Bocah Gizi Buruk di Tenda Pengungsian

Usia 1 Tahun, Berat Badan 7 Kg, Butuh Susu dan Asupan Gizi

- Periklanan -

PALU – Lima bulan berlalu pascagempa, tsunami dan likufaksi 28 September 2018 yang melanda Kota Palu, Donggala, Sigi dan Parigi Moutong permasalahan di pengungsian, khususnya pada Balita kian memprihatinkan.
Salah satunya, Novia bocah yang berusia 1 tahun 10 bulan, yang tinggal di tenda pengungsian lapangan golf Jalan Martadinata Kelurahan Talise Kecamatan Mantikulore yang diduga mengalami gizi buruk.
Asnida (41) ibu dari Novia yang ditemui Radar Sulteng di tenda pengungsian, Kamis sore (21/3) mengaku, mengetahui jika anaknya mengalami gizi buruk setelah dokter yang pernah melakukan pemeriksaan di tenda pengungsian mengatakan bahwa anaknya mengalami gizi buruk. Hingga saat ini anaknya tidak seperti anak seusianya yang sudah lincah berjalan. Kaki anak bungsunya itu lemah dan tidak bisa berdiri lama atau berjalan lebih jauh. “Mungkin pengaruh gizi buruk makanya kakinya tidak kuat berdiri lama,” tuturnya sambil mengayun anaknya yang pulas di dalam ayunan sarung itu.
Menurut Ibu empat anak ini, berat badan anaknya saat ini hanya sekitar 7 kilo gram. Di usianya yang memasuki dua tahun dengan berat badannya seperti itu dikategorikan gizi buruk. Hal itu mungkin karena saat ini susu maupun asupan gizi kurang diberikan, sehingga memengaruhi kemampuan anaknya untuk bisa berdiri lama. “Pernah diperiksa dokter, kata dokter dengan berat badan anak saya cuma 7 kilo gram tergolong gizi buruk,” ujarnya.
Menurutnya, sebelum terjadi bencana gempa, kondisi anaknya terlihat lebih sehat dan lebih kuat berdiri lebih lama. Sejak tinggal di tenda pengungsian, lama kelamaan kaki anaknya menjadi lemah dan tidak bisa berdiri terlalu lama. “Bisa jadi karena kurang asupan gizi,” katanya.
Mau bagaimana lagi, Asnida mengaku juga tidak bisa berbuat banyak, agar anak bungsunya itu bisa mendapat susu dan asupan gizi yang layak. Dia hanya bisa berharap pemerintah maupun relawan bisa membantu anaknya dan beberapa anak-anak Balita lainnya yang ada di pengungsian. “Ada banyak anak-anak Balita disini. Kasian juga kalau tidak ada susu. Terpaksa dikasihkan teh manis atau air gula saja, daripada tidak ada,” ujarnya.
Menurut Asnida lagi, sebelum-sebelumnya tiga bulan pascagempa, bantuan susu masih lancar dibagikan. Sekarang tidak ada lagi. Untuk membeli susu dan asupan gizi tidak memiliki uang, karena tidak lagi memiliki pekerjaan. Usaha jualan barang campuran habis diterjang tsunami bersamaan dengan rumahnya di Jalan Kampung Nelayan. Untungnya, dari pihak Puskesmas juga masih membantu memberikan asupan gizi atau makanan jadi seperti, bubur, ikan dan sayuran untuk anaknya yang menderita gizi buruk. Hanya saja sudah dua hari bantuan asupan gizi terhenti. “Susu balita kan mahal pak. Suami belum dapat pekerjaan tetap, hanya kumpul-kumpul besi tua. Mau tidak mau anak-anak dikasih teh manis atau air gula, kalau tidak ada, tinggal air galon saja dikasih minum,” ujarnya.
Senada dengan itu, Ichal pengungsi lainnya yang juga di lokasi lapangan golf mengaku, selain bantuan kebutuhan susu dan makanan balita, yang terpenting bagi mereka adalah tempat Hunian Sementara (Huntara) yang hingga kini belum juga mereka dapatkan. “Sudah terlalu lama kami hidup ditenda. Kami juga ingin cepat-cepat bisa pindah ke Huntara seperti pengungsi lainnya. Kasian anak-anak dan ibu-ibu. Apalagi istri saya sekarang sedang hamil tua,” katanya.
Sampai saat ini kata pria bertubuh mungil itu, untuk bantuan sembako masih ada diberikan dari pemerintah, sehingga juga sangat membantu warga pengungsian. Pemeriksaan kesehatan juga sebelumnya rutin, saat ini sudah hampir seminggu pemeriksaan kesehatan tidak ada lagi. “Memang yang sudah hampir tidak pernah ada lagi bantuan susu anak-anak. Anak-anak yang ada di pengungsian rata-rata tinggal minum teh manis dengan air gula saja,” pungkasnya. (ron)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.