Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

40 Pasangan Ikut Nikah Massal di KUA Palu Selatan

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

PALU– Sebagai tindak lanjut imbauan dan seruan dalam rangka Hari Amal Bakti (HAB) ke-72 Kementerian Agama 2018, Kantor Urusan Agama Kecamatan Palu Selatan melaksanakan kegiatan nikah massal yang diikuti sebanyak 40 pasang pengantin, Kamis (4/1).

Salah satu pasangan yang dinikahkan pada nikah massal, Kamis (4/1). (Foto; Mugni Supardi)

Tidak terdaftarnya pernikahan di KUA juga menjadi salah satu faktor diprogramkannya nikah massal. Sebab, setelah dilakukan monitoring di Palu Selatan, masih banyak yang tidak terdaftar atau pernikahan yang tidak diakui oleh negara. Sehingga dengan adanya nikah massal dapat melegalkan dan mengesahkan kembali pernikahan tersebut.

“Intinya sesungguhnya dilakukan nikah massal ini adalah untuk membantu masyarakat kita yang mau menikah agar sesuai dengan aturan dan perundang-undangan yang berlaku, karena itu selaku Kepala Kementerian Agama Kota Palu itu sangat-sangat mengapresiasi program yang dilakukan oleh Kantor Urusan Agama Palu Selatan ini,” ungkap Kepala Kementerian Agama Kota Palu Drs H Ma’sum Rumi MM ditemui setelah menjadi saksi nikah dalam nikah massal.

Ia menambahkan, jika pernikahan yang pernah terjadi namun tidak terdaftar oleh negara itu layak untuk dilakukan isbat nikah oleh pengadilan agama. Namun kekhawatirannya ialah proses isbat harus memenuhi beberapa persyaratan, salah satunya adalah saksi jelas saat dilakukan pernikahan tersebut akan dipanggil oleh pengadilan, dan untuk mendatangkan saksi terkadang dianggap sulit.

“Sehingga ketika secara aturan dan perundang-undangan tidak bisa di-isbat maka dilakukan pernikahan massal seperti yang dilakukan hari ini, tetapi idealnya, sesungguhnya perkawinan yang pernah terjadi tidak terdaftar di negara harus di-isbat nikah oleh pengadilan agama,” terangnya.

Contoh kasus imbuhnya, di Kecamatan Palu Barat, setelah turun bersama-sama antara pihak pemda dengan KUA maupun pengadilan agama turun ke daerah-daerah pegunungan, terdapat masih sangat tinggi jumlah pasangan nikah hanya secara adat. “Itu setelah dilakukan wawancara ketidaklayakan untuk dilakukan isbat, pihak pengadilan mengalihkan untuk dilakukan nikah massal,” tuturnya.

Kepala KUA Palu Selatan Dr H Haerolah Muh Arif SAg MHi mengatakan, 10 hari sebelum dilakukan nikah massal sudah dilakukan pemeriksaan berkas. “Di situlah ketahuan, ini kami dulu menikah siapa yang jadi walinya, ow saya punya om, kaka ade dengan saya punya mama, loh bagaimana itu tidak sah karena secara walinya, maklumlah mereka di atas itu tidak tau kan dia pikir orang yang dekat dengan dia sudah dia anggap wali, padahal secara garis keturunan tidak boleh sehingga dilakukan nikah massal,” ungkapnya.

Nikah massal yang disaksikan Kepala Kemenag Kota Palu, kepala KUA Palu Selatan dan sejumlah penghulu tersebut berhasil menikahkan sejumlah pasangan dengan berbagai usia mulai usia 20-an hingga 70-an dengan berbagai latar belakang pendidikan, selain itu pula terdapat pasangan yang pendamping perempuannya baru saja menjadi seorang mualaf. (cr6)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.