krisis teladan.

Menarik apa yang pernah ditulis oleh sang guru besar, Prof. Deddy Mulyana, M.A., Ph.D yang sempat menjadi perhatian dan viral dalam artikelnya berjudul “Hantu Scopus” dimuat pada harian Kompas, 21 Februari 2017 silam. Secara kritis Prof. Deddy menuliskan : Paradigma pemeringkat universitas seperti Webometrics,QS World University Ranking dan QS Stars bersifat “entosentrik” yang menekankan keseragamanan alih-alih keunikan universitas. Selama karya ilmiah harus berbahasa inggris, bukan bahasa Melayu atau bahasa Indonesia.

Sampai kiamat kita tak akan mampu menyaingi universitas yang sudah berabad-abad menggunakan bahasa Inggris. Kita bahkan sulit menyaingi produktivitas ilmiah Malaysia dan Singapura yang lebih menguasai bahasa Inggris.Tujuan utama universitas adalah menghasilkan lulusan yang diserap pasaran kerja dan berkontribusi terhadap pembangunan bangsa,tak peduli apakah universitas itu berkelas dunia atau inrternasional.Bukankah tujuan akhir pendidikan adalah kemaslahatan umat manusia?

Bahkan lebih lanjut Prof. Deddy menuliskan bahwa : Keharusan guru besar dan lektor kepala menulis karya ilmiah di jurnal bereputasi dilatarbelakangi keinginan pemerintah dan universitas untuk menjadi world class university. Padahal, pemeringkatan universitas cenderung ideologis dengan parameter obyektif-kuantitatif dan syarat khusus tak tertulis (seperti dana yang besar) yang belum tentu bisa dipenuhi universitas kita.

Walau Prof. Deddy menyuarakan secara kritis tentang nilai dan kualitas dari sebuah publikasi international namun Ia menjadi contoh dan teladan. Silahkan membuka profil Guru Besar di bidang Ilmu Komunikasi ini dan kita akan berdecak kagum dengan karya karya Ilmiah sang maha guru.

Namun miris dan ironis, bahkan ada rasa risih dan malu andai ada saja orang yang seolah kritis menyoal publikasi Ilmiah padahal mereka “miskin” publikasi. Sungguh jauh dari teladan, andai ada segelintir orang yang seolah “hebat” dengan menyalahkan publikasi orang lain tapi mereka sendiri tidak punya publikasi yang bisa dibanggakan. Lalu teladannya dimana ?

Menutup artikel ini, dengan kita coba merenungkan apa yang terukir pada batu nisan sang legend, Anglican, puluhan tahun silam, di Westminster Abbey. Ia lalu berkata “When I was young and free and my imagination had no limits, I dreamed of changing the world. And now as I lay on my deathbed, I realize: If I had only changed myself first, then by example I might have changed my family. From their inspiration and encouragement, I would then have been able to better my country and who knows. I may have even changed the world”.

Kata kunci dari apa yang diungkap oleh Anglican adalah If I had only changed myself first. Apabila aku mengubah diriku sendiri, maka mungkin saja I may have even changed the world. Aku akan mampu mengubah dunia.
Olehnya, mimpi itu kita bangun dan kita wujudkan dari diri sendiri. Bagaimana mungkin kita berpikir mengubah dunia, andai diri kita saja sulit kita ubah. Bagaimana mungkin bisa mengubah negeri ini, andai kita masih krisis teladan.

Bagaimana mungkin kita ingin mengubah kota ini, andai kata dan perbuatan tak seiring jalan. Bagaimana mungkin seolah kita berteriak lantang mengubah sebuah kampus, andai kita selalu saja saling menyalahkan dan merasa diri paling benar.

Semoga masih ada rasa risih dan malu, untuk bisa menjadi teladan bagi diri sendiri. Mimpi boleh melambung ke langit, namun tetap berpijak pada bumi. Satukan kata dalam sikap, satukan tutur dalam santun. Terus berkarya, sebagai wujud kita peduli kampus.

*) Penulis adalah Dosen Pada Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP UNTAD.

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.