alexametrics 2021, Tahun Kelam Jurnalis di Sulawesi Tengah – RADAR SULTENG
Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

2021, Tahun Kelam Jurnalis di Sulawesi Tengah

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

PALU – Tahun 2021 situasinya belum benar-benar berpihak pada jurnalis. Kebebasan pers dan kesejahteraan ditambah keselamatan jurnalis pada tahun ini benar-benar sedang diuji. Kekerasan yang terus dialami oleh wartawan yang menjalankan tugas-tugas jurnalistiknya, masih terus dialami wartawan.

Di sisi lain kesejahteraan wartawan belum benar-benar berpihak pada wartawan. Pada tahun 2021, isu kebebasan pers dan kesejahteraan ditambah lagi dengan keselamatan jurnalis mengingat pandemi Covid-19 yang menyebabkan sedikitnya 19 jurnalis terpapar. Beberapa di antaranya, harus isolasi mandiri bahkan ada yang di rumah sakit.

Bagi AJI Palu tiga hal ini perlu mendapat perhatian – jika ingin mewujudkan pers yang merdeka, bebas dan bertanggungjawab. Fenomena ini memberikan ilustrasi yang tidak menggembirakan tentang apa yang dihadapi jurnalis di daerah ini pada 2021. Karena itu AJI Palu menyebut ini tahun sebagai salah satu fase kelam bagi jurnalis di Sulawesi Tengah.

Koordinator Divisi Organisasi, Data dan Informasi AJI Palu, Abdul Rifai, mengatakan pada tahun 2021, serangan terhadap jurnalis masih terus terjadi. Pelakunya bervariasi. Mulai dari aparat kepolisian, aparat pemerintah hingga pengacara. AJI Palu mencatat dari sejak Januari – Desember 2021, tercatat lima kasus kekerasan wartawan. Serangan terhadap kebebasan pers dilakukan dengan cara beragam. Mulai dari pemukulan, perampasan alat kerja/intimidasi hingga ancaman pemidanaan karya-karya jurnalistik – tanpa menempuh mekanisme penyelesaian sengketa jurnalistik.

Kekerasan yang dialami jurnalis antara lain, Nur Saleha (Tribun Palu.com) dilarang mengabadikan suasana saat kerumunan warga. Ancaman pemidanaan wartawan di Buol, kasusnya sedang berjalan. Kemudian, somasi oleh pejabat di Parigi Moutong terhadap Thomy Noho atas tulisan di media kompasulawesi. Kini kasusnya stagnan. Kekerasan berikutnya, dialami wartawan kabarselebes.com Alshie Marcelina. Ia dipukul oleh anggota polisi – saat sedang meliput demonstrasi ‘reformasi dikorupsi’ di Palu. Melalui perantaraan ORI Sulteng, kasus berakhir damai, antara Alshie dan Kapolres Palu. “Terakhir, perampasan alat kerja wartawan terhadap TV One atas nama Andi Baso Hery di Luwuk Banggai. Kasus ini berakhir damai,” jelas Abdul Rifai.

Selain serangan terhadap jurnalis, keselamatan jurnalis di lapangan harus mendapat perhatian serius. AJI Palu mencatat, pada 2021, gelombang pandemi Covid-19 bersamaan dengan merebaknya varian delta, banyak wartawan yang terpapar. Yang berhasil dicatat 19 orang di Palu. Dan enam orang di Kabupaten Luwuk Banggai. Total wartawan yang terkena Covid-19 sebanyak 21 orang.

“AJI Palu dengan organisasi wartawan lainnya, menggalang dana untuk menangani kawan-kawan yang terpapar tersebut. Mulai dari menyiapkan rumah isolasi, menyuplai vitamin, menyiapkan oksigen dan membagikan sembako. AJI Palu bersama aliansinya, tak hanya menangani wartawan yang berasal dari AJI Palu. Namun juga dari asosiasi di luar AJI Palu,” terang Rifai.

Isu lain yang tidak kalah penting, yakni terkait kesejahteraan jurnalis, menjamurnya media di era digital, membuat kesejahteraan jurnalisnya menjadi persoalan serius yang harus diperhatikan. AJI Palu berpendapat, salah satu standar profesionalitas jurnalis adalah dengan mendapatkan upah layak dari perusahaannya. Dengan demikian independensi tetap harus terjaga sebagai gerbang terakhir yang menjamin pers mampu menjalankan fungsinya sebagai penyanggah keempat demokrasi di daerah ini. AJI Palu berpendapat, tiga hal tersebut diatas adalah jaminan kemerdekaan pers di daerah ini.

Berdasarkan hal-hal tersebut, AJI Palu meminta kepada para pihak yang berkompeten untuk ; menghentikan kekerasan terhadap jurnalis. Bagi AJI Palu, menyerang jurnalis atau pemidanaan karya jurnalistik adalah serangan terbuka terhadap kebebasan pers.

Mendesak kepada parapihak, menempuh mekanisme penyelesaian sengketa jurnalistik jika terdapat karya jurnalistik yang memenuhi standar atau norma kode etik jurnalistik. Tidak melakukan pemidanaan terhadap wartawan. Kemudian, jurnalis adalah individu yang merdeka. Karenanya tidak bisa dieksploitasi dengan membiarkannya tidak mendapat perlindungan dari perusahaan tempatnya bekerja, jika sewaktu-waktu mendapat musibah. (sakit – terpapar Covid-19)
“Meminta kepada perusahaan media, memberikan upah layak kepada setiap jurnalisnya,” tegasnya.

Empat poin sikap AJI Palu, tersebut sejalan dengan UU Nomor 40/1999 tentang pers. Bahwa pers memegang mandat publik untuk menyampaikan informasi, tidak boleh dikriminalisasi karena karena karya jurnalistiknya. Perusahaan media setidaknya berpedoman terhadap standar upah pemerintah – (jika tidak mampu memberikan upah layak) kepada jurnalisnya. (*/agg)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.